Muda, Beda, Berbahaya

Ichwan Prasetyo (Istimewa)
28 Juli 2018 18:40 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (14/5/2018). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Harian Umum Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO--Pewarta foto Harian Solopos, Sunaryo Haryo Bayu, menggelar pameran tunggal foto-foto karya dia bertema kerusuhan di Kota Solo pada Mei 1998 yang berdampak hancurnya infrastruktur dan ekonomi Kota Solo kala itu.

Ada 80 frame foto dokumentasi kerusuhan di Kota Solo pada 14-15 Mei 1998 yang dipamerkan di Monumen Pers Nasional tersebut. Dalam konteks kekinian, pameran foto karya Sunaryo Haryo Bayu itu adalah jembatan bagi generasi yang lahir jauh setelah kerusuhan Mei 1998 untuk memaknai peristiwa itu.

Foto adalah instrumen visual. Dalam konteks jurnalisme ada adagium satu frame foto bisa menceritakan 1.000 kisah. Sesuatu yang bersifat visual jamak lebih cepat menarik perhatian daripada yang tekstual.

Dalam konteks inilah pameran foto-foto itu menjadi positif untuk mengajak generasi muda era sekarang, khususnya yang lahir pada akhir 1990-an hingga awal 2.000-an, yang tak langsung melihat dan memaknai kerusuhan Mei 1998 di Kota Solo, untuk memberikan perhatian sejenak pada dokumen visual tersebut.

Dari memberikan perhatian sejenak pada dokumen visual kerusuhan Mei 1998 di Solo itu mestinya ada kehendak pada diri mereka untuk memaknainya. Tanggung jawab generasi yang lebih tua, yang langsung mengalami dan memaknai kerusuhan pada Mei 1998 di Solo, untuk mentransfer pemahaman dan pengetahuan mereka secara objektif ihwal peristiwa itu.

Tentu saja yang dimaksud dengan pemahaman dan pengetahuan objektif itu bukan dalam makna harfiah ”objektif 100%” tetapi setidaknya perspektif lengkap dan konkret ihwal peristiwa itu.

Setelah 20 tahun berlalu, generasi ”muda, beda, dan berbahaya” yang mengalami langsung gejolak politik yang berbuah—salah satunya—kerusuhan pada Mei 1998 di Solo pasti punya perspektif yang lebih lengkap ihwal peristiwa itu.

Pada Sabtu (12/5/2018) malam lalu, masih dalam rangkaian pameran tunggal foto karya Sunaryo Haryo Bayu, diselenggarakan diskusi memaknai kerusuhan 14-15 Mei 1998 di Kota Solo.

Sayang, diskusi yang dihadiri Kepala Kepolisian Resor Kota Solo era itu, Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Imam Suwangsa, tak mengungkapkan data baru ihwal kerusuhan pada Mei 1998 itu.

Saya sebenarnya mengharapkan Imam Suwangsa menyampaikan data-data yang selama ini (mungkin) tersembunyi atau disembunyikan terkait penyebab kerusuhan pada Mei 1998 di Solo dan siapa sebenarnya yang memicu kerusuhan itu.

Harapan saya tak terwujud. Sampai hari ini, dalam pemaknaan saya, kerusuhan di Kota Solo pada Mei 1998 ”selesai” seiring perjalanan waktu. Saya sepakat dengan pendapat M.T. Arifin yang hadir dalam diskusi pada Sabtu malam itu yang menyatakan kerusuhan pada Mei 1998 di Solo adalah efek dari politik.

Dalam pemaknaan saya, kerusuhan itu adalah buah dari perubahan politik. Ada kekuatan politik yang bergerak dan sumber daya politik yang digerakkan untuk menciptakan kerusuhan itu. Mengapa Solo yang dibuat rusuh?

Solo terkait erat dengan pribadi Presiden Soeharto yang saat itu kekuasaannya dianggap tak legitimate lagi oleh sebagian besar warga bangsa ini dan massa rakyat menghendaki reformasi politik dengan salah satu tuntutan Presiden Soeharto harus turun dari jabatannya.

