Salman Abedi, Diselamatkan dari Konflik di Libya, Malah Jadi Pengebom Bunuh Diri

Salman Abedi - Telegraph
01 Agustus 2018 14:34 WIB R Bambang Aris Sasangka Internasional Share :

Solopos.com, LONDON – Seorang pemuda warga Inggris yang menjadi pengebom bunuh diri di akhir konser Ariana Grande di Manchester, Inggris, 2017 silam, ternyata pernah diselamatkan AL Inggris dari konflik di Libya.

Seperti diberitakan koran Inggris, Daily Mail, yang dikutip kantor berita Reuters, Selasa (31/7/2018), si pelaku pengeboman, Salman Abedi, yang orang tuanya berkebangsaan Libya, sedang berada di Libya bersama orang tuanya pada Agustus 2014 saat konflik bersenjata pecah di negeri Afrika utara itu. Para pejabat Inggris pun menawarkan kepada seluruh warga Inggris yang ada di wilayah itu untuk dievakuasi.

Tokopedia

Salman Abedi dan adiknya, Hashem, ada di antara sekitar 100 warga Inggris yang dijemput dari pantai Libya dan dibawa menggunakan kapal perang HMS Enterprise ke Malta. Dari sana mereka diterbangkan pulang ke Inggris. Abedi belajar di sekolah Burnage Academy for Boys di Manchester antara 2009 dan 2011 dan kemudian melanjutkan kuliah di Manchester College hingga 2013. Salman lalu pindah kuliah ke Universitas Salford sebelum kemudian berhenti sama sekali dan mulai mengakrabi pandangan radikal.

Dua teman kuliahnya mengaku pernah melapor ke pusat layanan informasi terorisme karena melihat Abedi punya kecenderungan radikal. Adika Salman, Hasheem, saat ini ditahan di Tripoli, Libya, terkait dakwaan keterlibatan dalam serangan itu.

Pemboman di Manchester pada 22 Mei 2017 itu menewaskan 22 orang termasuk sejumlah anak-anak dan menjadi yang paling mematikan dalam lima serangan kelompok radikal di Inggris tahun itu yang secara total menewaskan 36 orang. Sebanyak tujuh anak, yang termuda berusia delapan tahun, menjadi korban tewas dalam serangan di Manchester Arena itu. Ratusan orang cedera.

“Kejahatan orang ini yang melakukan kekejaman seperti itu di wilayah Inggris setelah kami menyelamatkannya dari Libya adalah tindakan pengkhianatan yang luar biasa,” kata narasumber rahasia Daily Mail, seorang pejabat pemerintahan Inggris. Sejumlah sumber otoritas keamanan menyebut Salman Abedi diyakini belum terkena radikalisasi saat diselamatkan dari Libya. Salman dan adiknya sering mondar-mandir Manchester-Tripoli karena orang tua mereka, Ramadan dan Samia, saat itu memilih kembali ke Libya.

Ramadan diyakini sengaja pulang pada 2011 untuk ikut serta dalam revolusi menggulingkan rezim Muammar Gaddafi. Dia bergabung dengan kelompok perlawanan Libyan Islamic Fighting Group. Namun sejumlah sumber kerabat dan teman menyebut Salman dan Hasheem sama sekali tak ikut serta dalam aktivitas anti-Gaddafi dan berada di Libya semata-mata untuk berlibur.

Pada 2014 itu, saat Salman berusia 19 tahun, namanya sempat masuk ke dalam data badan intelijen MI5 Inggris. Namun MI5 kemudian menutup data pemeriksaan mereka karena saat itu dianggap sebagai kesalahan identifikasi.