Mahasiswa Termuda UGM Asal Solo Hobi Ngegame Sejak Balita

Nur Wijaya Kusuma bersama kedua orang tuanya. (Istimewa/Sapta Kusuma Brata)
11 Agustus 2018 11:00 WIB Insetyonoto Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Orang tua mahasiswa termuda Univeritas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta 2018 asal Solo, Nur Wijaya Kusuma, menyebut anaknya hanya beruntung bisa menjadi mahasiswa di usia 15 tahun.

Prestasi Nur Wijaya di sekolahnya biasa saja. Dia bahkan tak pernah masuk ranking 3 besar di kelasnya. Namun dia selalu lulus tes akselerasi sehingga bisa menyelesaikan SD-SMA lebih cepat dari siswa reguler.

Ayah Wijaya, Sapta Kusuma Brata, mengatakan anaknya memiliki kegemaran bermain game. Wijaya mulai main game sejak masuk playgroup usia 4 tahun menggunakan personal computer (PC) di rumah.

“Senang bermain game Baby Ball, balapan mobil Need for Speed, dan perang-perangan,” ujar warga Jl. Padjajaran Timur II No 24 Sumber, Solo.

Kegemaran main game ini, sambung Brata, berlanjut sampai masuk SD, SMP, sampai SMA. Ketika SMA sudah menggunakan smartphone sendiri.

Guru Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) SMAN 3 ini mengatakan Wijaya betah bermain game sampai berjam-jam di rumah. Meski begitu, Wijaya tidak pernah melupakan salat fardu lima waktu.

“Waktunya salat Wijaya akan berhenti main game untuk melaksanakan salat. Kalau salat Magrib berjamaah di Masjid Masyitoh dekat rumah,” jelasnya.

Dia menambahkan meski pediam, Wijaya senang bermain dengan teman sekolah seperti jalan-jalan di mal atau menonton film di bioskop. Meski anak tunggal, Wijaya tidak manja dan meminta yang macam-macam kepada orang tuanya. Bahkan di rumah Wijaya bisa memasak nasi dan membuat telur dan mi instan.

“Wijaya anaknya kritis, pernah bertanya kenapa tidak punya adik. Terus saya jelaskan adik merupakan karunia Allah,” ungkapnya.

Wijaya semula ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil jurusan Teknik Elektro, namun kemudian beralih ke UGM. “Kalau ke ITB jauh menengoknya. Istri saya [Uswatun Khasanah] sebenarnya tak tega lepas Wijaya di luar kota, tapi ini demi masa depannya,” ungkapnya.

Sementara itu, ketika hubungi Solopos.com, Wijaya mengatakan tidak punya resep khusus dalam belajar. Kuncinya hanya belajar secara rutin.

“Saya setiap hari setelah Salat Magrib dan Isa belajar sampai pukul 22.00 WIB. Sabtu dan Minggu refreshing bermain game,” ungkap remaja berkacamata ini.

Mengenai cita-citanya, Wijaya mengungkapkan sewaktu kecil dia ingin menjadi guru seperti ayahnya, tapi sekarang dia mengatakan belum memiliki cita-cita khusus. “Saat ini cita-cita saya kuliah cepat, insya Allah 3 tahun [lulus]. Setelah ini mau bekerja atau melanjutkan studi S2 belum tahu,” jelas dia.

Saat ini Wijaya masih beradaptasi di lingkungan tempat indekos di Jogja karena baru kali pertama hidup mandiri jauh dari orang tua. Mengenai pesan orang tua, Wijaya mengaku hanya diingatkan untuk selalu berhati-hati di Jogja karena kota besar. “Hati-hati jangan mudah percaya orang lain,” kata dia.