Kala Kebudayaan Kita Kian Pudar

Ilutrasi bangkai kapal tenggelam (foto: Antara)
31 Juli 2018 14:10 WIB Mario Hikmat Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (31/7/2018). Esai ini karya Mario Hikmat, aktivis Lingkar Mahasiswa Islam untuk Perubahan Cabang Makassar dan alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Alamat e-mail penulis adalah mariohikmat@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Budaya harus dirawat sebaik-baiknya. Menjadi masyarakat yang berbudaya tak sekadar menghafal rentetan peristiwa dan sejarah kebudayaan. Pengetahuan perihal budaya menjadi penting karena memuat pelajaran tentang hidup dan kehidupan.

Tokopedia

Mengamalkan nilai-nilai kebudayaan menjadikan kita berkarakter. Berbudaya itu intinya praktik alih-alih hanya konsep-konsep belaka. Peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun dan disusul KM Sinar Maju beberapa waktu lalumerupakan akibat panjang dari memudarnya nilai-nilai kebudayaan kita, kebudayaan maritim kita.

Laporan beberapa media massa aneka platform memberikan informasi KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatra Utara, sesungguhnya tak layak berlayar; tak ada karcis, tak ada manifes penumpang dan barang, tak ada jaket pelampung, tak jelas berapa jumlah penumpang.

Pengelola kapal penumpang itu abai pada petuah masa lampau perihal kesiapan lahir dan batin sebelum melakukan sesuatu. Pada suatu masa yang lalu masyarakat kita memegang teguh semacam kepercayaan atas betapa pentingnya sebuah persiapan.

Sedia payung sebelum hujan adalah ungkapan jamak dan nyaris tak ada orang yang tak pernah mendengar ungkapan itu. Petuah itu secara konseptual melekat pada tubuh sosiologis masyarakat kita, bahkan hingga kini.

Persiapan sebelum melakukan sesuatu dipandang sebagai inti dari segala aktivitas yang hendak dilakukan. Jika tak ada persiapan yang matang, apa pun akan menjadi tak karuan.

Dalam bahasa manajemen organisasi modern, persiapan diartikan sebagai perencanaan. Gagal dalam merencanakan sama saja merencanakan untuk gagal. Perencanaan dalam melakukan sesuatu merupakan tahap awal dalam merumuskan suatu hal.

Kalau terjadi kegagalan atau masalah di tengah jalan, langkah antisipatif sudah ada dalam skema tentang apa yang harus dilakukan. Intinya, tak ada aktivitas di luar kerangka logis perencanaan. Semua sudah diatur.

Dalam tradisi Bugis ada ungkapan ”tiba sebelum berangkat”. Imajinasi masyarakat Bugis memberikan gambaran bahwa seseorang harus sudah sampai di tempat yang hendak dituju, sebelum ia melakukan perjalanan.

Hal itu bisa diartikulasikan bahwa persiapan sebelum melakukan sesuatu ialah perihal yang sangat penting. Hal itu acap kali diterjemahkan seperti mengumpulkan informasi tentang daerah yang hendak dituju, bekal apa yang mesti dibawa, atau ritual apa yang dilakukan agar keselamatan berpihak pada perjalanan hingga sampai ke tujuan.

Tentu saja seseorang harus siap lahir batin sebelum menempuh perjalanan. Sayangnya, nilai-nilai seperti itu kemudian kian terkikis. Karakter kebudayaan kita memudar. Kearifan budaya leluhur kita kalah dengan hasrat ekonomis manusia yang hendak meraup untung sebanyak mungkin.

Peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun yang diindikasikan memuat penumpang lebih dari kapasitas kapal itu menggambarkan betapa kerakusan dan kepicikan telah menguasai pengelola kapal. Uang tampak berada di atas segalanya.

Moralitas Kapitalistis

Keselamatan penumpang bukan lagi menjadi prioritas. Penumpang yang merupakan konsumen tak lagi dianggap raja yang berhak menerima pelayanan yang optimal. Dengan muatan berlebih, pasti ada yang tak dapat tempat duduk.

Jaket pelampung adalah hak bagi para penumpang kapal namun tak disediakan dengan cukup, bahkan tak ada sama sekali. Kelalaian yang berakibat fatal ini jika kita lihat secara sistematis bukan hanya kesalahan pengelola kapal.

Penanggung jawab pelabuhan yang bertugas memeriksa kelayakan kapal mungkin juga tak bekerja dengan maksimal. KM Sinar Bangun yang tak memiliki manifes bisa begitu saja berlayar mengangkut penumpang, padahal sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) kapal merupakan tanggung jawab bersama antara pengelola kapal dan otoritas perhubungan terkait.

Minimnya perhatian dan pemantauan rutin dari pihak yang berwajib terakumulasi pada peristiwa tenggelam, hilang, dan tewasnya beberapa penumpang KM Sinar Bangun. Peristiwa kecelakaan yang menimpa KM Sinar Bangun dan KM Sinar Maju ini menandai betapa rapuhnya sistem evaluasi dan manajemen pelayaran kita.

Berdasarkan catatan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sepanjang 2010-2016 terjadi 54 kecelakaan kapal yang mengakibatkan 337 orang meninggal dunia. Jumlah ini bertambah pada 2018, termasuk kapal yang tenggelam di perairan Makassar sebelum tragedi di Danau Toba.

Budaya mematangkan persiapan terlihat jelas tergerus oleh sikap terburu-buru. Rasa sabar tak lagi menjadi kontrol untuk berproses dalam hidup. Sekarang yang instan lebih dicintai. Penyesalan terjadi jika terjadi akibat buruk, tapi pengelola kapal dan beberapa pihak yang berwajib tetap saja tak mengindahkan hal pokok itu sampai kejadian nahas ini terjadi.

Menjadi masyarakat yang berbudaya harus dipahami sebagai praktik dari petuah-petuah leluhur untuk menjaga keselamatan hidup. Pengetahuan budaya tak cukup jika hanya disimpan dan mengendap dalam kepala. Pengetahuan akan bernilai ketika teraktualisasi.

Budaya masyarakat kita merupakan bangunan sosiologis orang-orang yang mencintai proses. Lambat tak berarti memperlambat, tetapi menghargai tahapan proses demi proses. Keuntungan materi yang cenderung hanya dinikmati secara personal bukan bagian dari kebudayaan kita.

Kebahagiaan dalam evolusi budaya kita diartikulasikan sebagai kebahagiaan bersama. Moralitas kapitalistis yang menghantui sikap masyarakat kita sudah tentu merupakan musuh kebudayaan yang harus kita lawan bersama-sama.