PKB Keluar Koalisi Jokowi? Pengamat: Masa Gabung PKS?

08 Agustus 2018 21:45 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Peluang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)  keluar dari koalisi jika Muhaimin Iskandar (Cak Imin) gagal jadi cawapres Joko Widodo (Jokowi) dinilai kecil. Pengamat Politik Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai PKB bakal sulit keluar dari koalisi partai-partai pendukung Jokowi, apalagi bergabung dengan PKS.

"Tidak. Akan sulit bagi PKB keluar. Mau ke mana? Mau gabung dengan PKS sulit. Warga Nahdlatul Ulama yang jadi basis massa PKB lebih tidak bisa terima koalisi dengan PKS ketimbang tak dapat jatah dari Jokowi,” kata Ray di D Hotel, Jl Sultan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (8/8/2018), dilansir Suara.com.

Ray berpendapat sulitnya PKB bergabung dengan PKS bukan tanpa alasan. Sejak Pemilu 2004, 2009, dan 2014, PKS dan PKB tidak pernah berada dalam satu koalisi. Apalagi saat ini, ada ketegangan kedua partai setelah banyak petinggi PKS menyindir Kiai NU Yahya Cholil Staquf pergi ke Israel beberapa waktu lalu.

"Pascakunjungan salah satu ulama yang dihormati NU ke Israel, itu kan ada yang berbalas pantun dan semakin keras, membayangkan PKB sulit bergabung dengan PKS, sulit," jelasnya.

Menurut Ray, jauh lebih mudah menjelaskan pada warga NU atau PKB tetap berkoalisi dengan kubu Jokowi namun tidak mendapat jatah wakil presiden. "Jauh lebih mudah menjelaskan kepada warga NU-nya atau PKB-nya berkoalisi dengan Jokowi tapi tak dapat kursi cawapres, daripada harus berkoalisi dengan PKS," tandasnya.

Kecilnya peluang terjadinya poros baru yang terdiri atas PAN, PKS, dan PKB juga diungkapkan kubu PAN. Wasekjen PAN Yandri Susanto mengatakan peluang terbentuknya koalisi poros ketiga antara PAN, PKS dan PKB, memerlukan sebuah keajaiban.

"Dalam parpol dinamika sangat tinggi dan masih ada jeda waktu, semua masih bisa terjadi. Tapi kalau menurut kami, itu [koalisi PKS-PKB-PAN] perlu keajaiban, perlu sesuatu yang luar biasa," kata Yandri di Jakarta, Rabu, saat ditanya peluang terbentuknya poros ketiga.

Keajaiban atau hal luar biasa yang dimaksud Yandri contohnya, jika Prabowo memilih cawapres yang tidak disetujui seluruh partai pendukung. "Hal luar biasa itu misalnya, kalau Pak Prabowo, misalnya, memaksakan lalu semua partai koalisi tidak setuju. Misalnya, PKS, PAN, Demokrat (bentuk poros ketiga) kan cukup tuh," kata dia.

Meskipun demikian, Yandri meyakini akan tercapai kesepakatan secara mufakat antara partai koalisi. Dia menekankan selama ini komunikasi Prabowo dengan PAN juga sangat baik. "Insya Allah Pak Prabowo mendengar aspirasi PAN," jelasnya.

Sumber : Suara.com, Antara