Remaja Bosan Sekolah dan Lebih Senang Gawai, Ini Kata Kak Seto

Para siswa SMK Bintang Nusantara Karanganyar mengerjakan ujian sekolah menggunakan HP di ruang kelas di sekolah setempat, Jumat (25/5 - 2018). (Solopos/Ponco Suseno)
01 Agustus 2018 15:02 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, yang akrab disapa Kak Seto, mengatakan sejumlah remaja mengeluhkan tentang sekolah yang membosankan karena menjadikan mereka seperti robot. Akhirnya mereka lebih tertarik pada gawai.

Kak Seto mengatakan anak-anak selalu menginginkan sesuatu yang baru, yang lebih dinamis, yang lebih menarik. "Karena suasana belajar di sekolah kadang-kadang bukan hanya membosankan, tapi juga penuh kekerasan, pemaksaan, dan sebagainya. [Jadi] Tidak merangsang kreativitas," jelas dia saat Dialog Interaktif bertema Ekspresi Anak Negeri di Kantor RRI, Jakarta, Selasa (31/7/2018) seperti dilansir RRI di hari yang sama.

Kak Seto mengungkapkan ada beberapa keluhan dari remaja yang menyatakan sekolah menjadikan mereka seperti robot, harus menghafal ini-itu. Padahal yang lebih dibutuhkan adalah kreativitas daya cipta, menciptakan sesuatu, bukan sekadar menjawab apa yang harus selalu benar, satu-satunya jawaban yang benar, dan sejenisnya.

"Nah akhirnya, mereka lebih tertarik pada sesuatu yang merangsang kreativitas, perlu dengan dinamika, perlu dengan warna-warni, dan sebagainya," kata dia. Dari kondisi itu, para remaja akhirnya lari ke suatu yang menarik, antara lain televisi, gadget, dan sebagainya. "Jadi, jangan salahkan kalau mereka mencari sesuatu yang lebih dinamis daripada sesuatu yang monoton. Ini menjadi intropeksi bagi kita dunia pendidikan untuk menciptakan sekolah yang ramah anak," terang dia.

Menurutnya, akan lebih baik apabila masyarakat memiliki sudut pandang sekolah untuk anak, bukan anak untuk sekolah. Selain itu, Kak Seto juga mengajak generasi muda berpikiran out of the box dalam menggapai cita-cita.

"Karena perkambangan sekarang sudah berubah, jangan kita hanya monoton. Cita-citanya jangan selalu itu saja, mungkin ada terobosan baru yang membuat mereka [anak-anak dan remaja] lebih menemukan dirinya dan mungkin lebih sukses," tutur dia.