Kubah Lava Baru di Puncak Merapi, Warga Diminta Waspada

Gunung Merapi pada Minggu (3/6/2018) pukul 09.58 WIB terpantau via PGM Selo. (Twitter - @BPPTKG)
20 Agustus 2018 21:34 WIB Cahyadi Kurniawan Nasional Share :

Solopos.com, KLATEN — Pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menemukan adanya kubah lava baru di puncak Gunung Merapi. Masyakat diimbau tetap tenang dan waspada.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Bambang Giyanto, mengatakan kemunculan kubah lava baru menandakan fase erupsi magmatif sedang dimulai. Erupsi itu bersifat cenderung efusif.

Pembentukan kubah lava itu dimulai dari beberapa tahap sejak gempa freatik pada 11 Mei hingga 1 Juli 2018 lalu yang berfluktuasi di atas normal. Kemudian, pada 18 Juli 2018 terjadi delapan kali gempa. Lalu, pada 1 Agustus terjadi guguran dengan instensitas sedang dan terdengar hingga Pos Babadan.

Pada 11 Agustus juga terjadi gemuruh dan embusan besar. Aktivitas ini bahkan terdengar oleh warga Desa Deles. Disusul pada 12 Agustus melalui hasil foto menggunakan drone terlihat ada kubah lava baru di tengah rekahan kubah lava paska erupsi 2010.

“Pada tanggal 18 Agustus kemarin dicek ke puncak dan dipastikan ada kubah lava baru dengan ukuran panjang 55 meter dan lebar 25 serta tinggi 5 meter dari permukaan kubah. Kubah ini diperkirakan muncul 11 Agustus diawali gempa dan embusan material,” kata dia saat ditemui wartawan di kantornya, Senin (20/8/2018).

Dia menjelaskan akan merespons aktivtas di Gunung Merapi. BPPTKG akan mengelar rapat koordinasi bersama kepala BPBD di empat kabupaten yakni Klaten, Magelang, Sleman, dan Boyolali, Selasa (21/8/2018) di Jogja.

Dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak perlu cemas soal adanya kubah lava baru di Merapi. Dia melarang warga melakukan aktivitas di radius 3 kilometer dari puncak Merapi. Khusus desa-desa di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, BPPTKG mengimbau masyarakat tetap waspada. “Kami akan menindaklanjuti dengan mengecek kembali kesiapan klaster-klaster pengungsian dan evakuasi yang disiapkan,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, sistem evakuasi akan digelar dengan cara berbeda dari 2010 lalu. Sistem evakuasi mengacu pada konsep desa paseduluran. Artinya, warga diminta mengevakuasi diri secara mandiri sesuai pembagian desa paseduluran. “Sudah ada SOP-nya. Kami tinggal memberikan akses ke lokasi pengungsian,” terang dia.

Tokopedia