Gamelan yang Melintas Batas

Aris Setiawan (Istimewa)
31 Juli 2018 02:00 WIB Aris Setiawan (ISI Solo) Kolom Share :

Gagasan tentang musik gamelan dan International Gamelan Festival (IGF) 2018 ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/7/2018). Esai ini karya Aris Setiawan, etnomusikolog dan pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--International Gamelan Festival (IGF) akan berlangsung di Solo pada 9-16 Agustus mendatang. Forum terbesar dalam sejarah perkembangan gamelan di Indonesia itu akan diikuti kurang lebih 19 kelompok gamelan dari mancanegara dan 40 kelompok dari Indonesia.

Tokopedia

IGF juga diisi dengan pameran, workshop, pementasan, penerbitan buku, dan diskusi. Gamelan dirayakan bukan sekadar aspek kebendaannya, namun juga dalam bentuk ide, gagasan, dan konsep-konsep tentang hidup dan kemanusiaan.

Gamelan adalah ekspresi wujud instrumen musik yang megalitik dengan wacana baru yang kuantum. Hal ini ditandai sejak hampir setengah abad lampau, gending dan gamelan dianggap sebagai salah satu musik paling mutakhir yang mampu mewakili ekspresi peradaban manusia di muka bumi.

Gending tersebut bernama Puspawarna. Dalam IGF nanti gending Puspawarna menjadi gending pembuka yang ditabuh bertalu-talu. Manusia berpandangan tidak hidup sendiri di alam semesta ini. Ada makhluk-makhluk lain di luar sana yang setiap saat dapat datang mengunjugi bumi.

Film-film tentang alien dan sejenisnya diproduksi dan menambah imajinasi kita tentang karakter dan bentuk makhluk asing itu. Hingga saat ini nyatanya eksistensi alien tersebut tidak pernah benar-benar kita rasakan dan keberadaan mereka tak benar-benar terbukti.

Barangkali alien masih belum menjangkau bumi atau melihat bumi masih sebatas kita melihat bintang-bintang di langit saat malam hari. Diperlukan jembatan penghubung antara manusia dengan alien dan misi itu dilakukan 40 tahun lalu.

National Aeronautics and Space Administration (NASA) atau Badan Ruang Angkasa Nasional Amerika Serikat menyiapkan dua wahana bernama Voyager 1 dan Voyager 2. Misi awal adalah mempelajari struktur planet Saturnus, Uranus, dan Jupiter.

Dengan daya jelah yang jauh, sangat dimungkinkan Voyager adalah jembatan pertama terjadinya kontak antara manusia dengan makhluk lain di kehidupan di luar bumi.

Sembilan bulan menjelang keberangkatan, Carl Sagan, seorang astronom, didapuk membentuk tim yang secara khusus menyiapkan Voyager sebagai jembatan komunikasi alias pembawa pesan dari bumi kepada para alien.

Tim memutuskan membawa galeri foto, suara-suara kehidupan di bumi (termasuk ucapan salam), serta musik-musik terbaik yang pernah ada. Semua dirangkum dalam piringan suara bernama Voyager Golden Record (Sounds of Earth) yang terbuat dari emas.

Dalam buku Murmurs of Earth: The Voyager Interstellar Record (1978) dijelaskan tim yang terlibat telah menyeleksi dengan begitu ketat musik-musik di dunia ini. Terpilih 27 musik dengan total durasi 90 menit.

Indonesia khususnya Jawa mewakilkan satu karya musik berjudul gending Puspawarna. Karya tersebut berada di urutan kedua setelah karya komposisi  musik ciptaan Johann Sebastian Bach berjudul Bradenburg Concerto No. 2 in F.

Puspawarna dan Alien

Robert E. Brown, etnomusikolog kenamaan asal Amerika Serikat, pada 10 Januari 1971 merekam gending Puspawarna secara langsung di Kadipaten Pakualaman Jogja.

Rekaman tersebut tidak digarap layaknya rekaman komersial lainnya dengan menghilangkan bunyi-bunyi ”tidak penting” di luar suara gamelan. Robert justru memasukkan suara ambient (suasana) pendapa, bahkan kicau burung pipit yang bersarang di dekatnya pun turut terekam.

