Klenengan Awal Abad XX

Hery Priyatmoko (Istimewa)
30 Juli 2018 01:00 WIB Hery Priyatmoko (USD Jogja) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/7/2018). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pemrakarsa Solo Societeit. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO--Beberapa hari lalu Harian Solopos memberitakan Spirit Gamelan untuk Peradaban Dunia. Publik Solo dan sekitarnya akan mendapat sajian acara International Gamelan Festival selama sepekan (9-16 Agustus).

Tokopedia

Jutaan mata bakal tertuju ke kampung halaman Presiden Joko Widodo ini. Hajatan agung tersebut menghadirkan ratusan pengrawit, puluhan kelompok gamelan dari dalam maupun luar negeri, serta penampilan terbaik para maestro gamelan.

Gamelan diajak mudik ke Solo, pusat gamelan dan klenengan pada suatu masa. Alunan gamelan bukan hanya di jantung istana. Tidak mandek pula di bangsal Pradangga kala grebeg sekaten maupun di perkampungan sewaktu pangrawit latihan sebelum pentas.

Sekalipun modernisasi menyeruak di kota, bunyi tetabuhan nan indah ini tetap meramaikan gedung societeit yang menjadi tempat berhahahihi priayi serta bangsawan. Koran zaman itu menyediakan petunjuk bahwa Soos Mangkunegaran (kini Monumen Pers Nasional) bukan sebatas untuk kegiatan politik dan acara formal barisan priayi kerajaan.

Beberapa surat kabar memberitakan kegiatan klenengan (karawitan) yang digelar di gedung tersebut. Jurnalis Darmo Kondo pada 1918 memberitakan Jumat malam menjelang Sabtu, di rumah Soos Mangkunegaran telah digelar klenengan dengan penari ronggeng (tandak), gambyong, anggotanya yang berkumpul kurang lebih 80 orang, di antaranya patih Mangkunegaran, hingga larut malam kesenangan baru selesai dengan selamat.

Tahun berganti, pertunjukan klenengan tetap dilakukan di ruang publik ini. Darmo Kondo memuat berita berjudul Kabar Soos Mangkunegaran. Pembaca mendapat kabar mulai malam itu dan selanjutnya, setiap pekan ketiga dari bulan yang berjalan, di Soos Mangkunegaran diadakan klenengan seperti biasa, dari kunstkring Mardi Raras.

Acara dimulai dari pukul 21.00 WIB hingga 01.00 WIB. Para anggota pegawai istana Mangkunegaran boleh datang sarimbit (berpasangan). Beberapa bulan kemudian, redaktur koran tersebut mengumumkan Minggu ketiga Oktober 1935 diadakan klenengan dari kelompok Mardi Raras untuk menghibur anggota soos tersebut.

Kegiatan kebudayaan yang diselenggarakan di ruang publik tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan karawitan dan Solo periode kolonial. Secara konseptual, terminologi klenengan khusus digunakan untuk menyebut kegiatan penyajian gending-gending Jawa gaya Solo yang tidak terkait dengan penyajian jenis seni lainnya.

Kegiatan semacam ini di Jogja dan sekitarnya disebut uyon-uyon (Waridi, 2006: 207).Tercatat dalam lembaran sejarah kesenian Mangkunegaran bahwa pada era perjuangan Raden Mas Said selama dua windu, karawitan berfungsi untuk menghibur pasukan selepas bertempur.

Pada masa perjuangan itu, Mas Said telah memiliki perangkat gamelan gedhe laras slendro bernama Kyai Udan Riris. Hal itu terlukis dalam serat Babad Mangkunagara I pupuh Sinom bait 17.

Bunyi teks itu sebagai berikut: Pasanggrahane kang putra/ Anguyu-uyu pribadi/ Salendro denira bekta/ Genira damel pribadi /Wastanan Udan Riris/ Mung sapeken laminipun/ Nguyu-uyu gamelan/ Wau Pangran Mangkubumi/ Saptu enjing pepakan kang wadyabala.

Pesanggrahan khusus putranya/ Tempat untuk memberi penghormatan/ Dengan gamelan slendro bawaannya/ Dan karyanya sendiri/ Diberi nama Udan Riris/ Hanya selama lima hari/ Bertalu-talu suara gamelan memberi penghormatan/ Kepada Pangeran Mangkubumi/ Pada hari Sabtu pagi semua prajurit menghadapnya.

