Gempa Lombok, Santri Remaja Meninggal Saat Ngaji

Puing bangunan yang roboh akibat gempa di salah satu pusat perbelanjaan di Denpasar, Bali, Minggu (5/8 - 2018) akibat Gempa Lombok. (Antara/Nyoman Budiana)
05 Agustus 2018 22:42 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, MATARAM -- Gempa Lombok, Minggu (5/8/2018) malam dengan kekuatan 7 SR menewaskan seorang santri di Lombok Barat.

Santri yang masih remaja berusia 14 tahun itu meregang nyawa tertimpa reruntuhan gempa saat sedang mengaji. Dikutip Kantor Berita Antara, Muhammad Khudori, 14, salah seorang santri di Pondok Pesantren Riyadussibat, Sidemen, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) meninggal dunia tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa 7,0 Skala Richter, Minggu, pukul 18.46 Wita.

"Anak saya terluka parah di bagian kepala," kata Khairul, ayah dari korban meninggal dunia yang ditemui ketika sedang menangisi kematian anaknya di jalan raya depan Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Mataram.

Khairul mengatakan anaknya yang baru beberapa waktu duduk di kelas 1 MTs tertimpa reruntuhan bangunan saat sedang mengaji.

Khairul sendiri mengangkut anaknya menggunakan mobil warga ke RSAD Mataram dari pondok pesantren yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumahnya.

Kondisi ayah dua anak itu memprihatinkan. Ia muntah-muntah sambil menangis dalam kondisi kedinginan karena hanya menggunakan sarung dan baju dalam.

Saat ini, mayat berada di atas mobil ambulans yang terparkir di jalan raya. Tenaga medis rumah sakit sibuk mengurus pasien yang kondisinya sangat serius.

Para pasien RSAD Mataram diungsikan ke jalan raya dan lapangan kantor Gubernur NTB yang tidak jauh dari rumah sakit.

Wartawan Kantor Berita Antara Biro NTB yang melaporkan dari lokasi pengungsian juga membawa isteri dan dua anaknya ke lapangan kantor gubernuran karena ada informasi air laut naik.

Gempa bumi berkekuatan 7,0 SR mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa, Minggu, pukul 18.46 Wita itu, dengan pusat gempa terletak pada 8,3 Lintang Selatan, 116,48 Bujur Timur Kabupaten Lombok Utara dengan kedalaman 15 kilometer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami, namun beberapa waktu kemudian, berdasarkan perkembangan terbaru, menyatakan peringatan tsunami itu berakhir.

Sumber : Antara