Kapitra Ampera: Stigma PDIP Anti-Islam Itu Menyesatkan

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristiyanto (kedua kanan) memimpin pembekalan caleg Pemilu 2019 di Jakarta, Minggu (5/8 - 2018). (Antara / Akbar Nugroho Gumay)
05 Agustus 2018 16:36 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Kapitra Ampera, mantan kuasa hukum Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab, menjadi warna baru bagi PDIP. Kini setelah bergabung sebagai caleg partai tersebut, Kapitra mengatakan stigma bahwa PDIP anti-Islam adalah salah besar.

Kapitra mengaku diminta oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi "jembatan" informasi ke luar. "Pesan Bu Mega, dia welcome sama saya. Artinya, bagaimana saya bisa juga menjadi jembatan, informasikan ke luar, apa yang sesungguhnya. Ibu Mega tidak pernah melarang-melarang saya," katanya, di kawasan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Minggu (5/8/2018), dilansir Okezone.com.

Tokopedia

Kapitra mengungkapkan, sejak bergabung, stigma yang selama ini dikenal PDIP sebagai partai anti-Islam bahkan dituduh sebagai PKI, ternyata salah besar. Kapitra bahkan menyampaikan tudingan dan stigma itu adalah menyesatkan.

"Saya ingin mengatakan bahwa stigma yang mengatakan PDIP adalah PKI itu adalah stigma yang menyesatkan, itu stigma haram. Saya melihat suatu realitas hari ini. Saya ingin katakan kepada semua bahwa itu stigma busuk dan menyesatkan. Karena tidak boleh seorang Muslim menghina orang Muslim," ungkapnya.

Oleh karena itu, kata Kapitra Ampera, stigma tersebut tidak boleh berkembang harus segera dihentikan sehingga tidak merugikan satu sama lain.

"Ini kan enggak bisa hanya karena Kapitra terus dimanipulasi. Ini kan suatu yang spontanitas, suatu yang benar, enggak dibuat-buat. Setiap kata, setiap harapan, ada insya Allah-nya, ada alhamdulillah, ada simbol simbol Islam. Saya pikir kalau PDIP ini anti-Islam, lho kok orang-orangnya doa pakai cara Islam," paparnya.

Hal senada dikatakan Juru Bicara Kepresidenan yang kini menjadi caleg PDIP, Johan Budi. Mantan Jubir KPK itu menuturkan kader yang masuk ke PDIP sekarang semakin berwarna dan berlatar belakang yang berbeda-beda.

Ideologi partai nasionalis religius, menurut Johan Budi, juga diwujudkan dengan masuknya beberapa tokoh agama yang menjadi kader. "Jadi persepsi tentang PDIP yang selama ini sebagian orang menganggap PDIP jauh dari Islam tidak benar," tutur dia yang dilansir Antara.