Prediksi & Peluang 6 Tokoh Jadi Cawapres Jokowi

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kiri) dan Menpora Imam Nahrawi memberikan keterangan terkait gempa lombok berkekuatan 7 pada skala richter (SR) seusai meninjau latihan pelatnas Pencak Silat di TMII, Jakarta, Senin (6/8/2018). (Antara-Wahyu Putro A - )
08 Agustus 2018 21:18 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Inisial M sering disebut-sebut sebagai sosok yang akan menjadi calon  wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. Namun ada banyak sosok berinisial M dan tokoh selain berinisial M pun masih punya peluang menjadi cawapres Jokowi. Lalu bagaimana peluang mereka? Berikut peluang mereka satu per satu:

1. Mahfud MD

Mahfud MD adalah salah satu nama terkuat untuk menjadi cawapres Jokowi. Dia bisa dianggap sebagai representasi massa NU dan memiliki pengalaman luas di lembaga eksekutif (Menteri Pertahanan era Gus Dur), legislatif (anggota DPR 2004-2008), dan yudikatif (Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013). Politikus PDIP loyalis Jokowi, Maruarar Sirait, mengungkap sinyal yang cocok dengan kriteria Mahfud. "Yang jelas dia sportif, berani menegakkan Pancasila dan dekat dengan wartawan," ujar Ara pula.

Namun, langkah Mahfud bisa terhambat oleh manuver PKB yang mencalonkan Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Pimpinan PBNU juga tidak memasukkan Mahfud MD dalam 4 nama yang direkomendasikan kepada Jokowi. Meski demikian, putri Gus Dur, Yenny Wahid, mengungkapkan bahwa Mahfud MD bisa diterima oleh keluarga besar Presiden Ke-3 RI itu.

2. Moeldoko

Moeldoko menjadi calon terkuat bersama Mahfud MD. Pengamat politik dari PARA Syndicate, Ari Nurcahyo memprediksi jika Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpasangan dengan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), maka peluang Moeldoko dipilih sebagai cawapres Jokowi lebih besar ketimbang Mahfud MD.

"Kalau chemistry terhadap lingkungan politik kompetisi yang akan berlangsung karena militer-militer, Prabowo-AHY, menurut saya, (kubu Jokowi) harus punya akses kuat kepada militer, karena apapun networking jaringan militer harus juga bisa digunakan," katanya, Minggu (5/8/2018).

3. Jusuf Kalla

Peluang Jusuf Kalla sudah tertutup mengingat Pasal 7 UUD 1945 menyatakan presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun, sesudahnya mereka dapat dipilih dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. Namun ada skenario lain sambil menunggu yudisial review pasal tersebut. Jika Mahkamah Konstitusi (MK) menyetujui yudisial review pasal tersebut, maka JK tetap bisa menjadi kandidat kuat cawapres Jokowi.

4. M Romahurmuziy

Ketua Umum PPP M Romahurmuziy memiliki kans sebagai cawapres Jokowi berbekal rekomendasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dia menyatakan dirinya masuk dalam empat nama cawapres pendamping Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 hasil sidang pleno PBNU. Romahurmuziy bisa dinilai sebagai representasi kader NU sekaligus ketua partai yang berbasis massa NU.

5. KH Ma'ruf Amin

Sebagai salah satu kiai sepuh NU, peluang Ma'ruf Amin sangat besar. Selain menjadi salah satu nama yang direkomendasikan sebagai cawapres Jokowi oleh PBNU, Ma'ruf menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di NU dan memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ma'ruf juga telah menyatakan siap jika harus menjadi cawapres.

6. Muhaimin Iskandar

Dari sekian nama yang berpeluang menjadi cawapres Jokowi, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar adalah nama yang paling getol menawarkan dirinya sebagai cawapres. PKB bahkan sudah mendeklarasikan pasangan Jokowi-Muhaimin atau Join, dan muncul isu PKB akan bergabung dengan poros ketiga jika Cak Imin tak jadi cawapres Jokowi. Namun, pengamat politik memandangnya lain.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komaruddin berharap Cak Imin lebih realistis dalam berpolitik saat ini jika sulit untuk membentuk poros ketiga pilpres 2019. PKB, katanya, juga tidak bisa menjual Cak Imin secara utuh, karena ada kasus kardus durian yang terjadi saat Cak Imin menjadi Menakertrans 2011 lalu. Dengan demikian sulit untuk membentuk poros ketiga pilpres, karena Jokowi sudah berhasil mengunci PKB dengan sempurna.

Sumber : Bisnis/JIBI, Antara