Asian Games dan Pendidikan

Advent Tambun - Dokumen Solopos
19 Agustus 2018 22:02 WIB Advent Tambun Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (16/8/2018). Esai ini karya Advent Tambun, penulis buku Piala Dunia dan Matematika. Alamat e-mail penulis adalah atambun@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kamis 19 Juli 2018. Pagi hari. Kota  Solo dan sekitarnya cerah dibumbui udara pagi yang segar. Jalanan ramai. Tidak seperti biasanya, anak-anak sekolah berbaris di tepi jalan memegang bendera kecil.

Kelompok pencinta sepeda onthel berkumpul. Aparat keamanan bersiaga di setiap sudut kota. Kota bersolek sejenak untuk menyambut kedatangan api obor Asian Games 2018. The spirit of Asia menyebarkan aroma semangat di kota ini.

Ada satu pertanyaan menarik ketika melihat kelompok anak-anak sekolah kembali ke ruang kelas masing-masing seusai melambaikan tangan menyambut simbol semangat citius, altius, fortius.

Apakah peristiwa tersebut akan menjadi bahan pembahasan di dalam kelas? Pertanyaan ini wajar menjadi refleksi kita bersama karena di setiap kota yang dilalui api obor tersebut siswa sekolah akan dikerahkan turun ke jalan meramaikan suasana.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita pahami Asian Games 2018 akan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi, pariwista, dan strategi marketing negara dan bangsa.

Setiap hari media massa dunia akan mengeluarkan berita pertandingan-pertandingan tersebut, apalagi bila muncul rekor-rekor baru dunia. Kita harus mengakui bahwa pemilihan dan penetapan Indonesia sebagai tuan rumah adalah ide cemerlang dari orang yang sangat paham arti marketing.

Kembali ke pertanyaan refleksi sebelumnya, apakah kira-kira yang dibahas di ruang kelas seusai para siswa iu menyaksikan prosesi arak-arakan api obor Asian Games 2018 tersebut?

Refleksi Kehidupan

Pertanyaan ini akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang senada. Apakah Asian Games 2018 akan dibahas sebagai materi pelajaran selama Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga Asia ke-18 tersebut?

Bagaimana Asian Games 2018 dibahas sebagai bagian dari mata pelajaran Matematika, Biologi, Sosiologi, atau Bahasa Indonesia? Jumlah peserta mencapai 45 negara. Angka ini tentu menjadi informasi awal yang sangat layak dan pantas dijadikan material tambahan pelajaran di dalam kelas.

Sangat disayangkan bila acara akbar ini tidak menjadi bagian sehari-hari para siswa. Sejatinya ruang kelas menjadi sarana refleksi kehidupan bagi siswa. Ruang kelas adalah tempat para siswa melihat dunia nyata dengan cara yang berbeda.

Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela menjadi salah satu buku referensi tentang realitas dunia nyata dibawa ke dalam ruang kelas. Kemampuan refleksi siswa sejak dini diasah sehingga menjadi siswa yang memiliki sikap kritias terhadap realitas.

Ruang kelas dengan semua aparaturnya, baik guru, buku ajar, maupun material tambahan lainnya bukan sesuatu yang dijauhkan dari realitas aktual, justru harus mendekatkan mereka dengan peristiwa sehari-hari.

Kemampuan kritis yang selama ini menjadi titik kabur dari dunia pendidikan kita berawal dari putusnya mata rantai realitas sosial dan sikap reflektif dalam ruang kelas. Pernyataan saya ini bisa saja dibantah dengan contoh parsial.

Mari kita kembali bertanya, apakah Asian Games 2018 akan dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam mata pelajaran? Tentu tantangan ini bukan tanggung jawab semata-mata guru di kelas tetapi menjadi tugas bersama semua pihak.

Saya telah menulis buku Piala Dunia dan Matematika sebagai bagian dari spirit mengangkat realitas sosial menjadi bahan ajar yang tentu saja bisa divariasikan tergantung mata pelaran dan jenjang usia peserta didik.

Material Ajar

Argentina adalah salah satu negara yang memanfaatkan event olahraga seperti Piala Dunia sebagai material ajar di dalam kelas. Kementerian pendidikan Argentina dengan sponsor pihak swasta mencetak buku pegangan bagi para guru untuk memanfaatkan Piala Dunia sebagai bahan ajar.

Kampung Asian Games mulai bertaburan dengan semarak gambar dan simbol olahraga. Sementara iklan televisi semakin hari semakin gencar melakukan sosialisi dan menyiarkan aneka marketing event.

Pada saat bersamaan ruang kelas di sekolahan-sekolahan tetap saja akan berjalan seperti biasanya dengan materi ajar yang kurang lebih sama. Pesta olahraga terbesar di Asia itu tetap berlangsung semarak di luar ruangan kelas.

Akankah siswa meninggalkan cerita menarik pesta olaraga tersebut di balik tembok sekolah atau sebaliknya menjadi entry point untuk menyelami dunia olahraga dan tidak hanya berhenti pada orasi?

Selain daya kreativitas pelaku dunia pendidikan, negara sebagai lembaga penyelenggara, dalam hal ini melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan lembaga terkait perlu menciptakan material-material ajar yang berkaitan dengan Asian Games 2018.

Dengan demikian realitas sosial menjadi bagian utuh di dalam kelas. Inilah mata rantai sikap kreatif dan kritis. Siswa tidak hanya diminta atau lebih tepatnya disuruh turun ke jalan-jalan berpanas ria menyambut api obor, tetapi menjadi bagian dari acara akbar tersebut.