Dituding Tak Pro-Islam, Jokowi: yang Bikin Perpres Hari Santri Siapa?

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato dalam acara Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII dengan tema "Mencetak Kader Pemimpin Muslim Berparadigma Wasathiyah" di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8 - 2018). Acara ini diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor. (Bisnis / Yodie Hardiyan)
08 Agustus 2018 18:33 WIB Yodie Hardiyan Nasional Share :

Solopos.com, BOGOR -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanggapi isu yang dihembuskan oleh sejumlah kalangan bahwa dirinya tidak "pro-Islam". Tanggapan itu disampaikan oleh Presiden ketika menyampaikan pidato dalam acara Pembukaan Pendidikan Kader Ulama XII yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8/2018).

Presiden menyatakan keheranannya mengenai isu tersebut karena dirinya adalah seorang muslim. Di samping itu, hampir setiap pekan atau bulan, Presiden pergi dengan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin. Selain itu, Presiden mengatakan dirinya juga sering bersama Imam Besar Masjid Besar Istiqlal Nasaruddin Umar.

Tokopedia

Presiden juga menyatakan hampir setiap pekan dirinya pergi ke pondok pesantren. "Untuk apa? Saya melihat secara langsung problem dan kesulitan yang kita hadapi itu apa," kata Presiden.

Di pondok pesantren, ujar Jokowi, pemerintah sedang mendorong berdirinya bank wakaf mikro. Sejauh ini, sebut  Jokowi, jumlah bank wakaf mikro yang telah berdiri di lingkungan pesantren mencapai 40 bank. Setiap bank wakaf mikro mendapatkan modal sekitar Rp8 miliar.

"Ini akan lebih banyak yang kita buka untuk bank wakaf mikro dan juga berkaitan dengan kemitraan. Misal [contoh kemitraan], NU dengan Garuda Food menanam kacang berapa ratus hektare di Jawa Timur juga. Kemitraan-kemitraan seperti ini yang akan memperbaiki ekonomi umat kita," kata Presiden.

Jokowi mengatakan tanpa pendekatan ekonomi seperti itu, maka jurang antara orang kaya dan miskin akan semakin lebar. Presiden Jokowi berharap tidak ada lagi suara-suara yang menyatakan bahwa dirinya tidak pro-Islam.

"Yang membuat Perpres [Peraturan Presiden] Hari Santri Nasional itu siapa? Masak sudah kayak begitu dibilang tidak pro Islam? Ya, kalau saya sudah biasa. Jadi wali kota [Wali Kota Solo] dimaki-maki, jadi gubernur [Gubernur DKI Jakarta] ya sama saja. Waktu Presiden lebih-lebih," kata Jokowi.

Menurutnya, sikap terhadap dirinya itu tidak sesuai dengan nilai-nilai etika, agama dan budaya yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Presiden berharap masyarakat tidak terjebak dalam isu-isu politik yang disebutnya karena andil para politikus.