100 Tahun Kematian TAS

Bandung Mawardi - Dokumen Solopos
12 Agustus 2018 18:03 WIB Bandung Mawardi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (11/8/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Sebeloem G.G. Van Heutsz soerat kabar tidak bisa mentjela Pemerintah jang didjalankan tidak sepertinja oleh pegawai pemerintahan. Sekarang tjelaaan, asal tidak menjerang kehormatan (eer) dan harga kesopanan (zedelijke waarde) orangnja, pegawai jang ditjela, meski dengan perkataan jang tadjam dan pedas poen diloepoetkan dari hoekoeman. Kelonggaran ini tjoekoep oentoek ikhtiar pers dalam tidak membenarkan kelakoean orang-orang berpengaroeh jang berdjalan bengkok. Semakin pers Melajoe berani menjatakan pendapatnja, semakin ia diindahkan oleh Pemerintah. (Tirto Adhi Soerjo, Soenda Berita, 17 Juli 1904)

Tokopedia

Sebulan lalu Bentara Budaya Yogyakarta mengadakan pameran koran dan majalah berjudul Titi Mongso. Ratusan koran dan majalah lama, 1871-1972, dipamerkan dan bisa diakses publik.

Pada acara pembukaan, panitia mengedarkan lembaran besar yang dijuduli De Bentara Courant yang berisi penjelasan kurator Hermanu, cuplikan ulasan majalah, dan terjemahan tulisan berjudul Koran karya E.F.E. Douwes Dekker selaku editor Bataviaasch Nieuwsblad.

Tulisan itu tak mencantumkan tahun terbit tapi terduga lebih seabad lalu. Di akhir artikel terbaca: Kita mungkin sekarang mengalihkan perhatian kita pada majalah diterbitkan dalam bahasa sehari-hari karena ini jauh lebih penting untuk penduduk pribumi dengan memiliki lingkaran pembaca jauh lebih besar.

Semula E.F.E. Douwes Dekker mengenalkan dan membahas pelbagai terbitan koran dan majalah oleh kaum Eropa. Pada bagian akhir ada daftar pendek terbitan di Hindia Belanda yang mulai bertokoh bumiputra. ”Medan Prijaji, majalah mingguan diedit oleh seorang Jawa, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, adalah organ diakui para pejabat pribumi,” demikian kalimat terakhir dalam artikel karya E.F.E. Douwes Dekker itu.

Nama jurnalis pemula atau perintis itu muncul lagi dalam polemik mengenai penentuan hari pers nasional Indonesia. Kontroversi dan polemik tentang hari pers ini harus memberi perhatian kepada Tirto Adhi Soerjo (TAS) dalam melacak tanggal bersejarah dan susunan argumentasi berkaitan pemerintah atau institusi pers.

Polemik dan kontroversi tentang hari pers dipicu inisiatif Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang kemudian didukung Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) melontarkan ide pentingnya merevisi Hari Pers Nasional yang selama ini diperingati dan bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Saya belum ingin turut di perdebatan tentang Hari Pers nasional yang bakal melibatkan pelbagai pihak, buku, dan dokumen kebijakan. Saya memilih mengenang seabad kematian Tirto Adhi Soerjo (1880-1918). Ini sebuah ajakan mengenang yang tetap berurusan dengan pers saat Indonesia menempuh jalan ”kemajuan” atau berlakon ”zaman bergerak.”

Kematian tokoh pers itu masih misteri jika mengacu buku berjudul Sang Pemula (1985) susunan Pramoedya Ananta Toer. Misteri mungkin setara dengan misteri hari bersejarah kelahiran pers bercap Indonesia. Kematian tanpa pameran karangang bunga, rombongan panjang peziarah, atau pidato-pidato penting. Kematian dalam sepi dan keterpencilan.

