Demokrat Tak Ada di Deklarasi Prabowo-Sandiaga Uno

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan keterangan pers seusai pertemuan di Jl Kertanegara, Jakarta, Senin (30/7 - 23018). (Antara / Sigid Kurniawan)
10 Agustus 2018 00:11 WIB Jafar Sodiq Assegaf Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Kamis (9/8/2018) sekitar pukul 11.30 WIB, akhirnya mengumumkan Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang bakal mendampinginya dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pilihan akhirnya jatuh ke sosok Sandiaga Salahudin Uno.

Pasangan Prabowo-Sandi, bakal diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Gerindra. Tanpa keberadaan Partai Demokrat. "Pimpinan dari 3 parpol, PKS, PAN, dan Partai Gerindra telah memutuskan dan memberi kepercayaan kepada saya, Prabowo Subianto dan saudara Sandiaga Salahuddin Uno untuk maju sebagai capres dan cawapres RI untuk masa bakti 2019-2024," ujar Prabowo.

Tokopedia

Sedangkan sebelumnya, Partai Demokrat menegaskan menolak Sandiaga Uno menjadi calon wakil presiden Prabowo Subianto untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Hal ini disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Andi Arief melalui akun twitternya.

"Sikap Partai Demokrat sampai pk 22.30 malam ini adalah menolak pencawapresan Sandi Uno. Karena melanggar etik koalisi berasal dari Partai Gerindra sama dengan Capres Prabowo dan belum menerima alasan Prabowo tidak menunjuk AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), karena PAN dan PKS menolak,” tulis @AndiArief_.

Belum ada keterangan secara resmi langkah politik partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut. Yang pasti, langkah ini sama seperti Pilpres 2014, saat Jokowi-JK berebut kursi kepemimpinan melawan Prabowo-Hatta, Demokrat mengambil jalan tengah dengan tidak mendukung keduanya.

Sedangkan pada saat deklarasi, Prabowo mengawali pidato dengan mengatakan bahwa dirinya telah membangun komunikasi dengan banyak pihak. "Saya pun berunding terus dengan PAN, PKS, dan Demokrat. Memang membangun koalisi tidak mudah, karena banyak yang harus kita pertemukan," katanya sebagaimana ditayangkan di sejumlah televisi swasta nasional, Kamis.

Sejak lama, lanjut Prabowo, Gerindra telah membentuk koalisi de facto dengan PAN dan PKS. Oleh karenanya, koalisi yang dijalin disebutnya telah solid dan teruji. "Koalisi ini sudah menghadapi berbagai macam ujian. Kita telah teruji sejak lama terutama pada Pilkada Gubernur DKI tahun 2017," ungkapnya.

Prabowo juga mengaku telah berusaha membangun koalisi besar. "Saya sudah bertemu dengan banyak pihak, termasuk Mbak Puan [Maharani], pak Susilo Bambang Yudhoyono. Kita sudah berusaha komunikasi membangun koalisi yang besar untuk memberi solusi untuk kesulitan bangsa Indonesia," katanya.

Meski begitu, Prabowo tetap harus menentukan satu sosok Cawapres yang akhirnya jatuh ke Sandiaga Uno.