Kemudian pada masa Mangkunagoro II, karawitan kembali dipakai sebagai sarana hiburan, terutama kala raja tertimpa kesusahaan. Sedangkan Mangkunagoro III menggunakannya untuk menghibur prajurit seusai berburu di alas (hutan).

Baru ketika Mangkunagoro VI berkuasa (1853-1881), kehidupan karawitan memperoleh tempat yang layak di samping kehidupan seni pertunjukkan lainnya. Karawitan memuat fungsi sebagai sarana upacara, tontonan, serta hiburan.

Pelengkap upacara dibuktikan dengan klenengan acap tampil dalam upacara tingalan Mangkunagoro IV. Lantas, tontonan sebagai peristiwa kesenian khusus untuk dihayati terbukti sewaktu Mangkunagoro IV bersama kelurga menikmati klenengan tanpa dibarengi hidangan.

Berseminya karawitan era Mangkunagoro IV ditunjukkan pula dengan karya sastra berjudul Sendhon Langenswara. Karya sastra itu mencakup sembilan paket gending sebagai karya karawitan.

Setiap paket terdiri atas satu bait bawa dan beberapa bait gerongan khusus. Ragam gending inilah yang hingga kini disebut gending-gending Mangkunegaran. Selain Mardi Raras yang sering pentas, terdapat pula kunst kring (paguyuban seni).

Kegiatan kunst kring dipilah menjadi dua jenis, yaitu latihan dan pergelaran. Kegiatan latihan digelar setiap Selasa malam pada pekan terakhir, sementara kegiatan pergelaran diselenggarakan pada Sabtu malam pekan terakhir setiap bulann.

Kedua kegiatan ini dimulai pukul 21.00 WIB dan berakhir pukul 24.00 WIB. penyusunan gending-gending yang disajikan dipercayakan kepada Mas Ngabei Citra Hubaya, sedangkan pemimpin karawitan dipercayakan kepada R.L. Onggapengrawit. R.Ng. Citra Hubaya di samping menyiapkan materi gending yang disajikan juga ditugasi memilih para pangrawit tetap itu.

Mendekatkan Seni Istana

Ia adalah seorang abdi dalem Mangkunegaran yang memiliki pengetahuan luas tentang seni karawitan. Acara Mardi Raras yang digelar di Soos Mangkunegaran merupakan kegiatan klenengan yang mengandung aneka makna menarik untuk diinterpretasikan.

Penyelenggaraan klenengan ini dapat ditafsirkan sebagai upaya membangun citra kewibawaan Mangkunegaran. Lewat penyajian gending-gending Jawa yang pada waktu itu sangat disukai masyarakat, sangat mungkin dapat menaikkan citra Mangkunegaran di mata masyarakat.

Diselenggarakannya kegiatan klenengan di ruang publik yang dapat dijangkau khalayak yang lebih luas serta didukung penuh oleh bangsawan Mangkunegaran dapat ditafsirkan pula sebagai upaya Mangkunegaran untuk mendekatkan seni istana kepada masyarakat.

Dalam konteks persaingan politik, Mangkunegaran berupaya menunjukkan kepada istana Kasunanan bahwa sebenarnya Mangkunegaran memiliki perhatian yang besar terhadap warisan gending-gending Jawa serta berkewajiban ikut menjaga keberlangsungan kehidupannya.

Hal ini sangat mungkin terjadi bila dikaitkan dengan upaya keras Mangkunagoro VII untuk selalu mengabadikan karya nenek moyangnya seperti usaha penerbitan karya-karya sastra Mangkunagoro IV. Dalam kacamata wong Solo, acara IGF sejatinya menggugah ingatan perihal keberlangsungan kehidupan karawitan Jawa.

Keterlibatan masyarakat sebagai konsumen menempatkan gamelan punya arti lebih. Mereka terhibur. Saat acara sajian gending dimulai semuanya hanyut untuk menikmati dan menghayatinya. Acara klenengan begitu serbaguna, punya makna berbeda-beda sesuai kepentingan.

Gamelan mengiringi sajian tari, pertunjukan wayang kulit, hingga sebagai permainan mandiri adalah keperkasaan gamelan yang telah mendunia itu. Dengan alat musik tradisional itu, selama ratusan tahun Solo berkembang dalam sulur-sulur irama gending, gemulai gerak tari istana, dan tumpukan petuah berupa tembang Jawa.

Pada masanya semua itu terserap dalam sumsum masyarakat yang menikmati alunan gamelan. Meski skala internasional, panitia IGF semoga tidak luput memotret fenomena sejarah lokal ini.