Indonesia Pasti Baik-Baik Saja

Ichwan Prasetyo - Dokumen Solopos
24 Agustus 2018 13:54 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (20/8/2018). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Optimisme saya menguat. Saya yakin selama kaum muda dan kaum tua di Indonesia bersatu padu seperti mereka Indonesia selalu baik-baik saja. Indonesia pasti selalu mampu melewati aneka ujian, yang datang dari luar maupun (terutama) yang datang dari dalam.

Mereka adalah jaringan penggerak Gusdurian se-Indonesia yang berkumpul dalam acara Temu Nasional Jaringan Penggerak Gusdurian 2018 di Asrama Haji Yogyakarta pada Jumat hingga Minggu 10-12 Agustus lalu. Saya diundang hadir di acara itu. Saya berkesempatan hadir pada Sabtu, 11 Agustus lalu.

Selama sehari penuh saya berkumpul bersama mereka. Di situlah optimisme saya menguat, bahwa Indonesia baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Di acara itu saya bertemu para pemuda dan sebagian kaum tua, laki-laki dan perempuan, yang jadi simpul-simpul penggerak komunitas Gusdurian di Indonesia.

Saya bertemu dan mengobrol dengan penggerak komunitas Gusdurian dari Sumenep, dari Tual, dari Maros, dari Aceh, dan dari berbagai wilayah Indonesia. Di antara mereka juga hadir penggerak komunitas Gusdurian dari Kualalumpur, Malaysia dan dari Teheran, Iran.

Mereka bertemu bukan untuk mengultuskan Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid), bukan untuk memuja Gus Dur, bukan sekadar mengingat-ingat Gus Dur. Mereka hadir dan berkumpul untuk mengelaborasi pemikiran dan praksis Gus Dur dalam memberdayakan, menjaga, dan membangun Indonesia.

Mereka mengalaborasi sembilan nilai utama pemikiran dan praksis Gus Dur, yaitu ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesedarhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Sembilan nilai-nilai ini memang mendominasi acara tersebut.

Ketika sesi pemaparan kesuksesan beberapa simpul komunitas Gusdurian di Indonesia, seperti Malang, Purbalingga, dan Makassar, sembilan nilai-nilai itulah yang menjadi pedoman beraktivitas. Nilai ketauhidan tampak jelas didukung oleh nilai-nilai yang lain.

Ketauhidan yang dijadikan pedoman beraktivitas melintas batas identitas keimanan, melintasi identitas agama-agama. Pada sesi makan siang, Sabtu, saya semeja dengan para aktivis komunitas Gusdurian dari Madura, Jakarta, Solo, Jombang, laki-laki dan perempuan.

Beragam

Tak semua mereka adalah muslim. Saat sesi berdoa sebelum makan ada yang membaca doa ala umat Islam, ada yang membentuk gerakan salib ala umat kristiani, dan ada yang membaca doa ala umat Konghucu.

Suasana itulah yang membuat saya kian yakin bahwa Indonesia pasti baik-baik saja. Sesi yang saya ikuti secara intensif adalah sesi diskusi kelompok terpumpun yang membahas media sosial dan media daring yang dikelola jaringan komunitas Gusdurian. Saya diundang hadir sebagai jurnalis pers arus utama.

Sebelum acara temu nasional ini setahun sebelumnya saya hadir dalam diskusi kelompok terpumpun khusus jurnalis pers arus utama yang difasilitasi Sekretariat Nasional Gusdurian di Solo. Mungkin saya diundang dalam temu nasional ini karena pernah terlibat dalam acara di Solo itu.

Sebagai jurnalis yang ”bukan organik” Gusdurian, saya memahami dan meyakini sembilan nilai-nilai Gus Dur itulah yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Sembilan nilai-nilai Gus Dur itu tentu bukan hanya milik para santri, juga bukan milik Nahdlatul Ulama yang merupakan tempat Gus Dur beraktivitas.

Sembilan nilai-nilai itu adalah milik warga bangsa ini. Itu terlihat nyata dari beragamnya unsur-unsur pribadi maupun kelembagaan yang berhimpun dalam Gusdurian. Seorang perempuan pendeta dari Purbalingga aktif di komunitas Gusdurian sejak awal komunitas itu muncul di Purbalingga sekitar lima tahun lalu.

