Dongeng Kaum Imigran di Prancis

Suwarmin - Dokumen Solopos
15 Agustus 2018 06:00 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/7/2018). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Benar kata orang bijak, dalam hidup ini tak ada sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Segala sesuatu, disadari atau tidak, sambung menyambung menjadi satu ikatan, sebuah roda kehidupan.

Sekitar 20 tahun lalu, Wilfred Mbappe yang asli Kamerun menikahi Fayza Lamari, seorang perempuan cantik asal Aljazair. Kamerun di Afrika bagian tengah. Aljazair di Afrika belahan utara.

Keduanya bertemu dalam satu koloni bernama Prancis, sama-sama pernah dijajah Prancis, negeri di jantung Eropa. Di Prancis kedua anak manusia itu bertemu, lalu lahirlah bayi mungil bernama Kylian Mbappe pada 20 Desember 1998.

Kurang dari 20 tahun kemudian, Kylian sudah bisa berlari cepat laksana peluru. Beroperasi di sayap kanan tim sepak bola Prancis di Piala Dunia 2018 di Rusia. Setiap bola dipantulkan ke arah dia selalu menjadi penanda bahaya bagi gawang lawan.

Argentina yang diperkuat pemain terbaik dunia Lionel Messi, Belgia yang dipenuhi para bintang top dunia, hingga Kroasia yang dianugerahi mental dan semangat serdadu perang semuanya gagal menghentikan pergerakan Kylian dan tim nasional Prancis.

Kylian yang masih remaja mempunyai ketenangan seperti layaknya seorang veteran. Dia mempunyai mental seorang imigran yang pantang menyerah, juga dianugerahi kecerdasan dan kecepatan. Dia mengejar bola, menggoyang si kulit bundar, dan mencecar gawanga lawan.

Kylian membuat empat gol sepanjang pesta sepak bola di Rusia, termasuk satu gol di final saat Prancis mengalahkan Kroasia 4-2.  Rekannya di tim nasional Prancis, Raphael Varane, menjuluki dia sebagai ”alien muda”. Julukan pemain kaliber alien di sepak bola biasanya merujuk ke Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Pada tahun yang sama dengan kelahiran Kylian Mbappe, pada1998 silam, anak imigran yang lain membuat cerita serupa. Dia adalah Zinedine Zidane, anak pasangan imigran Aljazair. Berbeda dengan Kylian yang mempunyai kecepatan tinggi, Zidane adalah seniman bola.

Cara dia membawa bola dan keluwesan dalam melakukan gerakan pivot hingga saat ini belum ada tandingannya. Pada babak final Piala Dunia 1998 di Prancis, Zidane membuat dua gol ketika timnya mengalahkan Brazil 3-0.

Rekan Zidane, Lilian Thuram, juga anak pasangan imigran dari Guadaloupe, membuat dua gol pada babak semifinal saat Prancis mengalahkan Kroasia 2-1. Imigran adalah isu penting di balik dua gelar juara dunia yang digenggam Prancis.

Bukan hanya Prancis yang diperkuat para pemain kulit berwarna, bukan asli kulit putih sebagaimana lazimnya bangsa-bangsa Eropa. Inggris, Jerman, dan Swiss adalah contoh negara-negara yang diperkuat warga keturunan imigran.

Khusus Prancis, keberadaan warga keturunan imigran ini menyimpan catatan tersendiri. Menurut Vox, setelah Perang Dunia II berakhir, semakin banyak imigran Afrika yang memasuki Prancis.

Mereka antara lain berasal dari Senegal, Mali, atau dari bangsa-bangsa Maghribi seperti Tunisia, Maroko, atau Aljazir. Kala itu, para imigran itu barangkali tidak berpikir bahwa langkah mereka kelak akan menghadirkan kebahagiaan besar bagi seluruh masyarakat Prancis.

Sebelum Prancis sukses di Piala Dunia 1998, biasanya kota yang didiami masyarakat imigran mempunyai ciri khas negatif, di antaranya mempunyai kasus kriminal yang menonjol dan sering terjadi kerusuhan rasial.

Kini, sepak bola membuat warga imigran mempunyai cerita berbeda. Mereka menjadi pahlawan di sepak bola, cabang olahraga terpopuler di planet ini. Meski sekarang terlihat bukan sebagai hal aneh, langkah Prancis memanggil para pemain keturunan imigran ini pernah menuai pro dan kontra pada Piala Dunia 1998.

