Politik Visual AHY

Suwarmin (Istimewa)
27 Juli 2018 23:10 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/5/2018). Esai ini karya Suwarmin, jurmalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO--AHY. Kita mafhum siapa dia. Anak mbarep Presiden kelima Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ingat, mbarep. Artinya bukan sekadar anak sulung.

Tokopedia

Dalam khazanah Jawa, mbarep adalah pengarep, wakil keluarga dalam banyak persoalan. Jadi meskipun trah SBY punya Edhie Baskoro Yudoyono (Ibas) yang lebih dulu masuk ke lingkaran politik, Ibas tetap harus menyerahkan presentasi kontestasi gelanggang politik nasional atas nama trah SBY kepada sang kakak.

Ibarat petinju, rekor pertarungan AHY di gelanggang politik adalah sekali main dan sekali kalah. Dia kali pertama bertanding di gelanggang politik pada pemilihan gubernur DKI Jakarta yang dramatis dan heboh tahun lalu.

AHY tidak sepenuhnya kalah. Partai Demokrat dan SBY melihat ada potensi besar yang melekat pada figur AHY. Ibarat taste the water, pemilihan gubernur DKI Jakarta cukup menjadi kawah candradimuka untuk mengentaskan AHY menjadi figur baru yang lebih siap.

Ketika Gatot Nurmantyo pensiun dari dinas militer dan menjadi purnawirawan dengan pangkat jenderal penuh, AHY memilih pensiun dan menjadi purnawirawan dengan pangkat mayor.

Jangan heran, sang jenderal dan sang mayor mempunyai kemungkinan menang dan kalah yang sama dalam gelanggang pemilihan umum. Saat ini pun posisi keduanya relatif sama walaupun belum tentu setara: Gatot sedang mengintip peluang untuk menjadi calon presiden, AHY sedang mengintip peluang untuk menjadi calon wakil presiden.

Jika Gatot kemungkinan akan berada di kubu lawan Joko Widodo (Jokowi), kemungkinan besar AHY akan berada di kubu Jokowi. Potensi dramatis dari perjalanan mereka pada pemilihan presiden tahun depan bisa saja terjadi.

Gatot akan dicalonkan sebagai calon presiden oleh kubu Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan mungkin Partai Amanat Nasional (PAN) sedangkan AHY akan dicalonkan sebagai wakil presiden mendampingi Jokowi oleh kubu partai pendukung Jokowi. Membutuhkan jalan berliku, tapi skenario itu bisa saja terjadi.

Meski tercatat sebagai penerima bintang Adhi Makayasa, sebuah penghargaan tahunan untuk lulusan terbaik setiap matra TNI dan kepolisian dari matra Angkatan Darat, prestasi AHY di hadapan masyaraklat sipil belum teruji.

Dalam keterangan kepada media massa di Jakarta, beberapa saat setelah AHY dipastikan maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta, SBY mengatakan AHY sempat menolak permintaan sejumlah partai politik agar dirinya maju sebagai calon gubernur.

AHY akhirnya meralat keputusannya dan publik sama-sama tahu akhirnya dia berdiri sebagai calon gubernur DKI Jakarta pada tahun lalu. AHY sebenarnya boleh dikatakan sosok yang tiba-tiba dimunculkan ke panggung politik.

Sekonyong-konyong, Partai Demokrat dan partai koalisinya pada pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2017, yakni Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan mengusulkan Agus Harimurti Yudhoyono (waktu itu belum kondang inisial AHY) sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

Saat itu dia dipasangkan dengan Sylviana Murni. Sylviana adalah Wali Kota Jakarta Pusat, birokrat karier dan seorang guru besar manajemen pendidikan. Sekilas pasangan AHY dan Sylvi kala itu terkesan avonturir, semacam petualangan.

Meski akhirnya pasangan AHY-Sylvia tidak masuk ke babak akhir pemilihan gubernur DKI Jakarta, perjalanan politik AHY justru memasuki rute baru yang kian menantang dan bisa saja mengejutkan setelah kekalahan itu.

Setelah pemilihan gubernur DKI Jakarta, kini, setahun kemudian, profil politik AHY mulai jelas. Dia terkesan cair berhubungan dengan siapa saja, tak peduli di barisan mana garis politik mereka.