Ia kini menjadi salah seorang penggerak komunitas tersebut. Ia hadir di temu nasional itu sejak Jumat siang. Sembilan nilai-nilai itu dalam pembacaan dan pemaknaan saya adalah nilai-nilai universal yang seharusnya menjadi pedoman kita bersama sebagai warga bangsa Indonesia.

Sembilan nilai-nilai ini bisa dielaborasi oleh siapa pun warga bangsa ini, oleh komunitas apa pun, oleh lembaga apa pun, bahkan oleh yang belum pernah mengenal Gus Dur dan belum pernah bertemu Gus Dur. Ini setidaknya ditunjukkan oleh seorang mahasiswa Katolik asal Malang yang kini menjadi administrator akun media sosial milik komunitas Gusdurian di Malang.

Ia belum pernah bertemu Gus Dur, belum pernah mengenal Gus Dur secara langsung. Dia hanya mengetahui Gus Dur dari esai-esai dan buku-buku warisan Gus Dur. Dia mengaku nilai-nilai yang terkandung dalam warisan literer Gus Dur itu adalah nilai-nilai yang cocok dengan kasih dan jalan terang yang diajarkan agama yang dia anut.

Humor

Ketauhidan ala Gus Dur yang dielaborasi Gusdurian bersumber dari keimanan kepada Tuhan sebagai yang Maha Ada, satu-satunya Zat hakiki yang Maha Cinta Kasih, yang disebut dengan berbagai nama. Ketauhidan didapatkan lebih dari sekadar diucapkan dan dihafalkan, tetapi juga disaksikan dan disingkapkan.

Ketauhidan menghujamkan kesadaran terdalam bahwa Dia adalah sumber dari segala sumber dan rahmat kehidupan di jagat raya. Pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur melampaui kelembagaan dan birokrasi agama. Ketauhidan yang bersifat ilahi itu diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Kemanusiaan ala Gus Dur bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan.

Kemuliaan dalam diri manusia mengharuskan sikap  saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta. Dengan pandangan inilah, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat.

Dua nilai ala Gus Dur ini saja telah menunjukkan keuniversalan, bahwa itulah kesejatian manusia sebagai pribadi dan sebagai makhluk sosial. Kala dua nilai ini dipadukan dengan tujuh nilai lainnya dan dielaborasi oleh segenap warga bangsa ini, Indonesia segera menjadi bangsa besar dan disegani warga dunia.

Dalam diskusi kelompok terpumpun yang saya ikuti mengemuka kesimpulan narasi-narasi dan ujaran-ujaran kebencian yang hari-hari ini tersebar di kehidupan kita adalah problem bersama, bukan hanya problem umat Islam walau ujaran-ujaran kebencian itu mayoritas bersentimen Islam.

Dua narasi besar yang hendak diberdayakan untuk melawan ujaran kebencian itu adalah memberdayakan kearifan lokal bangsa Indonesia dan memberdayakan humor. Ya, humor. Bukankah Gus Dur adalah sosok humoris yang bisa menggunakan humor untuk menelaah apa saja dan mengurai persoalan apa saja?

Saya jadi mafhum kala di forum temu nasional itu semua perkembangan politik dan tingkah polah politikus menjadi bahan humor yang bikin perut kaku karena tertawa. Kebetulan forum itu terselenggara setelah partai-partai politik menentukan siapa calon presiden dan calon wakil presiden yang akan berlaga dalam pemilihan umum 2019.

Itu semua ternyata menjadi bahan humor yang mencerdaskan sehingga kita tak perlu ”spaneng”, tak perlu fanatik, tak perlu irasional dalam menelaah politik di negeri ini. Sebaiknya ketua lembaga wakil rakyat yang dalam sidang kenegaraan pada 16 Agustus lalu ”celometan” mengumbar sentimen politik itu bergaul dengan komunitas Gusdurian agar ”celometan” mereka bernilai humor tinggi, bukan malah menjadi ungkapan politik yang memuakkan seperti itu.

Tokopedia