Mahfud MD Batal Cawapres, Romahurmuziy: yang Mencuatkan Siapa?

Ketua Umum PPP Romahurmuzy alias Gus Romi. (Antara/M. Agung Rajasa)
09 Agustus 2018 19:21 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Sering memberikan petunjuk tentang nama calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy ditanya tentang Mahfud MD. Pasalnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut menjadi nama yang paling santer disebut sebagai cawapres Jokowi.

"Yang mencuatkan siapa?" jawab Romahurmuziy seusai konferensi pers Jokowi dan pimpinan parpol koalisi di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8/2018) malam. "Cek dari awal saya konsisten, saya mengusulkan Kiai Ma'ruf, satu-satunya tokoh dari 10 nama yang sudah saya sampaikan, saya jamin atas petunjuk presiden akan keluar 10 nama, 10 Juli yang saya sebutkan namanya dengan alasannya adalah Pak Ma'ruf," katanya.

Kejutan dalam pemilihan Ma'ruf Amin ini muncul di menit-menit akhir menjelang pengumuman. Sebelumnya, Mahfud MD pada Kamis siang menjawab secara langsung kepastian dirinya sebagai cawapres Jokowi saat ditanya wartawan di rumahnya di Jakarta.

"Menurut saya ini panggilan sejarah. Karena seperti Anda tahu, pergulatan politinya agak panjang dan agak kritis akhir-akhir ini. Pada akhirnya keputusan sangat mudah dan smoooth, dan jatuh kepada saya, dan saya anggap ini panggilan sejarah," kata Mahfud saat keluar dari rumahnya menjelang masuk mobil untuk perjalanan menuju Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8/2018), yang disiarkan live oleh Metro TV.

Mahfud sendiri mengakui bahwa dirinya sudah dimintai dokumen berupa curiculum vitae (CV) dirinya kepada politikus PDIP yang juga Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Dia juga sudah diminta stand by oleh Sekretaris Negara Pratikno untuk bersiap-siap.

Belakangan, Mahfud diketahui berangkat ke kawasan Menteng, namun tidak ke tempat pertemuan Jokowi dan pimpinan parpol pengusungnya di Pelataran, Menteng. Awalnya Mahfud dijadwalkan bertemu Jokowi seusai magrib, namun ternyata dipastikan batal.

Romahurmuziy menyebut alasan pemilihan Ma'ruf Amin adalah ingin menyandingkan tokoh nasionalis dengan tokoh religius. "Republik ini dibangun di atas pelangi nasionalis dan religius, semua pemimpin Indonesia itu selalu menunjukkan itu," katanya merujuk pada era Gus Dur-Megawati, Megawati-Hamzah Haz, SBY-JK, dan Jokowi-JK.

Selain itu, dia mengakui bahwa nama Ma'ruf Amin juga dipilih untuk mengatasi politisasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang menguat sejak Pilpres 2014.  "Keterbelahan karena isu politik, Pilpres 2014,  pilkada serentak terutama Pilkada Jakarta, karena itu kami kami ingin bisa meredam isu kebencian," ujarnya.