Ke Korsel, Pelajar SMAN 1 Solo Pencipta Detektor Longsor Butuh Sponsor

Alat peringatan dini tanah longsor Landslide Sengon Detector (LS/D). (Istimewa/Muhammad Ilham Akbar)
09 Agustus 2018 12:15 WIB Insetyonoto Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Wilayah Desa Bulurejo, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, yang letaknya di lereng perbukitan kerap dilanda bencana tanah longsor.

Bencana tanah longsor di Bulurejo paling parah terjadi pada pada 29 November 2016 yang menyebabkan tiga warga meninggal dunia. Kejadian ini mengundang keprihatinan Zahwa Devarrah, warga Klatak, Karangpandan, yang berjarak sekitar 1,5 km dari lokasi longsor maut 2016 lalu.

Siswi Kelas XII SMAN 1 Solo ini berpikiran bila ada alat yang bisa memberikan peringatan sebelum terjadinya tanah longsor, mungkin tidak akan sampai menimbulkan banyak korban jiwa.

“Saya kemudian berupaya membuat alat yang dapat memberikan peringatan akan terjadinya tanah longsor,” kata Zahwa saat berbincang dengan Solopos.com di Ruang Humas SMAN 1 Solo, Rabu (8/8/2018).

Siswa SMAN 1 Solo, Zahwa dan Ilham, pencipta detektor longsor. (Solopos-Insetyonoto)

Ilham dan Zahwa. (Solopos-Insetyonoto)

Zahwa menyampaikan gagasan itu kepada temannya, Muhammad Ilham Akbar, yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Dengan bimbingan guru KIR, Kuroto A’yun, Zahwa dan Ilham membuat alat deteksi atau peringatan dini longsor yang diberi nama Landslide Sengon Detector (LS-D) pada 2017.

Komponen LS-D terdiri atas arduino; radio pemancar; power bank; sensor; Secure Digital (SD) card, dan alarm. Alat tersebut digerakkan pakai aki 3,5 Ampere atau empat baterai berkekuatan 12 volt.

Pembuatan LS-D, sambung Zahwa, memakan waktu selama dua bulan dengan biaya Rp500.000. Cara kerja LS-D dengan diikatkan pada batang pohon sengon. Bila terjadinya pergerakan tanah akan mengubah kemiringan pohon tersebut.

LS-D kemudian akan mengirim sinyal ke radio pemancar, dan alarm akan berbunyi seperti sirene yang menandakan akan terjadi tanah longsor.

“Bila pohon sengon miring 10 derajat, LS-D akan kirim sinyal ke radio pemancar yang kemudian diteruskan ke radio milik warga pada gelombang 89,6 FM agar waspada tanah longsor,” jelas Zahwa.

Kenapa menggunakan pohon sengon? Menurut Zahwa, Desa Bulurejo dan sejumlah daerah Karanganyar banyak ditumbuhi pohon sengon. “Inilah yang membedakan dengan alat sejenis. Kami yang pertama memanfaatkan pohon sengon sebagai indikator pergerakan tanah,” ungkapnya.

Muhammad Ilham Akbar menambahkan LS-D meraih juara ketiga pada lomba yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2017. “Waktu itu LS-D masih sederhana berupa bandul dialirkan yang akan bergoyang bila ada getaran tanah,” ujar siswa kelas XII ini.

Ilham mengatakan LS-D kemudian disempurnakan menjadi digital yang lebih praktis saat mewakili Indonesia dalam The Fourth ASEAN Student Science Project Competition (ASPC) 2018.

Pada ajang ASPC 2018 di Thailand 22-26 Juli 2018 itu, Indonesia mengirimkan karya ilmiah lima pelajar sekolah dari sejumlah daerah. “LS-D mendapatkan medali perungggu bidang Biologi Science,” ungkap dia.

Dia menambahkan oleh rumah KIR Indonesia, LS-D bersama 12 karya pelajar lainnya juga diikusertakan pada ajang Expo Sains Asia (SEA) di Daejeon, Korea Selatan, yang berlangsung 18-21 Oktober 2018.

Permasalahannya, imbuh Ilham, keikutsertaan L-SD ke SEA terkendala dana karena membutuhkan biaya kurang lebih Rp20 juta. “Saya masih mencari sponsor dana agar bisa berangkat ke SEA,” kata Ilham.

Ilham akan berangkat sendiri ke Korea Selatan karena Zahwa tidak ikut. “Biayanya besar, saya akan konsentrasi belajar menghadapi ujian saja,” ujar Zahwa sambil tersenyum.

Sementara itu, Wakil Kepala SMAN 1 Bidang Kesiswaan Agus Suryanto mengatakan sekolah akan berusaha membantu mencarikan dana. “Sekolah juga sebelumnya membantu dana Zahwa dan Ilham ikut lomba di LIPI dan Thailand,” kata dia.