Metode Ceramah Bikin Siswa Takut Berpendapat dan Bertanya

Ilustrasi pelajar (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
08 Agustus 2018 16:06 WIB Ayu Prawitasari Nasional Share :

Solopos.com, TASIKMALAYA — Metode guru mengajar di kelas dengan cara ceramah membikin siswa takut berpendapat dan bertanya.

Kondisi itu mengemuka dalam acara Sosialisasi Kesiapan Guru Menyongsong Pendidikan Abad ke-21 di Hotel Santika Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (7/8/2018), seperti dilansir Kemendikbud.go.id, Rabu (8/8/2018). Guru diminta terus mengevaluasi metode mengajar yang mereka terapkan di kelas.

"Sudah bukan saatnya lagi memulai pelajaran dengan perintah seperti anak-anak buka buku halaman sekian, baca dalam hati, dan jawab pertanyaannya,” kata anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Ferdiansyah, yang menjadi narasumber. Ferdiansyah menambahkan metode ceramah harus ditinggalkan dan diganti metode yang mampu membuat suasana kelas hidup, menyenangkan, kreatif, dan dialogis.

"Guru perlu memahami karakter tiap anak dan mendorong tiap anak maju sesuai potensi terbaik mereka," tambah dia. Guru juga harus selalu meningkatkan kompetensinya. Peningkatkan kompetensi guru tidak hanya dalam bentuk mengikuti pelatihan atau lokakarya.

Aktivitas-aktivitas seperti studi banding, diskusi dalam kelompok kerja guru, belajar dari berbagai sumber juga merupakan upaya peningkatan kompetensi. "Tugas peningkatan kompetensi guru juga tidak hanya dari APBN, perlu kontribusi dari pemerintah daerah dengan APBD-nya, organisasi profesi, swasta, dan guru sendiri," jelas dia.

Narasumber lain, Odo Hadinata, menekankan pentingnya guru membiasakan siswanya berpendapat dan bertanya. Siswa yang terbiasa mendengarkan ceramah guru kurang terbiasa mengemukakan pendapat dan bertanya. Guru harus punya metode agar anak berani berpendapat, tidak takut salah dalam mengemukakan pendapat.

"Misalnya begini, bapak ibu membawa botol air mineral. Kemudian meminta anak-anak mendeskripsikannya," kata Odo memberikan contoh. Tiap anak yang memberikan jawaban, apa pun jawabannya, harus diapresiasi dalam bentuk pujian. Jika praktik kecil yang mendorong siswa berpendapat terus-menerus dibiasakan, siswa lebih berani berpendapat dan bertanya.

Kepala Subdirektorat Peningkatan Kompetensi dan Kualifikasi Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kemendikbud, Elvira, mengatakan guru perlu meningkatkan kompetensi secara terus-menerus seiring perkembangan zaman. Di abad ke-21 di mana keterampilan komunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan pemecahan masalah perlu dikuasai siswa, guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan materi pelajaran di kelas.