Rekaman tersebut terasa natural, membangun imajinasi tentang alam dan musik. Setahun kemudian, hasil rekaman itu masuk dalam nominasi Grammy Award untuk Best Ethnic or Traditional Folk Recording.

Gamelan yang dimainkan adalah gamelan pusaka, dibuat pada tahun 1755 untuk Paku Alam I. Selazimnya benda pusaka di tanah Jawa yang senantiasa disematkan nama Kyai atau Nyai, gamelan tersebut dinamakan Kyai Penggawe Sari untuk laras slendro dan Kyai Telaga Muntjar untuk laras pelog.

Kelompok gamelan ini dipimpin Ki Cakrawarsita, seorang empu karawitan paling masyhur di Jogja kala itu. Gending yang berdurasi empat menit 43 detik tersebut liriknya dibuat oleh Pengeran Adipati Arya Mangkunagoro IV (1853-1881) di Solo.

Gending itu tercipta untuk menghormati istri dan para selirnya yang diidentikkan dengan bunga (puspa) yang beraneka ragam (warna). Gending itu dibunyikan untuk menyambut kedatangan sang pangeran ke istana atau sebelum duduk di kursi singasana.

Dalam proyek Voyager di atas, gending Puspawarna yang berarti warna-warna bunga dianggap sebagai representasi dari keragaman planet dan perbintangan di tata surya ini. Secara musikalitas gending tersebut mewakili manusia dalam lintas zaman, dari era megalitik hingga kuantum, dari era purba ke medium terkini.

Gamelan lahir bukan semata-mata berkisah tentang persoalan musikal, namun juga humanisme, politik, dan kebudayaan. Gending-gending lahir sebagai legitimasi politis dari seorang raja yang berkuasa.

Judul dan teks liriknya adalah rajutan karya sastra tingkat tinggi, sementara memainkannya wajib berbekal kepekaan rasa dan toleransi pada sesama (mad-sinamadan).

Gending Puspawarna terpilih dan bersanding dengan karya komponis besar dunia lainnya seperti Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven. Voyager Golden Record mengangkasa pada 5 September 1977.

Kita kemudian dapat berimajinasi para alien mendengarkan gending Puspawarna dan kelak akan mendarat kali pertama di tanah Jawa. Yang jelas, misi gamelan bersama musik lain ke luar angkasa adalah usaha yang bukan terkesan mengada-ada pada zaman itu, namun membuncahkan hasrat bagi cerahnya masa depan.

Gending Puspawarna dalam Voyager Golden Record menjadi ”kapsul waktu” yang entah berapa ratus tahun kemudian akan kembali ditemukan oleh anak cucu kita dalam misi lain di luar angkasa.

Bisa jadi itu adalah saat ketika peradaban musik gamelan dan musik lain di dunia telah hilang atau punah, saat kebudayaan kita hari ini dirindukan pada masa depan, di situlah misi menemukan Voyager Golden Record digelar.

Begitu fenomenal dan berharganya karya gamelan, pada tahun 1983 NASA memberikan penghargaan kepada Ki Cakrawarsita. Nama Wasitadiningrat (nama lain dari Cakrawarsita) diabadikan dalam International Star Registry dan tercatat di Library of Congress sebagai nama sebuah bintang yang terletak di rasi bintang Andromeda.

Kini tidak saja karya gamelan yang telah mengangkasa, namun nama empu karawitan juga abadi sebagai nama bintang yang setiap saat mengingatkan kita tentang arti penting menghargai kebudayaan dan musik tradisi milik kita.

IGF lewat gending Puspawarna berpeluang memunculkan tawaran-tawaran alternatif baru dalam melihat dan membaca gamelan. Ada hasrat besar agar forum tersebut menjadi awal bagi kehidupan gamelan di negeri ini menjadi lebih baik di tengah generasi milenial yang berlomba-lomba melipat wujud fisik menjadi ruang digital.

IGF digelar di Solo, sekaligus menunjukkan sebuah ”kampung halaman”, tempat gamelan dan gending-gendingnya dilahirkan. Gamelan dengan demikian telah melintas batas wilayah, tak hanya di Jawa, Indonesia, dan dunia, namun juga jauh meninggalkan bumi. Gamelan dan gendingnya adalah ekspresi yang megalitik dengan kuasa yang kuantum.