Gelombang Kejut Capres-Cawapres

Langit Kresna Hariadi - Istimewa
18 Agustus 2018 10:12 WIB Langit Kresna Hariadi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (15/8/2018). Esai ini karya Langit Kresna Hariadi, penulis novel-novel berlatar sejarah.

Solopos.com, SOLO -- Seriuskah Prabowo Subianto mencalonkan diri menjadi presiden kali ini? Pertanyaan itu sungguh sangat menggelitik benak saya. Hari-hari terakhir menjelang pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden (capres dan cawapres), situasi politik bergerak sangat dinamis dan memunculkan kejadian yang tidak terduga.

Belum sempat terurai kesepakatan antara Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono, tiba-tiba muncul berita pengucuran dana kepada Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera oleh Sandiaga Uno, masing-masing Rp500 miliar. Berarti total Rp1 triliun.

Sandiaga mengobral uang sebanyak itu karena menginginkan posisi calon wakil presiden. Soal benar atau tidak berita imbal dagang ini, kita melihat Sandiaga Uno tidak membantah dan kita melihat Sandiaga kemudian mundur dari jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Bolehlah kita ikut percaya pada sakit hati Partai Demokrat, kucuran dana setriliun rupiah itu amat mungkin benar adanya. Itulah hal yang kemudian menjadi penyebab koalisi penyokong Prabowo bagaikan dihantam tsunami.

Kubu Partai Demokrat (Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY) yang amat menginginkan sang putra mahkota (Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY) dipilih menjadi calon wakil presiden terbelalak, terkejut, mendapati permainan uang itu.

Bahwa Partai Demokrat meradang, bolehlah itu dianggap sebagai indikator ”keinginan tak sampai”, keinginan AHY dipilih Prabowo menjadi calon wakil presiden. Koalisi pada saat yang demikian dianggap jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi.

Partai Demokrat ternyata menyesuaikan diri dengan memaklumi tarik ulur dan keputusan Prabowo. Partai Demokrat yang semula meradang balik kucing ikut bergabung lagi. Boleh jadi inilah saat mata SBY terbuka oleh langkah blunder dan tidak mulusnya mimpi besar dia, memensiundinikankan putra mahkotanya di level mayor yang kenyataan itu ternyata harus berhadapan dengan situasi pahit.

SBY boleh jadi berangan-angan atas mudahnya jalur yang akan ditempuh anak lelaki kebanggaannya dengan meniti posisi wakil presiden mendampingi Joko Widodo dan lantas menjadi presiden lima tahun sesudah itu.

Ia lupa di luar sana ada Megawati Soekarnoputri yang masih menyimpan rapi ”dendamnya”. Di pemilihan gubernur DKI Jakarta kandas, kini di level calon wakil presiden juga kandas. Kita semua ingat, cara Megawati menjawab dengan bahasa sindiran, saat AHY datang menemui, cukup diwakilkan kepada anak lelakinya untuk menerima AHY.

Seharusnya cara tuan rumah menerima kehadiran AHY seperti itu dibaca sebagai indikator. SBY lupa, Joko Widodo menganggap Megawati itu bagaikan ibunya. Jika Megawati menggoyangkan tangan melarang, Joko Widodo yang tak memiliki partai politik dan numpang PDI Perjuangan pasti tidak akan berani membantah.

Kita masih menyimpan kenangan betapa pada empat tahun yang lalu ketika Joko Widodo terpilih sebagai presiden, ia harus berkompromi sampai berhari-hari untuk menentukan siapa orang-orang yang akan ditunjuk menjadi menteri.

Ia bahkan direndahkan sebagai petugas partai. Waktu yang semula bergerak amat lambat bagi Joko Widodo, berubah cepat sejalan dengan kinerja dia. Kita kemudian menyaksikan, Joko Widodo berubah menjadi dirinya sendiri, bukan bayang-bayang, ia bukan lagi petugas partai.

Bila saya boleh mengatakan sekarang keadaan berbalik, tanpa Joko Widodo jelas PDI Perjuangan tidak punya barang jualan. Dengan kenyataan pahit yang tersaji semacam itu, sulit membayangkan level puncak macam apa nantinya yang akan diraih AHY.

