Dilema Industri Otomotif Nasional

Edy Purwo Saputro - Dokumen Solopos
15 Agustus 2018 18:00 WIB Edy Purwo Saputro Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/8/2018). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Headline news Harian Solopos edisi Jumat 3 Agustus 2018 tentang mobil perdesaan made in Klaten yang diluncurkan Presiden Joko Widodo bersamaan pembukaan pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS di Tangerang, Bekasi, beberapa hari lalu, menarik untuk dicermati.

Paling tidak ada dua hal yang menarik. Pertama, tentang peluncuran mobil alat mekanis multiguna pedesaan yang bersamaan dengan agenda politik menuju pemilihan presiden 2019 sehingga hal ini diyakini sebagai bagian dari momen politik di tengah elektabilitas Joko Widodo yang semakin meningkat untuk rematch bertajuk dengan calon presiden Prabowo Subianto.

Mungkin Presiden Joko Widodo juga ingin bernostalgia dengan kenangan kemenangan ketika membangun citra dirinya dengan mobil Esemka waktu maju dalam pemilihan presiden 2014.

Kedua, GIIAS menjadi identifikasi pabrikan mobil Jepang pada umumnya dan Eropa pada khususnya untuk unjuk gigi kepada konsumen tentang semua inovasi terbaru di bidang otomotif, termasuk inovasi terbaru di bidang mobil listrik masa depan.

Alat mekanis multiguna pedesaan bisa menjadi penghibur di tengah era penetrasi mobil made in Jepang dan Eropa selama ini yang menguasai pasar otomotif Indonesia. Terlepas dari segmentasi alat mekanis multiguna pedesaan, yang pasti kegiatan tahunan GIIAS memberikan kepastian kepada konsumen yang memang dimanjakan.

Betapa tidak, di tengah ancaman krisis akibat depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolat Amerika Serikat ternyata geliat sektor otomotif masih terus berjalan dan imbasnya adalah ancaman terhadap kenaikan harga produk otomotif.

Kehadiran alat mekanis multiguna pedesaan bisa mengulang mobil Esemka yang ternyata sampai sekarang tidak bisa bersaing dengan pabrikan otomotif dari Jepang dan Eropa. Apakah alat mekanis multiguna pedesaan juga akan bertarung dengan pabrikan made in Jepang dan Eropa?

Tentu perlu kearifan untuk melihat proses mobil made in Tiongkok yang pasarnya masih belum tajir untuk melawan pabrikan Jepang dan Eropa, terutama dikaitkan layanan purnajual, harga suku cadang, dan layanan bengkel resmi yang tersedia. Belum lagi tren inovasi mobil listrik untuk masa depan.

Konsekuensi 

Tidak bisa dimungkiri saat ini pasar otomotif dibanjir produk mobil low cost green car atau LCGC yang saat ini diidentikan dengan mobil ramah lingkungan dan berharga murah. Kesuksesan LCGC di pasar tidak bisa terlepas dari Peraturan Menteri Perindustrian No. 33/2013 tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau.

Konsekuensi pemberlakuan regulasi tersebut adalah produsen memasarkan LCGC, yaitu PT Toyota Astra Motor dengan produk Toyota Agya, PT Astra Daihatsu Motor dengan produk Daihatsu Ayla, dan PT Honda Prospect Motor dengan produk Honda Brio Satya.

Segmen pasar LCGC terus meningkat karena bisa merebut simpati publik akibat irit bahan bakar minyak di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi dan juga hilangnya premium di pasaran. Mobil alat mekanis multiguna pedesaan harus bersaing dengan kelompok otomotif yang mana?

Apakah akan bertarung frontal atau justru mencari ceruk pasar tersendiri yang eksklusif meski segmennya kecil? Yang menarik dari peluncuran mobil alat mekanis multiguna pedesaan dan terbitnya regulasi tersebut yaitu peta persaingan di sektor otomotif semakin ketat.

Kelesuan pasar otomotif setelah Lebaran kini cenderung bergairah meskipun tahun politik menjelang pemilihan presiden. Produsen otomotif semakin optimistis karena target penjualan pada 2018 tercapai dan target 2019 mungkin bisa diraih karena didukung pemasaran produk mobil murah dan juga aspek keyakinan rematch Jokowi-Prabowo akan bersuasana lebih dingin.

Terlepas dari kondisi makro ekonomi yang terjadi, yang pasti industri otomotif tidak bisa terlepas dari dilemma, yaitu di satu sisi industri otomotif memberikan kontribusi terhadap laju perekonomian nasional, tapi di sisi lain juga dikritik karena menambah polusi dan meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak. 

Jika dicermati, sebenarnya industri otomotif termasuk salah satu bidang yang sifatnya padat karya mulai dari pabrikan sampai supplier dan dealer yang tersebar di berbagai daerah dengan penyerapan tenaga kerja 200.000 orang.

Kontribusi industri otomotif terhadap pajak juga relatif cukup besar karena nilai pajak industri otomotif mencapai Rp75 triliun per tahun. Ekspor dari industri otomotif juga cenderung semakin meningkat karena ada tiga aspek.

Tiga aspek tersebut adalah finishing unit, completely knock down (CKD), dan komponen. Pada tahun lalu nilai ekspor dari tiga aspek tersebut mencapai US$5 miliar. Data ini menunjukan industri otomotif nasional berperan terhadap laju perekonomian, termasuk berimbas pada penyerapan tenaga kerja.

Dilema yang muncul dari industri otomotif adalah tudingan sebagai biang kemacetan di perkotaan dan juga konsumsi bahan bakar minyak yang semakin boros. Oleh karena itu, LCGC di satu sisi diharapkan meningkatkan mobilitas individu tanpa khawatir terhadap konsumsi bahan bakar minyak.

Di sisi lain juga memicu kerawanan peningkatan kemacetan di perkotaan. Di Jakarta diberlakukan nomor pelat mobil ganjil dan genap untuk mengatasi kemacetan yang justru dikritik karena melanggar hak asasi manusia pembayar pajak.

Yang juga menarik dicermati terkait dari mobil alat mekanis multiguna pedesaan dan LCGC yaitu harapan terhadap kebangkitan industri otomotif nasional. Kebangkitan ini juga memicu kekhawatiran terhadap nasib mobil Esemka yang sempat dianggap sebagai embrio dari kebangkitan industri otomotif domestik, khususnya perakitan mobil.

Artinya, bisa dipastikan mobil Esemka akan hilang karena tidak mendapatkan respons konsumen, begitu juga mungkin nasib mobil alat mekanis multiguna pedesaan. Belajarlah dari pengalaman ketika persaingan cenderung semakin ketat maka pada akhirnya pasar akan menentukan secara selektif mana produk yang menarik dan mana yang tidak.

Oleh karena itu, seleksi pasar akan menjadi prioritas dan produsen harus tahu dan sadar atas realitas ini. Artinya, mobil Esemka juga tidak bisa mengelak dari realitas ini, begitu juga mobil alat mekanis multiguna pedesaan dan LCGC.

Era persaingan segmen mobil murah saat ini telah dimulai dan konsumen memiliki hak prerogratif untuk menentukan pilihan. Apakah nanti mobil alat mekanis multiguna pedesaan dan Esemka masih bisa diproduksi atau tersingkir tergantung perjalanan waktu yang menentukan. Selamat datang era mobil murah.

Tokopedia