Bunuh Istri, Dokter Divonis Seumur Hidup

Terdakwa kasus pembunuhan dokter Letty Sultri, dr. Ryan Helmi, menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (7/8 - 2018). (Liputan6.com)
07 Agustus 2018 23:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Hakim Ketua Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Puji Harian, memvonis dokter pembunuh istrinya, Ryan Helmi, hukuman penjara seumur hidup. Vonis ini dijatuhkan karena Ryan Helmi dinilai terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap istrinya yang juga seorang dokter, Letty Sultri, sekaligus memiliki senjata api tanpa izin.

"Mengadili, menyatakan terdakwa Ryan Helmi alias Helmi alias Helmi terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah telah melakukan pembunuhan berencana, dan terbukti secara sah dan menyakinkan telah melakukan tindak pidana tanpa hak memiliki senjata api. Menjatuhkan pidana kepada Ryan Helmi dengan pidana penjara seumur hidup," kata Puji Harian di PN Jakarta Timur, Selasa (7/8/2018).

Selain itu, Hakim Ketua Puji Harian juga meminta terdakwa untuk membayar biaya perkara. Dia juga memerintahkan Ryan Helmi tetap ditahan. "Memerintahkan terdakwa untuk tetap ditahan," ujarnya.

Dalam putusan itu, majelis hakim juga mempertimbangkan hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa. Majelis hakim menilai tindakan yang dilakukan oleh Ryan Helmi tergolong sadis dan kejam, karena telah melakukan pembunuhan berencana terhadap dr Letty Sultri.

"Hal yang memberatkan perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa [Ryan Helmi] dilakukan kepada istrinya sendiri, yang seharusnya dilindungi dan disayangi. Perbuatan terdakwa tergolong kejam dan sadis," ucapnya.

Hal yang meringankan terdakwa, kata dia, Ryan Helmi dinilai telah bersikap sopan selama persidangan dan mengakui perbuatannya. "Selama persidangan bertindak sopan dan mengakui perbuatannya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan tidak pernah melanggar hukum. Terdakwa tetap dipenjara," tutupnya.

Tim kuasa hukum Ryan Helmi, Muhammad Rifai, mengatakan vonis penjara seumur hidup terhadap kliennya tak sesuai fakta. Oleh karena itu, pihaknya masih memikirkan vonis yang dijatuhkan hakim PN Jakarta Timur, Puji Harian tersebut. "Terhadap putusan itu kami pikir-pikir. Karena tidak sesuai dengan permintaan kami, terkait dengan terdakwa tidak terbukti pembunuhan berencana sehingga kami meminta 15 tahun penjara," kata Rifai.

Dirinya menjelaskan senjata yang dibeli Ryan Helmi itu hanya untuk latihan dan bukan untuk membunuh. Rifai menggangap tuduhan pembunuhan berencana, lalu divonis seumur tidaklah tepat atau tak sesuai dengan fakta yang ada. "Tapi berkebalikan dengan hukuman seumur hidup tidak sesuai dengan realita atau fakta hukum bahwa pembelian itu bukan untuk bunuh seseorang," jelasnya.

Kendati demikian, pihaknya masih sedikit lega dengan putusan hakim ketua Puji Harian. Karena Hakim Ketua Puji Harian tak mengabulkan tuntutan hukuman mati dari jaksa penuntut umum. "Yang diperjuangkan kami untuk menghindari dari hukuman mati sudah tercapai sebenarnya. Kami sekaligus bersyukur juga," ujarnya.

Dokter Helmi menembak istrinya hingga meninggal di tempat praktik sang istri, Klinik Azzahra, Cawang, Jakarta Timur, November 2017. Dia tega menghabisi nyawa istrinya karena masalah rumah tangga.   

Sumber : Liputan6.com