Prabowo Tak Pilih Ulama, PBB Tunggu Ijtima Baru

Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra (Bisnis / Dwi Prasetya)
13 Agustus 2018 18:43 WIB Samdysara Saragih Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang (PBB) masih menanti hasil ijtima terbaru Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF) untuk menentukan sikap dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019.

Sampai sejauh ini, partai politik berbasis massa Islam itu belum menyatakan dukungan bergabung ke kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno atau Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Padahal, PBB memiliki 1,82 juta suara sah nasional pada Pemilihan Umum Legislatif 2014.

Ketua DPP PBB Bidang Pemenangan Presiden Sukmo Harsono mengatakan sikap netral itu diambil karena partainya masih berpegang pada rekomendasi ijtima ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama. Dalam forum yang digelar 27-29 Juli itu, Prabowo direkomendasikan sebagai bakal calon presiden, sedangkan pendampingnya adalah Salim Segaf Al Jufri atau Ustaz Abdul Somad Batubara.

Faktanya, Prabowo menggandeng Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sebagai pasangannya dalam Pilpres 2019. Menurut Sukmo, duet tersebut belum dikonsultasikan dengan Ketua Umum DPP PBB Yusril Ihza Mahendra.

“Makanya Pak Yusril belum menetapkan mendukung kedua calon presiden dan wakil presiden,” katanya kepada Bisnis/JIBI, Senin (13/8/2018).

Meski demikian, Sukmo mengatakan PBB masih terbuka untuk mendukung salah satu kontestan. Apalagi, GNPF Ulama dikabarkan akan menggelar ijtima lanjutan setelah penetapan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

“Bisa jadi [kami ikuti] apabila hasil itjima itu sesuai dengan masukan para pengurus PBB di tingkat provinsi dan kabupaten/kota,” ujarnya.

Kendati tidak memiliki kursi di DPR, Sukmo mengingatkan bahwa PBB mempunyai anggota DPRD di seantero Indonesia dan menyimpan hampir 1,9 juta suara sah nasional pada Pileg 2014. Karena itu, kata dia, PBB akan menentukan dengan hati-hati kontestan Pilpres 2019 mana yang akan didukung.

Sebelum mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum, rekomendasi ijtima GNPF Ulama sempat membuat embrio koalisi pengusung Prabowo terbelah. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) awalnya bersikeras agar Partai Gerindra menjalankan rekomendasi tersebut.

Namun, menjelang pendaftaran PKS dan PAN akhirnya bersedia menerima Sandiana Uno yang bukan ulama sebagai pendamping Prabowo. Bahkan, tiga parpol itu mendapatkan tambahan dukungan dari Partai Demokrat.