AHY beberapa kali ke Istana Kepresidenan, sowan Presiden Jokowi, menemui Prabowo Subianto, mendatangi Wakil Presiden Jusuf Kalla, atau menemui Jenderal (Purn) Wiranto yang merupakan senior ayahnya di ketentaraan.

Aneh, sosok yang boleh dibilang anak kemarin sore di kancah politik itu tiba-tiba bisa menjelma dalam presensi seperti itu. Dia tetap anak muda yang bisa dengan enteng menemui Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi, di Kedai Markobar di Transmart Pabelan, Kartasura, Sukoharjo.

Mungkin semua ini –salah satunya--terjadi karena tongkrongan AHY yang ganteng dan gagah. Dalam dunia politik, wajah tampan atau ganteng, adalah blessing yang bisa dikonversi sebagai keuntungan jangka panjang.

Kita tahu, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, adalah sosok yang tampan. Sejumlah pemimpin dunia juga semakin terkenal karena ketampanan, di samping karena kemampuan.

Sebut saja mendiang John F. Kennedy atau Perdana Menteri Kanada saat ini Justin Trudeau. Modal ini pula yang membuat AHY dikerubuti warga setiap kunjungan ke berbagai daerah. Dia tahu betul bagaimana harus bersikap dan berbuat.

Impresi

Di bawah kuasa zaman visual bernama photo or selfie and share seperti saat ini, wajahnya bisa berhamburan dari telepon pintar warga hanya dalam satu sesi acara di daerah. Ingat, pada zaman online seperti sekarang ini impresi sangat menentukan hasil.

Impresi bisa diartikan sebagai jumlah keseluruhan berapa kali foto atau artikel dilihat orang. Dilihat bisa jadi diingat. Artinya model sederhana ini bisa mengerek popularitas seseorang.

Jika upaya ini konstan dilakukan, plus usaha lain untuk membangun citra  dan merawat isu terkait si tokoh, bisa mengerek elektabilitas. Saya menduga, seperti bapaknya yang kuat secara visual, AHY melakukan ini dengan kesadaran yang tinggi.

Ada yang bilang, karena belum pernah menjadi apa-apa, belum pernah menjadi bupati atau wali kota, belum pernah menjadi komandan komando distrik militer sekalipun, belum ada yang bisa secara jelas dibaca atau dikritik.

Belum ada celah untuk mengulik, misalnya, perkara korupsi yang mungkin dilakukannya. Posisinya zero. Jadilah dia seperti sekarang, ke sana kemari seolah-olah tak peduli mana kawan mana lawan.

Dia sedang menyusuri jalan terang popularitas. Saat mengunjungi pabrik Sritex di Sukoharjo, awal April lalu, AHY laksana artis di tengah karyawan Sritex. AHY adalah selebritas politik.

Dalam peta politik sekarang ini, AHY bisa  jadi tidak menjadikan posisi calon wakil presiden debagai plan A. Pasti AHY butuh kendaraan yang akan membawa dia tetap berada di baris depan pemerintahan masa depan.

Pada pesta politik tahun depan, AHY bukan yang terdepan, tetapi untuk kontestasi politik 2024, AHY salah satu yang terdepan. Jokowi pasti tinggal punya dua skenario, selesai sebagai presiden tahun depan atau pada 2024.

Para pemegang “darah biru” politik, seperti Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, putra atau putri Soeharto, atau sebutlah nama lain seperti keturunan Gus Dur atau anak Amien Rais, masih belum terlihat dengan ”sinar” yang sama cerah seperti AHY.

Tentu masa depan adalah gaib. Rencana Tuhan akan bekerja dan menentukan segalanya dalam segala masa, termasuk tahun depan atau tahun 2024. Ingat, Jokowi hanyalah calon wali kota yang malu-malu pada awal 2005, tetapi kini, 13 tahun kemudian, dia presiden dengan pamor yang jauh lebih kuat dibandingkan pada masa-masa awal dia menjadi presiden.

Artinya, selalu ada kemungkinan calon presiden baru bermunculan dan hal itu baik bagi negeri ini. Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), misalnya, atau sosok lain yang suatu saat bisa saja muncul.

Melihat dari konstelasi politik saat ini, jika sabar dan tidak grusa-grusa, jika tidakmelakukan kesalahan fatal, AHY bisa menjadi pemain menentukan dalam tahun-tahun depan.