Mahfud Singgung Kasus Kardus Durian & Ancaman, Ini Jawaban Cak Imin

Mahfud MD berceramah dalam Seminar Nasional Perspektif Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari dan K.H. Ahmad Dahlan terhadap Politisasi Agama di Gedung Induk Siti Walidah, kompleks UMS, Pabelan, Sukoharjo, Sabtu (31/3 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
16 Agustus 2018 16:33 WIB John Oktaveri/ Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Tak hanya buka-bukaan soal ancaman Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada Joko Widodo (Jokowi) soal pemilihan calon wakil presiden (cawapres), Mahfud MD juga menyinggung soal kasus kardus durian. Hal itu dilontarkan Mahfud untuk mengingatkan pernyataan Ketua Umum PBNU yang dulu menganggapnya kader NU.

Mahfud pun menyebutkan hubungannya dengan NU di masa lalu bahkan disebut kader oleh Aqil Siradj sendiri. Hal itu kontras dengan situasi menjelang Pilpres 2019 saat PBNU mempertanyakan peran Mahfud MD di NU.

"Pak Aqil Siradj itu sering menyebut saya kader. Waktu ada kasus seorang menteri terlibat kasus duren [kasus kardus durian], saya ada di Mekkah. Pagi-pagi subuh, Aqil Siradj itu telepon, 'Pak Mahfud, sesama kader NU tolong ini diselamatkan, nanti NU rusak kalau kena. Begitu ada kasus politik begini, lalu bilang bukan kader. Tapi di NU itu ada banyak guyonan, saya menganggap ini guyon-guyon saja," kata Mahfud di Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa (14/8/2018) lalu.

Mahfud tak menyebutkan siapa nama menteri itu. Sebagai catatan, kasus kardus durian adalah sebutan bagi kasus suap Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (DPPID) Kemenakertrans pada 2011. Saat itu, Menakertrans dijabat oleh Muhaimin Iskandar. Pria yang disapa Cak Imin ini pun telah berkali-kali membantah terlibat kasus itu.

Menanggapi pernyataan Mahfud di ILC, Cak Imin enggan menjawab saat disinggung soal dugaan upaya NU dan PKB menjegal Mahfud MD untuk menjadi cawapres Jokowi di menit-menit terakhir. Dia hanya mengatakan, semua takdir Tuhan dan persoalan jegal menjegal itu hal yang lumrah dalam pencapresan.

"Jangankan pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan Ketua Umum GP Anshor saja terjadi jegal menjegal," ujarnya.

Dia mengaku kecewa karena tidak terpilih jadi cawapres. Akan tetapi dia percaya bahwa hal itu adalah takdir. Cak Imin juga membantah bahwa PBNU mengancam Joko Widodo (Jokowi) kalau dirinya tidak menjadi cawapres dan lebih memilih Mahfud.

"Berita itu isinya hanya mengatakan bahwa masyarakat NU bisa tidak bertanggung jawab apabila yang dipilih bukan kader NU. Tidak ada sama sekali kalimat mengancam," kata Cak Imin di Kompleks Parlemen.

Dalam beberapa pernyataan, petinggi PKB menyebut bahwa Mahfud bukanlah kader NU meski pernyataan itu dibantah oleh Yenny Wahid, putri mendiang Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sang pendiri PKB.