Gelombang Menerjang

Bukan saja AHY yang terpuruk, saya menakar pamor Partai Demokrat juga mulai jatuh terpuruk. Jargon ”katakan tidak padahal kurupsi” mulai menjadi gelombang yang datang menerjang. Rupanya sulit bagi Partai Demokrat untuk memperbaiki situasi yang tak ubahnya menyembuhkan kanker stadium empat.

Nasi telah menjadi bubur. SBY dan AHY akhirnya harus menerima kenyataan pahit itu, tetap bergabung dengan koalisi yang telah terbentuk dengan hati sangat sangat tidak senang. Saya menakar, majunya Prabowo Subianto pada usia yung semakin uzur itu tidaklah seperti periode-periode sebelumnya.

Tidak seperti ketika ia mendampingi Megawati, juga tak seperti ketika ia maju bersama Hatta Rajasa. Majunya Prabowo kali ini dengan kesadaran penuh mustahil ia menang melawan Joko Widodo. Siapa yang tahu yang dianggap mustahil itu bisa dijungkirbalikkan?

Itu sebabnya saya menduga pikiran Prabowo sedang terjejali jargon cara apa pun bisa ditempuh. Ia sadar sepenuhnya Sandiaga Uno adalah kartu mati baginya, akan tetapi siapa tahu dengan uang sebesar itu keadaan bisa dijungkirbalikkan atau, jangan-jangan Prabowo tidak waspada betapa sang calon wakil presiden justru membebani.

Terbongkarnya transaksi setriliun rupiah itu akan dicurigai sebagai alat untuk memengaruhi arah ketertarikan rakyat dalam memilih--yang malah memicu antipati–yang pasti akan mengundang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masuk.

Saya belum mendapat kepastian apakah sumbangan yang diberikan Sandiaga Uno itu bisa dikategorikan sebagai pelanggaran undang-undang atau tidak, tetapi kedalaman hati nurani saya menduga hal seperti itu tak bisa dibenarkan.

Amat mungkin Sandiaga Uno harus menghadapi kenyataan pahit berhadapan dengan masalah hukum. Saat artikel ini saya tulis, saya meyakini KPK pasti mempertajam telinga dan mata.

Sandiaga Uno menjadi langkah blunder Prabowo. Saya tak akan menyebut demikian apabila gelontoran uang yang sangat besar itu tidak terendus dari amarah Partai Demokrat yang disuarakan dengan lantang oleh Andi Arief.

Sempat terdengar hubungan mesra Partai Demokrat dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bergerak menuju ke titik nadir, namun itulah politik. Kita kemudian melihat Partai Demokrat yang amat kecewa ternyata tetap berada dalam gerbong yang sama. Partai Demokrat hadir diwakili AHY dan Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY) saat pendaftaran pasangan Prabowo-Sandiaga. 

Aksi dan Reaksi

Bahwa transaksi itu kemudian menjadi santapan publik, saya menakar Sandiaga Uno akhirnya akan benar-benar menjadi kartu mati, walaupun ia menggelontorkan uangnya berlipat. Orang akan melihat dan memberi cap ia menjadi calon wakil presiden karena uang, apalagi jumlah uang yang ditebar itu sungguh ”gila-gilaan”.

Saya kemudian menakar terbongkarnya transaksi ”miring” itu malah sangat merugikan dirinya. Saya memprediksi hari-hari ke depan akan terjadi pergeseran simpati. Sayang sekali, Prabowo ”menyantapnya” tanpa melihat risiko yang sungguh nyata, betapa sebuah aksi akan menimbulkan reaksi.

Obral uang ala Sandiaga Uno yang demikian akan menumbuhsuburkan antipati orang kepada Prabowo. Bisa menjadi blunder bagi mimpinya. Bahwa benar dan mungkin ada pemilik suara yang tidak berhati nurani, menjual hak pilihnya, tetapi di arah berseberangan tidak sedikit pula orang yang menggunakan renungan dan nalar untuk menakar perbuatan dan perilaku lancung semacam itu sebagai perbuatan tidak terpuji.

