Zohri dan Pemilu

Abu Nadhif - Dokumen Solopos
08 Agustus 2018 17:14 WIB Abu Nadhif Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (6/8/2018). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Saya tidak tahu apakah Fauzan Noor, sang juara dunia karate tradisional asal Indonesia, sudah berterima kasih kepada Lalu Muhammad Zohri atau belum. Jika belum, semoga Fauzan segera melakukan itu.

Tokopedia

Berkat sang juara dunia lari asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, itulah Fauzan jadi kaya mendadak. Berbagai hadiah dikirim ke rumah dia meskipun terlambat lebih dari enam bulan sejak ia menjuarai International Traditional Karate Federation (ITKF) di Praha, Republik Ceko, akhir 2017 hingga awal 2018 lalu.

Hadiah itu bukan sekadar terlambat datang, bahkan terlambat dipikirkan. Fauzan--karateka berusia 20 tahun yang bernaung di  Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI)--mendapat tuah kehebatan media sosial.

Setelah Zohri mengalahkan pelari Amerika Serikat di lomba lari dunia beberapa pekan lalu dan mendapat bonus dari pemerintah, publik dunia maya mengarahkan telunjuk ke Fauzan.

Kenapa sama-sama juara dunia, sama-sama mengharumkan nama negara, perlakuan yang diterima berbeda? Zohri menjadi jutawan, bahkan sebelum dirinya pulang ke Indoensia, sementara Fauzan tak mendapatkan penghargaan serupa, baik dari negara/pemerintah, perusahaan, maupun para dermawan.

Alih-alih hadiah, duit utangan untuk biaya ke Praha pun belum terbayar. Selama dua pekan di Republik Ceko, Fauzan dan pelatihnya, Mustafa, hanya mengantongi duit Rp600.000. Dana untuk ikut kompetisi dan tiket pesawat Rp50 juta dari berutang.

Selama kejuaraan di Ceko, mereka berdua membekali diri dengan mi instan, kacang bungkus, telur asin, dan ikan asin. Fauzan yang menjadi juara tak kalah heroik daripada Zohri. Lawan-lawan Fauzan bertubuh lebih tinggi dan besar.

Di babak final, pemuda asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu harus menghadapi tuan rumah yang bertubuh 20 kg lebih berat dan 20 cm lebih tinggi dari dirinya. Di karate tradisional petarung tidak mengenal kelas.

Yang penting masuk kategori senior (minimal berusia 17 tahun), layak dipertandingkan berapa pun berat badan. Setelah ramai di Internet, dermawan berdatangan. Ada yang menawari Fauzan pekerjaan, ada pula yang menyumbang uang.

Begitulah. Pada ”zaman now”, sehebat apa pun Anda (mungkin) harus jadi konten viral dulu baru mendapat apresiasi. Kisah Fauzan ini cerita klasik. Penghargaan dan perhatian sering datang terlambat.

Indonesia memiliki banyak mutiara terpendam di berbagai bidang; olahraga, seni, pendidikan, dan sektor lainnya. Selain Fauzan dan Zohri, ada Samantha Edithso, bocah asal Bandung yang menjadi juara dunia catur di Minks, Belarusia, pada Juli 2017.

Sama dengan Fauzan, apresiasi untuk Samantha datang terlambat. Ia mendapat tuah dari Zohri effect. Kisah Fauzan dan Samantha—dan juga masih banyak lagi talenta hebat negeri ini—merupakan kisah klasik kekurangpedulian dan kurangnya penghargaan negara atas kemampuan anak negeri.

Negara kerap terlambat menyadari ada emas berkilau. Talenta-talenta hebat itu kerap merasa sendirian, padahal mereka berjibaku mengharumkan nama bangsa dan negara. Saya teringat keluh kesah Indra Sjafrie kala kali pertama membangun skuat tim nasional U19 pada 2012.

Dengan dana pribadi ia bepergian keliling Indonesia demi mencari talenta-talenta hebat di lapangan hijau. Ia punya mimpi membangun tim nasional Indonesia yang menjadi macan Asia seperti era 1960-an hingga 1970-an.

Mimpi itu mulai menjadi kenyataan saat skuat yang dibangun Indra Sjafrie berhasil menjuarai Piala AFF U19 pada 2013 di Sidoarjo, Jawa Timur. Sayang, setelah sukses Garuda Muda dijadikan komoditas politik. Mereka dikomersialkan dengan aneka uji coba melawan tim-tim lokal dan luar negeri.

