Nur Wijaya, Remaja Solo yang Masuk UGM di Usia 15 Tahun

Nur Wijaya, mahasiswa termuda UGM asal Kota Solo. (Okezone)
08 Agustus 2018 15:07 WIB Salsabila Annisa Azmi/Okezone Nasional Share :

Solopos.com, SLEMAN -- Remaja asal Kota Solo menjadi mahasiswa termuda yang diterima Universitas Gajah Mada (UGM). Dia bernama Nur Wijaya Kusuma, yang kini berusia 15 tahun 6 bulan dan menjadi mahasiswa termuda UGM pada tahun akademik 2018/2019.

Wijaya merupakan mahasiswa baru Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik, dan hebatnya dia diterima melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Nur Wijaya merupakan anak tunggal pasangan Sapta Kusuma Brata dan Uswatun. Dia tinggal di Jl. Padjajaran Timur II No. 24 Sumber Solo dan menyelesaikan pendidikan di Kota Solo.

Lalu apa rahasianya bisa masuk perguruan tinggi semuda itu? Sejak pendidikan dasar, Nur Wijaya mengikuti kelas akselerasi dari jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Di Bangku SD, dia mengikuti pendidikan selama lima tahun tepatnya di SD 16 Surakarta. Sedangkan di SMPN 9 Surakarta dan SMAN 2 Surakarta dilakoninya dua tahun saja.

"Kalau muda itu melakukan apapun enak. Apa-apa bisa cepet, jadi target bisa cepet tercapai. Kalau sudah tua nanti bisa santai. Saya masuk UGM lewat SNMPTN ambil Teknik Elektro, karena saat ini sangat dibutuhkan," kata mahasiswa kelahiran 18 Mei 2003 tersebut.

"Dari SD sampai SMA ikut kelas akselerasi," ujarnya disela upacara mahasiswa baru di lapangan Graha Sabha Pramana (GSP) UGM, Senin (6/8/2018).

Menurutnya, sekolah di kelas akselerasi bukanlah hal yang mudah. Dia harus rajin belajar agar tidak ketinggalan dalam pelajaran. Setiap hari Senin sampai dengan Sabtu dia akan fokus ujian. Barulah ketika hari Minggu dia bersantai dan memanfaatkan untuk bermain dengan rekan yang usianya masih sebaya.

"Saya sangat senang diterima di UGM. Ayah saya lulusan Teknik Nuklir UGM juga," ujarnya.

Diterima di UGM, merupakan kebanggan setiap mahasiswa. Namun Nur Wijaya justru menganggap itu hal biasa. Dia merasa apa yang ada di dirinya wajar-wajar saja. Kebetulan saja dia beruntung. Itu semua tidak lepas dari kerja keras dan doa dari orang tua.

Disinggung sekolah dengan teman yang usianya lebih tua karena dia menjalani akselerasi, Nur Wijaya mengaku sempat minder. Namun lama-kelamaan rasa itu bisa hilang dengan sendirinya. Kuncinya dia terus berusaha dna menyesuaikan dengan lingkungan pergaulan. "Pastilah awalnya minder. Tetapi dengan menyesuaikan lingkungan semuanya akan biasa," jelasnya.

Dia sengaja memilih jurusan Jurusan Teknik Elektro karena jurusan ini memiliki prospek kerja yang menjanjikan di masa depan. Dia mentargetkan bisa selesai dan lulus selama 3 tahun. "Saran orang tua diminta untuk melanjutkan S2 biar saat kerja tidak terlalu muda," ujarnya.