Di tempat berseberangan, kejutan datang dari Joko Widodo yang ternyata memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden. Ingar-bingar terjadi karena sungguh tidak diduga oleh banyak pihak, termasuk saya. Bukan Moh. Mahfud Md. yang diminta Joko Widodo menjadi calon wakil presiden.

Saya butuh waktu agak lama buat menelisik mengapa Joko Widodo memilih Ma’ruf Amin, bukan Mahfud Md. meski kita semua melihat tak ada yang perlu diragukan dari keislaman orang Madura ini. Guyonan almarhum Gus Dur bisa digunakan sebagai kacamata untuk membedahnya.

Gus Dur bercerita begini:

”Terjadi sebuah kecelakaan. Ayo kita tolong.”

”Ehhh…, jangan dulu, tanyai dulu, agamanya Islam atau bukan.”

”Agamanya benar Islam, ayo kita tolong.”

”Ehhh… jangan dulu, ia harus kita tanyai, Islamnya Muhammadiyah atau NU?”

”Ia orang PKB, ayo kita tolong.”

”Ehhh… jangan dulu, tanyai NU-nya ikut siapa? PKB-nya ikut saya atau ikut Muhaimin?”

Kepemimpinan

Tak ada yang berani meragukan keislaman Moh. Mahfud Md., tetapi soal ia berada di pihak mana, mendukung atau dekat dengan siapa, sangat menentukan aia akan didukung atau harus dijegal. Muhaimin Iskandar sekalu Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa tentu tak merasa nyaman menghadapi Moh. Mahfud Md. karena kepemimpinan dia di PKB bisa dipersoalkan atau digoyang.

Kita tahu sebagian orang PKB melihat Muhaimin Iskandar justru mengkhianati Gus Dur. Saat Gus Dur meninggal dan Muhaimin Iskandar datang melayat. Ia menyembunyikan raut wajah di balik kacamata hitam untuk menyembunyikan rasa grogi telah masuk ke kandang macan.

Pergerakan politik yang demikian menyebabkan saya menduga pesta demokrasi yang akan datang kehilangan greget, tidak lagi ingar-bingar, tetapi sekaligus saya bisa menduga sebaliknya kegaduhan pemilihan presiden dan wakil presiden akan lebih parah daripada periode lalu.

Saya berpendapat tidak ada peristiwa apa pun yang abadi di dunia ini. Segala sesuatu berubah dan bergerak. Perubahan itu sendirilah yang kemudian kita sebut abadi. Dalam urusan politik tidak ada teman abadi, yang lebih menonjol adalah kepentingan abadi.

Kita melihat betapa kritis Fadli Zon terhadap Joko Widodo. Dulu Fadli Zon justru juru kampanye Joko Widodo saat pemilihan gubernur DKI Jakarta. Kita tak lupa keakraban Prabowo dengan Megawati dalam pemilihan presiden ketika mereka kalah.

Kita melihat Anis Baswedan dulu berdiri di mana dan sekarang bagaimana sikapnya. SBY adalah menteri era Megawati menjabat presiden ketika kemudian dua orang itu menempatkan diri berhadapan. Kita mencatat berapa tahun sudah rentang ”dendam” Megawati kepada SBY karena telah ditelikung.

Kita mencatat betapa erat SBY dan Jusuf Kalla (JK), namun dua orang itu akhirnya berhadapan sebagai lawan. JK pun kandas. JK yang semula meremehkan Joko Widodo karena tak mungkin mampu menjadi presiden, kemudian empat tahun sudah ia berada di sebelahnya.

Tentu yang paling dramatis adalah Amien Rais. Amien yang mendukung Gus Dur dan menyandingkan dengan Megawati, padahal kita semua ingat manuver Amien membangun Poros Tengah mengadang Megawati. Amien kemudian menjatuhkan Gus Dur dan menaikkan Megawati.

Kini ia berada di belakang Prabowo padahal pada hari-hari genting jatuhnya Soeharto, Prabowo sangat membenci Amien. Bagaimana fenomena macam itu bisa terjadi? Mungkin Ali Muchtar Ngabalin bisa menceritakan alurnya karena ia salah seorang pelaku.