Kecewa Jokowi Pilih Ma'ruf Amin, Ini Kemungkinan Pilihan Ahokers

Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kedua kanan) tiba di gedung KPU untuk melakukan pendaftaran di Jakarta, Jumat (10/8 - 2018). (Antara/Hafidz Mubarak A)
11 Agustus 2018 19:00 WIB Adib Muttaqin Asfar/ Suara.com Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Keputusan bakal calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) dan Koalisi Indonesia Kerja memilih KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden (cawapres) tak hanya mengejutkan, tapi juga membuat sebagian kalangan kecewa. Kelompok yang paling kecewa adalah pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pasalnya, saat kasus penodaan agama, saat menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), lembaga itu mengeluarkan fatwa bahwa Ahok bersalah atas ucapannya mengenai Surah Al Maidah ayat 51. Fatwa itu yang menjadi dasar berbagai ormas melakukan aksi demo berjilid-jilid menuntut proses hukum terhadap Ahok, bahkan menuntut Ahok ditahan sejak awal.

Tokopedia

Kekecewaan itu dilontarkan oleh para Ahokers—sebutan bagi pendukung Ahok—di media sosial pascapengumuman Jokowi bahwa Ma'ruf Amin menjadi cawapres. Kekecewaaan itu dilontarkan dengan berbagai ekspresi, mulai dari hanya menyatakan kecewa hingga pernyataan tak akan mengikuti Pilpres 2019.

Dengan kata lain, mereka tidak akan memilih pasangan Jokowi – Maruf Amin maupun pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. Hal ini tentu menjadi kerugian bagi Jokowi yang selama ini juga didukung oleh para Ahokers yang dikenal militan.

Pengamat politik Hanta Yudha menjelaskan, terdapat dua kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Ahokers pada Pilpres 2019. "Jadi jawaban saya ada dua kemungkinan bagi Ahokers, pertama mereka memutuskan mengikuti Pilpres 2019 tapi memilih abstain atau sama sekali tidak mengikuti," katanya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2018), dilansir Suara.com.

Namun, terhadap pilihan tersebut, Hanta tidak menyetujuinya. Sebab, setiap orang dianjurkan untuk ikut berpartipasi dalam pesta demokrasi. "Yang kedua, bisa jadi tetap berpartisipasi dalam Pilpres 2019, tapi tak aktif sebagai relawan salah satu pasangan,” terangnya.

Menurut Direktur Lembaga survei Poltracking tersebut, politik tidak bisa memuaskan semua orang dalam menentukan kebijakannya. "Kalau kita kecewa terhadap sebuah merek, ada tiga yang bisa dilakukan. Pertama, akan mencari produk baru sebagai alternatif. Kedua, memutuskan untuk tidak menggunakan produk itu. Ketiga, akhirnya terpaksa memilih produk lama meski kecewa, karena saya menganggap lebih baik dari alternatifnya," tandasnya.

Sementara itu, dalam sebuah program di salah satu televisi swasta, Jumat (10/8/2018), Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menyatakan Jokowi berpotensi kehilangan pendukung Ahok. Selama ini pendukung Jokowi ada dua, yaitu loyalis Jokowi dan pendukung Ahok. Keputusan Jokowi menggandeng Ma'ruf Amin memang membuat sebagian Ahokers kecewa.

"Jokowi mungkin kehilangan dukungan pendukung Ahok. Tapi di sisi lain dia juga bisa meraih dukungan kelompok-kelompok relijius," kata Qodari.