Diprotes, UMS Siap Gelar Tes Ulang Seleksi Perdes Sragen

Peserta seleksi perdes Sragen audiensi dengan panitia dari UMS di Kampus UMS Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (9/8 - 2018). (Solopos/Iskandar)
09 Agustus 2018 18:15 WIB Iskandar Nasional Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Puluhan peserta tes calon perangkat desa (caperdes) dari beberapa desa di Sragen menggeruduk kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (9/8/2018) siang.

Kedatangan mereka mempertanyakan penilaian hasil tes seleksi perdes yang janggal. Salah satu peserta seleksi asal Desa Kecik, Kecamatan Tanon, Sragen, Joko Kusyanto, mengatakan hasil tes ada indikasi tidak murni karena ada kejanggalan-kejanggalan. Di sisi lain, panitia seleksi dari UMS menyatakan siap menggelar tes ulang dengan biaya sepenuhnya ditanggung UMS.

Tokopedia

“Saya mengimbau pihak terkait termasuk bupati dan stafnya tolong klarifikasi tentang masalah ini. Kemarin ada salah satu calon yang tidak bisa mengerjakan tes dan keluar ke belakang untuk merokok, kok tiba-tiba jawaban bisa jadi dan nilainya tertinggi di satu grup,” ujar Joko ketika ditemui di sela-sela menunggu pertemuan dengan panitia dari UMS.

Peserta lainnya, Windu dari Kecamatan Tanon juga menduga ada indikasi ketidakberesan dalam rekrutmen perangkat desa di wilayahnya. Dia menilai beberapa peserta tes komputer dasar berupa Word dan Excel yang tidak paham justru mendapat nilai tinggi.

Ita Nur Ahsanai dari Kecik, Tanon, juga mengeluhkan ketidakberesan seleksi perdes. Dia mengaku tak puas dengan hasil tes yang diperolehnya di bawah ekspektasi.

“Saya tahu seberapa kemampuan beberapa peserta tes lainnya yang nilainya justru di atas saya. Ada yang lolos seleksi itu duduknya ketika tes di depan saya. Lembar jawabannya tidak dikerjakan tapi nilainya lebih dari saya yang mengerjakan soal,” kata lulusan PGSD UMS 2011 ini.

Dia mengaku kecewa dengan hasil tes itu. Dia meminta persoalan ini diusut tuntas. Setidaknya agar diungkap kenapa hal ini bisa terjadi sehingga tidak meresahkan para peserta tes seleksi perdes.

Peserta lainnya, Suryani dari Desa Jono, Tanon, juga menumpahkan kekecewaannya saat dialog dengan Ketua Pelaksana Seleksi Sudaryono di Gedung Siti Walidah. Dia menilai persoalan ini harus segera diusut tuntas.

Di sisi lain, dia juga mengaku mendapat informasi adanya permainan oleh oknum di desa. “Jabatan yang sekarang kosong diperjualbelikan dengan imbalan antara Rp100 juta sampai Rp400 juta,” ujar dia.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut Ketua Pelaksana Seleksi, Sudaryono, mengatakan sebagai manusia tak menampik bisa melakukan kesalahan. “Sebagai manusia kami sadar bisa salah. Demikian juga peserta seperti dikatakan tadi juga bisa salah. Untuk itu seperti permintaan Anda tadi, kalau ingin tes ulang kami siap menyelenggarakan tes ulang yang biayanya ditanggung UMS,” ujar dia disambut tepuk tangan dan teriakan setuju para peserta seleksi.

Panitia berjanji berusaha tidak mengulang kesalahan yang sama. “Bukankah keledai saja tidak mau terperosok dua kali di lubang yang sama?” ujar dia.

Puluhan peserta seleksi perdes Sragen itu datang ke kampus UMS menggunakan satu bus dan kendaraan roda dua. Mereka berkumpul di GOR UMS terus menuju ke Gedung Siti Walidah.