Seniman Masuk Sekolah untuk Tangkal Budaya Asing

Ilustrasi Gerakan Seniman Masuk Sekolah (foto: Kemendikbud.go.id).
31 Juli 2018 14:36 WIB Ayu Prawitasari Nasional Share :


Solopos.com, JAKARTA — Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) tidak hanya jadi solusi terbatasnya guru kesenian di daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan), namun juga menangkal budaya asing yang gencar memengaruhi generasi muda.

Seniman masuk sekolah menyasar SD, SMP, hingga SMA/SMK. Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, GSMS menjadi salah satu solusi atas keterbatasan guru kesenian di sekolah-sekolah. "Gerakan ini juga memperluas akses pelajar dalam kegiatan artistik," katanya saat menjelaskan tujuan Lokakarya (Workshop) Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2018, di Jakarta, Kamis (26/8/2018), seperti dilansir laman Kemendikbud.

Dalam GSMS, seniman mengenalkan dan mengajarkan seni kreasi ataupun tradisi sesuai bidangnya kepada para siswa di waktu yang telah terjadwal. Pengajaran itu di luar jam sekolah dengan program-program yang telah disusun. Beragam bidang seni tersebut antara lain seni tari, seni musik, seni teater, seni sastra, seni rupa, dan seni media.

Menurut Hilmar, kesenian dalam membentuk karakter baik pada diri manusia. Dia berharap melalui kesenian dapat terbangun sikap kreatif, apresiatif, dan inovatif peserta didik. GSMS telah diselenggarakan sejak 2016. Kegiatan  ini tidak hanya menitikberatkan pengajaran kesenian, namun lebih bertujuan mengoptimalkan kesenian menjadi sarana penguatan karakter melalui pemahaman dan penyerapan nilai-nilai positif selama proses pembelajaran.

Direktur Kesenian Restu Gunawan mengatakan pendaftaran GSMS dilakukan secara daring. Pendaftaran telah berlangsung dari 28 Mei hingga 27 Juni 2018. "Dari 1.894 seniman yang mendaftar, menjadi 1.320 seniman," katanya saat menyampaikan laporan.

Deni Hadiansyah, sastrawan asal Bandung yang tergabung dalam tim perumus GSMS, mengatakan tim perumus bekerja sama dengan dinas pendidikan memilih seniman yang layak sesuai kriteria juknis. "Tim yang terjun ke sekolah harus terbukti menguasai seni dan berasal dari maestro lokal dan internasional,” katanya.

Secara umum, GSMS digagas sebagai upaya pemerintah untuk melibatkan warga sekolah dan masyarakat agar dapat menyaring budaya asing yang mengikis moral generasi muda. Caranya memacu kapasitas seni budaya di Indonesia, terutama sekolah-sekolah yang tidak memiliki guru kesenian di daerah 3T. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan ekosistem budaya yang melibatkan 28 provinsi, 28 kabupaten/kota, dan lebih dari 1.000 seniman.

Program ini dimulai awal Agustus 2018 dan berlangsung selama tujuh kali pertemuan. Setiap pertemuan akan diikuti oleh 20-40 siswa dengan durasi dua jam. Pada akhir proses pembelajaran diharapkan anak-anak akan terlibat dalam kegiatan bulan pendidikan di sekolah terutama sekolah yang sudah mendapat fasilitas alat kesenian dan program dari seniman mengajar.

Tokopedia