Gelombang Udara Panas Eropa Bikin Angsa Sengsara

Sejumlah angsa berada di dalam perahu setelah dievakuasi dari Danau Alster di Kota Hamburg, Jerman, tempat mereka tinggal, Selasa (7/8/2018). - Reuters
07 Agustus 2018 20:57 WIB R Bambang Aris Sasangka Internasional Share :

HAMBURG - Puluhan ekor angsa yang biasanya tinggal di Danau Alster, Kota Hamburg, Jerman, terpaksa diungsikan ke tempat perlindungan khusus. Tempat perlindungan atau selter itu biasanya hanya digunakan untuk menampung angsa-angsa liar itu di musim dingin. Namun kali ini selter itu digunakan untuk melindungi angsa-angsa dari terpaan cuaca panas ekstrem yang tengah melanda sebagian kawasan Eropa saat ini.

Seperti diberitakan Reuters pada Selasa (7/8/2018), sebagian wilayah Eropa dilanda cuaca panas ekstrem. Suhu udara dilaporkan bisa mencapai 40 derajat Celsius.

Dampak buruk cuaca panas pada hewan liar sudah terlihat di London, Inggris. Puluhan angsa dan sejumlah unggas air lainnya mati di London akibat wabah botulisme unggas yang dipicu gelombang panas. Selter Perlindungan Angsa di Shepperton merawat sebanyak 300 unggas air, banyak di antaranya menderita penyakit mematikan tersebut dan sebagian besar diselamatkan dari kolam serta danau di Ibu Kota Inggris itu. Shepperton berada sekitar 25 kilometer di sebelah barat daya London.

Udara sangat panas berarti tersedia lebih sedikit oksigen di air, sehingga menjadi lahan perkembangbiakan yang sempurna buat racun botulinum. Seperti dilaporkan kantor berita Xinhua, burung yang terjangkit tak bisa menggunakan kaki mereka atau terbang, dan otot tengkuk hewan itu bisa lumpuh. Mereka biasanya mati akibat kegagalan pernafasan atau mati tenggelam.

Dorothy Beeston, pendiri Selter Perlindungan Angsa, mengatakan kepada koran Evening Standard, dalam tiga atau empat pekan terakhir pihaknya telah menyaksikan lonjakan besar jumlah burung yang dibawa ke rumah sakit karena terserang botulisme. "Ada puluhan telepon setiap pekan, jumlah yang mengerikan," kata Beeston. "Cuaca panas seringkali menyebabkan penyebaran wabah dan ini adalah yang paling buruk yang pernah saya saksikan dalam 39 tahun setelah kami berdiri."

Sumber : Reuters