Timnas U19 mendadak menjadi penghasil pundi-pundi uang bagi PSSI. Akibatnya, saat diuji pada pertandingan sesungguhnya (Piala Asia U20) mereka antiklimaks. Gagal total. Saat terpuruk itu, Indra Sjafrie merasa sendirian. Tidak ada lagi dukungan seperti saat ia dan tim meraih juara.

Mantan pelatih Semen Padang itu disalahkan karena gagal di event resmi. ”Jika tidak ada Cak Nun [Emha Ainun Najib], mungkin saya sudah ditembak saat di Myanmar” kata Indra dalam salah satu acara Maiyahan, acara yang dipandu Cak Nun, pada 2014.

Begitulah nasib para pengharum nama bangsa. Mereka dipuja-puja saat juara dan diabaikan begitu saja saat tak menghasilkan piala. Mumpung berada di event besar politik—pemilihan umum 2019—mari berkeluh kesah tentang hal ini.

Mungkin tidak akan seketika mengubah keadaan tapi semoga keluh kesah ini nyanthol di benak salah satu calon pemimpin sehingga saat berkuasa ia berbuat sesuatu yang lebih baik bagi para pengharum nama bangsa.

Dulu pada era Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault ada program satu rumah satu Atlet, penghargaan bagi para mantan atlet yang hidupnya susah. Entah apakah program itu masih berjalan atau tidak sekarang.

Tradisi di negeri ini adalah berganti pemimpin berganti pula semua program kerja. Saatnya negara lebih peduli dengan talenta anak bangsa. Jangan hanya olahraga populer yang mendapat perhatian.

Cabang olahraga yang lain juga harus mendapatkan porsi yang adil. Mereka—para atlet--punya peluang yang sama untuk menorehkan prestasi. Kasus Fauzan ini anomali. Federasi karate tempat ia bernaung belum terdaftar di KONI.

Otomatis tidak ada perhatian apalagi pendanaan bagi para atlet di federasi tersebut, padahal terbukti saat bertarung dengan atlet dari berbagai negara Fauzan mampu menjadi yang terbaik.

Pemerintah janga hanya fokus pada olahraga yang mempunyai nilai jual tinggi semacam sepak bola, bulu tangkis, dan tinju. Semau cabang olahraga perlu perhatian dan pembinaan secara serius serta berkelanjutan. Melalui pembinaan yang baik, bibit-bibit emas akan bermunculan.

Hidup Merana

Sejarah membuktikan Indonesia tidak kekurangan atlet berbakat. Mereka hanya butuh perhatian dan fasilitas. Kasus Fauzan salah satu contohnya. Dimulai dari persiapan secara mandiri, saat berangkat pun ia dan pelatihnya harus berutang untuk membeli tiket pesawat.

Terbukti, dengan segala keterbatasan yang ia miliki Fauzan mampu mempersembahkan yang terbaik untuk negerinya. Kondisi Muhammad Zohri sebenarnya mirip dengan Fauzan. Modal semangat membara membuat ia mampu mengatasi segala keterbatasan finansial sebagai atlet.

Dengan asupan gizi yang pas-pasan untuk ukuran atlet, ia mampu mengalahkan para pelari dunia yang notabene lebih terjamin gizi dan nutrisinya. Keuletan sukses mengguncang dunia atletik yang selama ini identik dengan dua negara, Amerika Serikat dan Jamaika.

Tak kalah pentingnya adalah penghargaan setelah sang atlet pensiun. Tak semua atlet seberuntung Chris John, mantan juara dunia tinju kelas bulu, yang setelah gantung sarung tinju tetap laku jadi bintang iklan. Sang Dragon--julukan Chris John--kini bahkan laku di dunia politik dengan menjadi calon anggota legislatif dari Partai Nasional Demokrat.

Banyak atlet yang setelah pensiun hidup merana. Contohnya Suharto, peraih medali emas balap sepeda SEA Games 1979 yang kini bekerja sebagai penarik becak di Surabaya. Lenni Haeni, atlet dayung yang meraih 20 medali emas dan perak untuk Indonesia, kini bekerja sebagai buruh mencuci. Ada juga atlet yang menjual medali yang ia peroleh karena kehabisan beras.

Yang paling fenomenal tentu saja kisah Ellias Pical, juara tinju dunia kelas bantam yang sempat menjadi tukang pukul di sebuah klub malam sebelum kemudian dipekerjakan sebagai karyawan di sekertariat KONI setelah kisah hidupnya diungkap media.

Kita berharap pemimpin-pemimpin yang terpilih dalam pemilihan umum 2019 mendatang mampu merumuskan aturan yang berorientasi pada kepedulian terhadap aset bangsa. Tentu saja bukan aturan yang hanya diterapkan saat mereka berkuasa tapi juga bisa diteruskan pada masa sesudah mereka.