Makin Terpuruk, Kurs Rupiah Tembus Rp14.661/US$

Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari
24 Agustus 2018 13:00 WIB Mia Chitra Dinisari Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -  Nilai tukar rupiah terhadap dolar makin terpuruk di level Rp14. 660 pada, Jumat (24/8/2018), pukul 11.26 WIB, atau di jeda siang.  Sebelumnya,  rupiah juga sempat menyentuh level Rp14. 661 pada pukul 09.34 pagi tadi. 

Sejumlah analis menyebutkan pelemahan rupiah tersebut disebabkan kekhawatiran terhadap hawkish Fed Rate. 

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan pelemahan tersebut disebabkan saat ini investor menanti hasil pertemuan bank sentral di AS terkait komentar mengenai suku bunga dan kondisi ekonomi. 

"Spekulasinya ekonomi ekspansi dan Jerome Powell tidak ragu buat lebih cepat menaikkan suku bunga, " kata Lanjar Nafi kepada Bisnis.com.

Karena itu, Nafi menyebut capital outflow di emering market deras mengimbangi risiko yang terjadi di negara berkembang. 

Nafi menambahkan berkaca pada krisis Turki kemarin yang mampu membuat mayoritas mata uang emerging market drop ke level terendah. 

Sementara itu Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail menyebutkan dalam riset hariannya di samuel. co. id menyebutkan pelemahan rupiah disebabkan penguatan dolar di sekitar level 95.50-96.0. 

Penguatan dolar, yang terjadi terhadap sejumlah mata uang utama dunia tersebut didorong oleh ketidakpastian terhadap isu perang dagang AS-China.

Pertemuan kedua belah pihak yang terjadi Kamis lalu tidak menghasilkan sesuatu yang berarti untuk menyelesaikan permasalahan perang dagang tersebut. Pascapertemuan, Yuan terdepresiasi semalam sebesar 0.53% ke level 6.87/US$.

"Pelemahan terhadap Yuan tersebut  berdampak terhadap pelemahan rupiah. Rupiah kemungkinan melemah ke level Rp14.600/USD-Rp 14.690/USD, " tulis risetnya.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan pelemahan rupiah disebabkan para pelaku pasar global menantikan pidato Jerome Powel di Jackson Hole Symposium yang diperkirakan akan memberikan efek hawkish. 

Alasannya, peluang kenaikan suku bunga acuan lanjutan terbuka lebar mengingat kondisi perekonomian AS sudah dalam tren positif. Dengan demikian, dolar AS diprediksi akan menguat.

Sementara itu, berdasarkan data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi ini terpantau menempatkan kurs referensi Jisdor di Rp14.655/US$, melemah 35 poin atau 0,24% dari posisi Rp14.620 pada Kamis (23/8/2018).

Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini, Jumat (24/8/2018) di Rp14.655/US$, melemah 35 poin atau 0,24% dari posisi Rp14.620 pada Kamis (23/8/2018).

Kurs jual ditetapkan Rp14.728/US$, sedangkan kurs beli berada di Rp14.582/US$. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah Rp146.