Jurnalis dan pengarang kondang itu berada pada tahun pengabaian atau pelupaan setelah mengalami tahun-tahun kemonceran. Akhir yang pilu. Kematian tokoh pers Indonesia melawan arogansi kolonial itu tanpa pemberitaan besar atau obituarium di pelbagai surat kabar.

Penghormatan agak terlambat terbit di hadapan sidang pembaca yang diberikan oleh Mas Marco Kartodikromo (1918), murid dan pengikut setia sang pemula itu. Tulisan berisi pujian dan kenangan. Tirto Adhi Soerjo dianggap guru, jurnalis paling tua, dan pengguncang bumiputra.

Nama redaktur Medan Prijaji itu memang sangat menentukan biografi Marco Kartodikromo sebagai jurnalis dan pengarang. Pada 1911, Marco Kartodikromo berangkat ke Bandung, bergabung menjadi penggerak Medan Prijaji, terbitan sejak 1907. Ini episode menentukan kehidupan Marco Kartodikromo dengan mentor Tirto Adhi Soerjo.

Awalan itu menjadikan Marco Kartodikromo bergairah di dunia pers untuk menjadi pengemudi Sarotomo dan Doenia Bergerak di Solo pada masa berbeda (Agung Dwi Hartanto, Marco Kartodikromo: Pemikiran, Tindakan, Perlawanan, 2008). Jasa Tirto Adhi Soerjo terkenang dan tercatat di arus penerbitan pers bercorak kebangsaan Indonesia.

Tirto Adhi Soerjo dan Marco Kartodikromo memiliki hubungan unik dengan Solo. Ketokohan Tirto Adhi Soerjo di Solo dimulai dengan pemberian penghargaan dari keraton berupa sehelai destar dan kain. Penghargaan itu diberikan atas bantuan Tirto Adhi Soerja kepada rombongan dari Solo selama berkunjung ke Banten pada 1902.

Peran mengiringi rombongan dilengkapi pembuatan reportase di Pemberita Betawi. Penguasa keraton meminta agar Tirto Adhi Soerjo mau membantu mengemudikan terbitan Bromartani. Pemberian penghargaan itu memberi akibat besar setelah diberitakan oleh pers Eropa dan bumiputra.

Tirto Adhi Soerjo semakin kondang di Jawa dan Madura (Pramoedya Ananta Toer, 1985). Masa itu menjadikan Tirto Adhi Soerjo sebagai pembangkit suara bumiputra bersaing di hadapan suara-suara bentukan Eropa dan pemerintah kolonial Belanda.

Pilihan bergerak di pers dibarengi ketekunan menggubah karya sastra. Terbitan terpenting tentu Medan Prijaji pada 1907-1912. Kerja dan ketekunan tak menghasilkan keberlimpahan harta dan keselamatan. Pada masa akhir Medan Prijaji, Tirto Adhi Soerjo tenggelam dalam utang dan berulang mengalami pembuangan oleh pihak kolonial.

Si tokoh itu terlalu jauh dari kegirangan hidup dan kemapanan. Keberakhiran Medan Prijaji dan nasib nelangsa Tirto Adhi Soerjo sempat tercantum dalam surat rahasia D.A. Rinkes, tokoh dalam pendirian Balai Poestaka. Pejabat Belanda itu mengaku jengkel dan malu melihat terbitan bumiputra justru berpengaruh di komunitas pembaca pers awal abad XX di Hindia Belanda.

Rinkes menginginkan pemerintah cemburu dan bertindak keras kepada Medan Prijaji dan para jurnalis ”sombong” di kalangan bumiputra. Di mata Rinkes, Tirto Adhi Soerjo itu manusia sombong gara-gara tekun di pers dan sastra. Pembiaran bakal menjadikan Medan Prijaji adalah pemicu kekuatan politik melawan pemerintah kolonial.

Pramoedya Ananta Toer mengartikan pemicu kekuatan politik itu sudah mewabah sampai Solo dengan menggerakkan sejumlah saudagar Islam. Rinkes mulai mengerti bahwa Tirto Adhi Soerjo sengaja membentuk dan membesarkan ”kaum mardika” di Hindia Belanda.

