Alasan Anies Baswedan Tolak Jadi Cawapres: Teringat Saidah

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau penyegelan di Pulau D reklamasi Teluk Jakarta, Jakarta, Kamis (7/6 - 2018) lalu. (Antara / Dhemas Reviyanto)
13 Agustus 2018 22:36 WIB Regi Yanuar Widhia Dinnata Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya menceritakan alasan menolak tawaran calon wakil presiden (cawapres) pada pemilihan presiden 2019 nanti. Alasannya,  dia teringat janji untuk mengubah Ibu Kota menjadi lebih baik.

Anies Baswedan mengatakan bahwa tanggung jawabnya sebagai pemimpin nomor satu di Ibu Kota belum tuntas. Dia menambahkan masih banyak pekerjaan rumah dan janji yang harus diselesaikan di Jakarta. Oleh karena itu, dia menolak tawaran menjadi calon wakil presiden pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019 nanti.

"Saya sampaikan terima kasih atas undangannya. Akan tetapi, saya merasa bahwa tanggung jawab di Jakarta ini tidak kecil dan saya punya banyak komitmen yang harus dituntaskan karena itu saya ingin bisa menuntaskan itu di Jakarta," kata Anies, Senin (13/8/2018).

Anies Baswedan menyatakan teringat janji kepada salah satu warga DKI untuk membangun Jakarta. Janji ini yang menjadi dasar penolakan untuk ikut dalam Pilpres 2019.

"Teman-teman [media] tentu ingat saya terima [selendang] dari Ibu Saidah di Bukit Duri, dia titip anak Jakarta dan saya terima titipan itu. Saya ingin menuntaskan itu dan mudah-mudahan tadi saya sampaikan kepada semua [Satuan Perangkat Kerja Daerah/SKPD] mari kita bekerja sama tuntaskan apa yang menjadi amanat. Kita berharap nanti terjadi perubahan di Jakarta," ujarnya.

Seperti diketahui, Saidah merupakan warga DKI yang tergusur karena proyek normalisasi Ciliwung. Saidah memberikan selendang yang sering dipakai untuk menggendong anaknya kepada Anies pada masa kampanye Pilkada Jakarta 2017 lalu.

Sebelumnya, Anies Baswedan mengatakan bahwa mendapatkan pesan dari Saidah agar kelak menjadi pemimpin yang amanah dan mengayomi warga DKI. Mantan Menteri Pendidikan tersebut menilai bahwa selendang ini merupakan simbol harapan dari masyarakat agar pemimpinnya bisa mengangkat derajat kehidupan warga DKI.