Prabowo Rela Tak Nyapres, Anies Baswedan Maju Pilpres 2019?

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj menerima buku dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kantor PBNU Jakarta, Senin (16/7/2018) malam. (Antara/PBNU - Junaidi Mahbub)
28 Juli 2018 20:05 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menegaskan siap merelakan posisi calon presiden diisi oleh tokoh lain. Lalu, jika Prabowo tidak maju di Pilpres 2019, siapa nama lain yang akan menggantikannya sebagai capres? Nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun dilontarkan oleh PKS.

Direktur Pencapresan DPP PKS, Suhud Aliyudin, mengungkapkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sempat berbicara mengenai figur lain yang akan didorong menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2019. Menurut Suhud, apabila langkah Prabowo ini benar, PKS akan mencari alternatif calon yang kuat menggantikan Prabowo sebagai capres.

Tokopedia

Salah satu alternatif yang akan diusung PKS yakni pasangan Gubernur DKI Jakarta dan mantan Gubernur Jawa Barat, Anies Baswedan-Ahmad Heryawan.

"Kalau ini betul, ini lebih mudah bagi koalisi untuk mencari alternatif-alternatif yang kuat. Karena ada beberapa figur yang kuat kita dorong, misal Pak Anies dan Pak Aher [Ahmad Heryawan]," kata Suhud dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/7/2018).

Menurut Suhud, partainya masih menunggu keputusan dari Partai Gerindra terkait nama capres dan cawapres yang akan diusung dan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Agustus 2018 mendatang. Meskipun, kata dia, saat ini Gerindra masih tetap ngotot mengusung Prabowo Subianto sebagai capres.

"Buat kami sebenarnya menyerahkan ke pihak Gerindra dan hak Pak Prabowo untuk memutuskan. Jadi siapapun yang dicalonkan, apakah Pak Prabowo maju sebagai capres atau sebagai king maker, itu tidak masalah bagi kami," ucap Suhud.

Sebelumnya, Jumat (27/7/2018) malam, Prabowo mengatakan kondisi Indonesia sudah mencapai tahap ”sakit”. Karenanya, ia mengklaim berhasrat menjadi penyelamat negara.

"Saya siap menjadi alat umat dan alat rakyat Indonesia. Tapi kalau saya tidak dibutuhkan dan ada orang lain yang lebih baik, saya siap mendukung kepentingan rakyat dan umat," kata Prabowo dalam pidatonya di acara politik GNPF Ulama, Hotel Menara Peninsula, Jumat, (27/7/2018), dilansir Suara.com.

Dalam pidatonya, ia menyinggung ekonomi Indonesia yang terus terpuruk. Selain itu, ia mempertanyakan profesionalitas Menteri BUMN Rini Soemarno. Pasalnya, ia mengklaim ada beberapa aset negara yang dijual ke pihak asing.

"Menurut pendapat saya, bangsa Indonesia sedang sakit-sakitnya. Ya sudah, lanjut yang sudah ada, lanjutlah, dibutuhkan sekarang sesuatu supaya yang besar untuk menyelamatkannya," katanya.

Prabowo lantas berjanji atas nama partainya untuk terus memperjuangkan hak-hak rakyat. Pasalnya, ia menyoroti beberapa aset negara yang dijual ke pihak asing. "Saya dan Gerindra terus berjuang untuk me mengembalikan kekayaan negara, mengembalikan aset-aset negara, dan menjaga kelangsungan hidup bangsa Indonesia,” tandasnya.

Anies Baswedan

Bukan kali ini saja PKS mewacanakan untuk mengusung Anies Baswedan sebagai capres di Pilpres 2019. Pada Juni lalu, PKS mewacanakan duet Anies Baswedan-Ahmad Heryawan (Aher) seperti dilontarkan oleh Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid. Namun saat itu, Hidayat mengakui ide tersebut belum dibahas di Majelis Syuro PKS secara formal.

“Kemungkinan gagasan soal Anies capres dari PKS akan dibahas setelah Pilkada serentak. Setelah pilkada akan terbentuk peta yang relatif baru," kata Wakil Ketua MPR tersebut, Senin (25/6/2018).

Hidayat juga menegaskan bahwa ide duet Anies-Aher bukan upaya konfrontasi terhadap gagasan duet Prabowo-Anies yang santer disebut-sebut sebelumnya. "Jadi bukan konfrontasi dari Gerindra yang mengusulkan Prabowo-Anies. Tapi tentu juga nggak dilarang kan kalau ada yang mewacanakan Anies-Aher, biasa saja, jangan dibawa perasaan," ujar Hidayat.

Namun, Anies sendiri pernah mengisyaratkan dirinya tidak akan maju di Pilpres 2019 baik sebagai capres maupun cawapres. Beberapa waktu lalu, dia mengaku memilih fokus memimpin Ibu Kota.

"Jelas tidak [maju Pilpres 2019]. Pokoknya sekarang saya di Jakarta. Insya Allah (tetap) di Jakarta," ujar Anies di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (18/7/2018), dilansir Suara.com.

Lalu, bagaimana dengan pertemuannya dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto beberapa waktu lalu? Menurut Anies, pertemuan dengan sejumlah pemimpin partai dalam beberapa pekan terakhir itu bukan untuk membahas kemungkinan maju sebagai peserta Pilpres, melainkan pembenahan Jakarta.

Anies Baswedan mencontohkan pertemuan dirinya dengan Ketua PAN Zukifli Hasan adalah untuk membahas penyegelan proyek reklamasi Teluk Jakarta. Dia juga bertemu Zulkifli Hasan karena diundang menghadiri halalbihalal Pemimpin Pusat Muhammadiyah.

“Saya dipanggil masak tak datang. Ketua MPR [Zukifli Hasan] mengundang minta kejelasan soal reklamasi, lalu halalbihalal setelah lebaran,“ tuturnya.

D

irektrur Pencapresan DPP PKS Suhud Aliyudin mengungkapkan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sempat berbicara mengenai figur lain yang akan didorong menjadi calon presiden di Pilpres 2019.


Menurut Suhud, apabila langkah Prabowo ini benar, PKS akan mencari alternatif calon yang kuat menggantikan Prabowo sebagai capres.
Salah satu alternatif yang akan diusung PKS yakni pasangan Gubernur DKI Jakarta dan mantan Gubernur Jawa Barat, Anies Baswedan-Ahmad Heryawan.
"Kalau ini betul, ini lebih mudah bagi koalisi untuk mencari alternatif-alternatif yang kuat. Karena ada beberapa figur yang kuat kita dorong, misal Pak Anies dan Pak Aher (Ahmad Heryawan)," kata Suhud dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/7/2018).
Menurut Suhud, partainya masih menunggu keputusan dari Partai Gerindra terkait nama capres dan cawapres yang akan diusung dan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Agustus 2018 mendatang.
Meskipun, kata dia, saat ini Gerindra masih tetap ngotot mengusung Prabowo Subianto sebagai capres.
"Buat kami sebenarnya menyerahkan ke pihak Gerindra dan hak Pak Prabowo untuk memutuskan. Jadi siapapun yang dicalonkan, apakah Pak Prabowo maju sebagai capres atau sebagai king maker, itu tidak masalah bagi kami," ucap Suhud.

Sumber : Suara.com, Liputan6.com, Bisnis