Dianggap Tak Pro-Islam, Begini Jawaban Jokowi

Presiden Jokowi menyampaikan ucapan menyambut Ramadan 1439H, di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, Kamis (17/5 - 2018). (Setkab.go.id)
09 Agustus 2018 09:30 WIB Septina Arifiani Nasional Share :

Solopos.com, BOGOR – Presiden Jokowi menjawab tudingan yang menyebut dirinya antek asing dan tidak pro-Islam.

Jokowi mengaku tidak mengerti dengan isu tersebut, mengingat dirinya muslim, tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tahu ke mana-mana dengan KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat). Bahkan tiap pekan, lanjut Presiden, dirinya masuk ke pondok-pondok pesantren.

“Untuk apa? Saya ingin melihat secara langsung sebetulnya problem kesulitan yang kita hadapi ini apa,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8/2018) pagi.

Menurut Presiden sebagaimana dilansir Setkab.go.id, Rabu, pemerintah juga telah membuka 40 bank wakaf mikro di pesantren-pesantren. Masing-masing bank wakaf mikro ini, tambah Presiden, juga diberi modal Rp40 miliar.

Pemerintah bertekad akan memperbanyak lagi jumlah bank wakaf mikro itu. Termasuk yang berkaitan dengan kemitraan, lanjut Presiden, misalnya seperti NU dengan Garuda Food menanam kacang berapa ratus hektar di Jawa Timur.

Kemitraan-kemitraan seperti ini, kata Presiden, yang akan memperbaiki perekonomian umat. Tanpa pendekatan-pendekatan ekonomi seperti itu, sambung Presiden, maka jurang (gap) antara yang kaya dan yang miskin akan semakin lebar.

“Inilah upaya-upaya yang harus kita lakukan. Jangan sampai ada suara-suara seperti Jokowi tidak pro-Islam,” ujar Presiden seraya mempertanyakan yang membuat Peraturan Presiden (Perpres) tentang Hari Santri Nasional itu siapa? “Masa sudah kayak begitu tidak pro-Islam,” sambungnya.

Untuk itu, Presiden Jokowi mengajak masyarakat tidak terjebak pada isu-isu politik. Ia menilai, isu-isu tersebut penyebabnya adalah urusan politik. Urusan pilihan Bupati, urusan pilihan Gubernur, pilihan Wali kota, Pilihan Presiden.

“Ini semua dimulai dari situ. Jangan diteruskan. Setop,” pinta Presiden seraya menyebutkan, itu semua karena pintarnya orang-orang politik memengaruhi, dan banyak yang terpengaruh.

Tokopedia