Meyakinkan

Saat itu Prancis memang tampil dengan proporsi yang tidak lazim. Dari starting eleven yang dipasang pelatih Aime Jacquet, terdapat lima pemain keturunan imigran, yakni Marcel Desailly, Christian Karembeu, Lilian Thuram, Zinedine Zidane, dan Youri Djorkaeff.

Ketika itu ditambah dengan sejumlah nama lain di daftar skuad Les Bleus, termasuk nama Thierry Henry, Prancis benar-benar tampil sebagai tim multiras. Pemimpin Partai Front Nasional Prancis Jean-Marie Le Pen, yang dikenal sebagai ultranasionalis, rasis, dan anti-imigran menyebut tim nasional Prancis kala itu sebagai ”skuad buatan, terlihat artifisial, dan tidak mencirikan masyarakat Prancis yang sesungguhnya”.

Jumlah warga imigran Prancis memang hanya di kisaran 12% dari seluruh warga Prancis, namun proporsi mereka di tim nasional Prancis jauh lebih banyak dari itu.

Ketika Prancis yang multiras akhirnya juara, bahkan Zidane dan Thuram tampil sebagai pahlawan kemenangan, karier Le Pen kandas. Empat kali dia mencalonkan diri sebagai presiden dan selalu gagal.

Mungkin kisah Le pen akan berbeda jika Prancis gagal menjadi juara pada 1998 itu. Pada Piala Dunia 2018 kali ini, warna imigran sangat kental. Selain Kylian Mbappe, ada nama lain yang tak kalah cemerlang, yakni Paul Pogba.

Sejumlah nama lain juga melengkapi warna keturunan imigran di skuad Prancis, yakni Steve Mandanda (kiper), deretan pemain belakang seperti Djibril Sidibe, Raphael Varane, Presnel Kimpembe, Adil Rami, Samuel Umtiti, Benjamin Mendy, gelandang tangguh N’Golo Kanté, Blaise Matuidi dan Steven N’Zonzi, juga ada pemain depan Ousmane Dembele dan Nabil Fekir.

Meski Prancis beberapa kali diperkuat pemain keturunan imigran pada Piala Dunia sebelumnya, seperti Jean Tigana yang melegenda, namun baru pada 1998 kekuatan multiras Prancis terlihat meyakinkan.

Wartawan New York Times, Jere Longman, yang sejak 1993 berpengalaman meliput kegiatan olahraga internasional, termasuk sepak bola dan olimpiade, menilai keberhasilan Prancis pada Piala Dunia 1998 merupakan kejutan.

Menurut dia, sebagaimana dikutip portal detik.com, jarang ada atlet Prancis yang memiliki kepercayaan diri dan ketenangan saat menghadapi ajang besar. Begitu barrier mental ditembus, prestasi serupa datang lagi, walaupun harus menunggu 20 tahun kemudian.

Bagi warga imigran  di Prancis, sepak bola seolah-olah menjadi jalan pintas untuk menandai perjuangan mereka agar diakui sebagai bagian dari bangsa yang mereka tinggali.

Dalam beberapa tahun terakhir, jutaan orang dari negara-negara Arab mengungsi ke Eropa sebagai dampak krisis sosial yang lazim diberi nama Arab Spring. Mereka tersebar di sejumlah negara Eropa. Jutaan orang mengungsi ke Turki.

Ratusan ribu orang lainnya menyebar ke Jerman, Swedia, Prancis, Hungaria, Denmark, Inggris, Polandia, Estonia, Spanyol, Belanda, dan lain-lain. Benturan budaya, sosial, dan ekonomi akan mewarnai para imigran di negara-negara baru mereka.

Beberapa tahun yang akan datang kita bisa melihat apa yang dihadirkan warga keturunan imigran ini. Melalui sepak bola, Prancis mempunyai kejutan menggembirakan dari kedatangan para imigran itu.

Jangan-jangan ini hanya bagian kecil dari pergerakan warga imigran. Bisa jadi akan ada hal besar yang akan dicatat oleh perputaran kehidupan para imigran ini.

 

Tokopedia