Belasan Juta Lulusan SMK Nganggur, Kemendikbud Bikin Program Baru

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memberikan sambutan pada acara Koordinasi Bantuan Pengembangan Teaching Factory di Hotel Griptha, Kabupaten Kudus, Jateng, Kamis (28/6 - 2018). (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
02 Agustus 2018 14:58 WIB Ayu Prawitasari Nasional Share :

Solopos.com, BATU — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat program baru untuk SMK yakni Smarts Be menyusul jumlah pengangguran dari SMK yang mencapai 12,6 juta orang pada 2017.

Data pengangguran itu berdasarkan statistik keadaan ketenagakerjaan Indonesia 2017. Data itu menunjukkan lulusan SMK yang telah bekerja baru mencapai 11,40 persen (12,59 juta lulusan) sedang yang menganggur sebanyak 11,41% (12,6 juta lulusan).

Tokopedia

“Ada 4 faktor penyebab munculnya persoalan ini. Pertama, kesempatan kerja [pertumbuhan ekonomi, sebaran geografis kesempatan kerja, dan kesenjangan kompetensi], berikutnya usia dan kesehatan [40%] di bawah 18 tahun pada tahun kelulusan, dan terakhir adalah akses informasi kesempatan kerja,” ungkap Mendikbud, Muhadjir Effendy, saat membuka Program Smarts Be di Balitjestro Kota Batu, Rabu (1/8/2018), seperti dilansir RRI.

Muhadjir mendorong Program Sekolah Mandiri Produksi Tanaman Sayur dan Buah Edukasi (Smarts Be). Saat ini ada 30 SMK terpilih yang melaksanakan program ini. Ke-30 SMK tersebut tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua.

Pemerintah berharap siswa bisa menjadi juragan di usia sekolah (jus) serta mampu menciptakan lapangan kerja baru. Dengan begitu mereka sudah mandiri ketika tamat dari SMK. Muhadjir menambahkan Program Smarts Be yang dilaksanakan South East Asian Regional Centre For Tropical Biologi (Seameo Biotrop) adalah upaya pemerintah untuk memberdayakan siswa lewat life skill.

Tingginya tingkat pengangguran dari lulusan SMK semakin memprihatinkan jika dikaitkan rencana pemerintah menuju kedaulatan pangan. Akan terlihat pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa selama menempuh pendidikan di SMK tidak terimplementasikan di lapangan. Akibatnya pengangguran pada usia di bawah 18 tahun meningkat.

“Siswa perlu dibekali kemampuan kewirausahaan sejak usia sekolah. Menjadi keharusan para siswa menjadi juragan usia sekolah [JUS], sehingga mampu mandiri ketika selesai menempuh pendidikan di SMK,” kata mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Salah satu target JUS adalah menanam buah. Selama ini tidak mudah menjadikan buah tetap segar dan tampil menarik agar dapat diserap pasar. Para produsen saat ini harus kreatif mengolah buah yang dipanen secara berlebih pada saat musim puncak. Menurut Muhadjir, orientasi produksi buah Indonesia harus diarahkan kepada pemenuhan industri. “Menangkap peluang dan tantangan ini, Seameo Biotrop bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat program Smarts Be untuk menghasilkan sayur dan buah sepanjang musim,” jelasnya.

Supriyanto, pakar Bioteknologi dan Fisiologi Pohon Institut Pertanian Bogor (IPB) menambahkan program Smarts Be diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja baru. “Kami berharap 30 sekolah terpilih ini akan menjadi contoh bagi sekolah lain dalam pengembangan tanaman sayur dan buah serta penciptaan SDM SMK yang kompeten dan berdaya saing,” kata dia.