Utang Indonesia Jatuh Tempo 2019 Tembus Rp409 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Bisnis/Felix Jody Kinarwan)
17 Agustus 2018 19:35 WIB Puput Ady Sukarno Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA – Utang Indonesia yang jatuh tempo tahun 2019 menembus Rp409 triliun. Besaran utang jatuh tempo yang harus dibayarkan oleh pemerintah pada tahun depan mencapai sebesar Rp409 triliun. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui besaran utang yang harus dibayarkan tahun depan tersebut cukup besar sehingga menjadikan pengelolaan anggaran di tahun depan memiliki tantangan yang cukup berat.

"Tahun depan yang agak berat karena banyak utang masa lalu yang jatuh tempo cukup tinggi pada 2019," ujar Sri Mulyani saat Konferensi Pers RAPBN 2019, di Media Center Asian Games 2018 Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (16/8/2018).

Sri Mulyani menjelaskan nilai utang jatuh tempo yang harus dibayarkan tahun depan mencapai sebesar Rp409 triliun. "Jatuh tempo tahun depan Rp409 triliun," ujarnya.

Namun demikian, pihaknya menjamin bahwa pemerintah akan terus berusaha menjaga rasio utang berada pada level di bawah 30% terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Pihaknya mengatakan bahwa defisit anggaran akan ditutup dengan sumber sumber pembiayaan anggaran yang mengacu pada kebijakan untuk mengendalikan rasio utang terhadap PDB dalam batas aman dan efisiensi pembiayaan anggaran agar tercapai fiscal sustainability.

Defisit anggaran pada RAPBN 2019 diperkirakan mencapai Rp297,2 triliun (1,84% PDB) atau turun dibandingkan outlook APBN 2018 sebesar 2,12% terhadap PDB.

Sementara itu keseimbangan primer terus diupayakan mengalami penurunan menjadi negatif Rp21,7 triliun dari outlook 2018 sebesar negatif Rp64,8 triliun. 

Menurutnya penurunan defisit dan keseimbangan primer tersebut menunjukkan bahwa fiskal dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab serta sustainable.

Sebelumnya pemerintah juga menyatakan bahwa kondisi utang negara saat ini dengan outstanding Rp4.253,02 triliun masih pada level aman, yakni 29,74% terhadap PDB. 

Realisasi Pembiayaan

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Kemenkeu Luky Alfirman mengatakan bahwa realisasi pembiayaan yang dilakukan pemerintah hingga akhir Juli 2018 mencapai Rp206,6 triliun, sebagian besar berasal dari pembiayaan utang sebesar Rp205,57 triliun, atau mencapai 51,5% dari APBN 2018 sebesar Rp399,22 triliun.

Realisasi pembiayaan utang tersebut terdiri dari penerbitan SBN (neto) sebesar Rp221,94 triliun atau mencapai 53,5% dari target APBN 2018 dan pinjaman (neto) sebesar negatif Rp16,37 triliun atau sekitar 107,0% dari yang direncanakan.

Menurutnya realisasi pembiayaan yang cukup besar tersebut mencerminkan diterapkannya strategi front loading oleh pemerintah yang tetap terjaga untuk mengantisipasi ketidakpastian dinamika perkembangan global dan terwujudnya pembiayaan yang lebih efisien.

Menurutnya keberlanjutan fiskal di tahun 2018 diharapkan akan tetap terjaga. Realisasi defisit APBN hingga akhir Juli 2018 mencapai Rp151,30 triliun atau sekitar 1,02% PDB. Realisasi defisit tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, baik secara nominal maupun persentase terhadap PDB.

Sementara itu kondisi keseimbangan primer per akhir Juli 2018 yang berada pada defisit Rp4,85 triliun juga lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar defisit Rp79,15 triliun.

"Stok utang kita sampai saat ini, per akhir Juli 2018 mencapai Rp4.253 triliun atau dibandingkan PDB sekitar 29,74," ujarnya. 

Rasio utang tersebut masih lebih rendah dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 29,9%. Pihaknya berharap sampai akhir tahun 2018 akan terus melandai. "Dan akan di bawah kisaran 29,8%, termasuk rendah," katanya.

Tokopedia