Setelah 20 tahun berlalu, narasi yang mengemuka dalam forum-forum diskusi seperti pada Sabtu malam lalu itu adalah keharusan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Narasi ini memang keniscayaan, tetapi yang jauh lebih penting adalah mentransfer pemahaman kondisi sosial politik masa itu kepada generasi muda era sekarang.

Konflik Horizontal

Generasi muda era kini yang berumur belasan tahun hingga 20-an tahun adalah generasi yang tak langsung merasakan kerusuhan pada Mei 1998 di Solo.

Sebagai generasi yang ”muda, beda, dan berbahaya”—saya pinjam term ini dari lirik lagu Jika Kami Bersama yang dipopulerkan grup musik rock Superman Is Dead—generasi muda era kini harus punya pemahaman sejarah yang holistis.

Ini penting agar generasi muda era kini, generasi ”muda, beda, dan berbahaya” itu, mampu memaknai kerusuhan pada Mei 1998 di Solo dalam konteks kehidupan mereka kini sehingga berujung kesadaran bersama untuk mencegah konflik horizontal semacam itu terjadi lagi.

Para mahasiswa era 1998—sebagai generasi ”muda, beda, dan berbahaya” era itu—telah menunjukkan bukti kemudaan mereka, menjadi lokomotif reformasi politik; menunjukkan ke-beda-an mereka dengan kekuatan mayoritas saat itu; dan menunjukkan bahwa mereka sangat berbahaya bagi rezim yang antidemokrasi, rezim yang otoriter militeristis, dan berbahaya bagi pengkhianat rakyat.

Generasi ”muda, beda, dan berbahaya” era kini tentu harus menunjukkan ”prestasi” menjadi lokomotif perubahan bangsa ini menjadi kian baik. Kemudaan mereka harus diberdayakan untuk menguatkan jati diri ke-Indoensia-an di tengah iklim politik yang sangat terbuka—bahkan nyaris liberal—termasuk politik yang berplatform media sosial.

Ke-beda-an mereka harus menjelma menjadi kekuatan menjaga ke-Indonesia-an dari rongrongan ideologi transnasional, dari ajaran radikal ekstrem, yang menyebarkan paham melalui aneka saluran komunikasi, termasuk Internet, khususnya media sosial, yang kini menjadi bagian hidup sehari-hari.

Aspek berbahaya mereka harus diberdayakan menjadi berbahaya bagi perongrong ke-Indonesia-an. Ke-berbahaya-an mereka harus menjadi musuh bagi siapa pun yang merongrong Bhinneka Tunggal Ika, merongrong Pancasila, merongrong UUD 1945, merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jangan sampai generasi ”muda, beda, dan berbahaya” era kini malah termanipulasi oleh politikus busuk; termanipulasi oleh propaganda dan agitasi sentimen suku, agama, ras, dan golongan; termanipulasi oleh gaya hidup hedonis bawaan budaya global; dan termanipulasi oleh anasir-anasir negatif lainnya.

Literasi politik menjadi penting. Generasi ”muda, beda, dan berbahaya” di Malaysia baru saja menunjukkan kekuatan mereka dengan ”mengalahkan” kekuatan politik dominan yang tercitra manipulatif dengan mendukung kekuatan oposisi.

Generasi “muda, beda, dan berbahaya” era kini jauh lebih mudah untuk menjadi generasi yang melek politik. Informasi melimpah ruah, bahkan kini adalah era banjir informasi.

Mereka bisa mendidik diri sendiri menjadi pribadi-pribadi yang berliterasi tinggi: punya kemampuan menganalisis, menimbang, memilah, dan menyimpulkan. Kemampuan ini akan mencegah mereka terjebak menjadi ”muda, beda, dan berbahaya” yang malah mengancam ke-Indonesia-an, misalnya karena termanipulasi ideologi radikal ekstrem.