Takashi Shiraishi dalam buku berjudul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997) mencatat peran besar Tirto Adhi Soerjo pada masa kebangkitan dan bergerak. Tirto Adhi Soerjo melalui Medan Prijaji menyediakan beasiswa demi memajukan murid-murid bumiputra.

Medan Prijaji pun menjadi media untuk melancarkan bahasa yang sulit dipatuhkan pemerintah kolonial Belanda. Tirto Adhi Soerjo sering mencampur bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa dalam penulisan berita dan artikel. Bahasa bergelimang sindiran kepada kekuasaan dan pemilik modal.

Tak Mati-Mati

Di tangan Tirto Adhi Soerjo, Medan Prijaji sempat memiliki pelanggan tetap 2.000 orang. Ini pencapaian yang menimbulkan kecemasan di kalangan pers Eropa dan pemerintah kolonial Belanda. Pujian dan pengakuan para penulis sejarah Indonesia tak seheboh kalimat-kalimat buatan Pramoedya Ananta Toer.

Tirto Adhi Soerjo adalah ”orang pertama menerbitkan pers nasional dengan sadar membebani diri dengan tugas memajukan bangsa”, ”orang pertama menerbitkan berkala khusus untuk perempuan”, ”pribumi pertama menerbitkan harian”, dan ”pribumi pertama mengawali pendirian organisasi modern dengan jangkauan nasional.”

Dalam studi Pramoedya Ananta Toer, Tirto Adhi Soerjo itu tokoh tergiat dalam kurun kebangkitan nasional. Sekian kalimat mengarah kepada Tirto Adhi Soerjo di jalan pers dan perkumpulan. Kalimat untuk ketokohan di jagat sastra kalah bersaing meski Adrian Vickers dalam buku berjudul Sejarah Indonesia Modern (2011) menganggap Pramoedya Ananta Toer berambisi meninggikan gubahan-gubahan sastra Tirto Adhi Soerjo dari roman picisan ke sastra.

Segala pengakuan dan pengenalan biografi Tirto Adhi Soerjo kepada publik selama puluhan tahun tetap saja mengandung misteri. Hari-hari terakhir Tirto Adhi Soerjo, sepulang dari pembuangan, dihabiskan di Hotel Samirana (Weltevreden). Dulu hotel itu milik Tirto Adhi Soerjo dengan nama Hotel Medan Prijaji.

Kematian masih misterius seperti ditulis Pramoedya Ananta Toer: Ia menderita sakit apa? Mengapa dalam keadaan sakit bisa begitu lama tinggal di hotel? Pada saat Sang Pemula terbit, misteri itu belum terjawab. Kini, kita menjelang peringatan seabad kematian Tirto Adhi Soerjo sambil menanti jawaban atas misteri kematian dan misteri penentuan sejarah kelahiran pers Indonesia. Ia meninggal pada 17 Agustus 1918.

Penantian yang mungkin lama itu mendingan digunakan untuk merenungi petikan tulisan Tirto Adhi Soerjo di Medan Prijaji (1910) mengenai pers masa lalu: Didjaman Moeltatoeli pers beloem begitoe banjak dan beloem begitoe berani melakoekan kewadjiban sebagai pengawal pikiran orang banjak dan beloem begitoe berani menoendjoek segala kelakoean keliroe, tapi pada masa sekarang sudah lain, pers soedah mendapatkan kemadjoean dan dimana-mana tempat pendoedoek semakin mengerti faedahnja....”

Sekian pikiran Tirto Adhi Soerjo sudah dituliskan dan diwariskan kepada kita meski deretan misteri masa lalu belum juga terbuka menjelang seabad kematian Sang Pemula itu. Ia tokoh yang jelas ”tak mati-mati” dalam sejarah pers di Indonesia.