Pidato Jokowi Berani Berantem, Nasdem: Damai Pun Dianggap Kekerasan

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kiri) dan Menpora Imam Nahrawi memberikan keterangan terkait gempa lombok berkekuatan 7 pada skala richter (SR) seusai meninjau latihan pelatnas Pencak Silat di TMII, Jakarta, Senin (6/8/2018). (Antara-Wahyu Putro A - )
07 Agustus 2018 17:30 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) di depan para relawan yang kemudian dituding memancing perkelahian dinilai bukan sebagai terselip lidah, melainkan tergantung pola pikir orang yang mendengarnya.

Sekretaris Jenderal Partai Nasional Demokrat Johnny G. Plate mengatakan pola pikir orang menangkap kalimat tersebut salah sehingga diartikan sebagai memancing kerusuhan. "Kalau mindset-nya kekerasan, hal yang baik pun diangggap kekerasan. Kalau mindset keributan, hal yang damai pun bisa jadi keributan," katanya di Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Tokopedia

Dalam pidatonya di hadapan relawan yang diselenggarakan di Bogor, Jokowi menyampaikan agar relawan melakukan kampanye yang simpatik. Artinya relawan harus menunjukkan bahwa mereka bersahabat dengan semua golongan dan jangan membangun permusuhan.

"Sekali lagi, jangan membangun permusuhan. Jangan membangun ujaran-ujaran kebencian. Jangan membangun fitnah-fitnah. Tidak usah suka mencela. Tidak usah suka menjelakkan orang lain. Tapi kalau diajak berantem juga berani," kata Jokowi saat itu.

Johnny menjelaskan pada pidato tersebut Jokowi dan seluruh partai politik pengusung akan berusaha melakukan kampanye dengan cara yang damai. "Pak Jokowi sudah menyampaikan berkali-kali koalisi menampilkan keadaban berpolitik," ungkapnya.