Sebut Prabowo Bukan Muslim Taat, PKS Ingin Capres Lain?

Prabowo Subianto disaksikan Anies Baswedan, Sandiaga Uno, dan Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo menyampaikan orasi kemenangan Pilkada Jakarta, Rabu (19/4 - 2017). (Bisnis/Dedi Gunawan)
27 Juli 2018 18:13 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Rencana koalisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan Partai Gerindra pengusung Prabowo Subianto rupanya masih berpeluang berubah menjelang Pilpres 2019. PKS masih mengupayakan agar satu dari sembilan nama anggota Majelis Syuro partai itu bisa maju sebagai calon presiden alternatif (capres alternatif) atau cawapres alternatif.

Hal itu memperkuat adanya kemungkinan PKS tidak mengusung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Pasalnya, Gerindra sudah memastikan Prabowo sebagai capres, sedangkan PKS masih mendesak kadernya menjadi cawapres, bahkan membuka peluang mengusung capres yang lain.

Tokopedia

Wakil ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid menjelaskan bahwa pembahasan capres di ruang partai-partai koalisi masih berjalan sangat alot. Hidayat menilai kondisi politik masih sangat dinamis.

"Capresnya juga masih alot dibahas, kan belum selesai juga capresnya siapa cawapresnya siapa, kan belum selesai," kata Hidayat di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jumat (27/7/2018), dilansir Suara.com.

Hidayat mengungkapkan sembilan nama hasil dari keputusan Majelis Syuro PKS diajukan untuk dua opsi capres dan cawapres. Dari sembilan nama itu, tidak menutup kemungkinan satu di antaranya menjadi capres alternatif selain Prabowo.

"Kami punya sembilan masa kurang sih. Sembilan itu bisa capres dan cawapres, loh. Kalo sembilan itu dari sisi PKS ya. Kami pikir lebih dari cukup," ujarnya.

Ketika ditanyakan perihal Prabowo bukan harga mati bagi PKS, Hidayat mengaku akan membahasnya nanti. "Prabowo, ya nanti kita bahas bersama-sama," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman melontarkan pernyataan yang mengejutkan terkait Prabowo Subianto. Dia menjelaskan alasan kenapa PKS masih setia berkoalisi dengan Partai Gerindra meskipun ketua umumnya dinilai bukan sebagai muslim yang taat.

Menurut Sohibul Iman, kedekatan PKS dengan Gerindra bukan tanpa sebab. Melainkan dilandasi faktor historis dan sosiologis, di mana kelompok Islam dan nasionalis selalu beriringan membangun negeri.

"Ini semua adalah lahir dari kesadaran tadi. Kesadaran tentang takdir historis dan sosiologis Indonesia. Bahwa kelompok Islam dan nasionalis harus hand in hand. Ada saling pengertian di antara keduanya," tutur Sohibul Iman, saat memberi ceramah di acara silaturrahmi Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis (26/7/2018) malam, dilansir Suara.com.

Sohibul Iman mengaku, suatu hari ia pernah ditanya oleh Duta Besar Belanda tentang kedekatan PKS dengan Gerindra. Apakah Prabowo seorang muslim yang taat hingga PKS begitu dengan Gerindra? "Saya tegas katakan, bukan. Pak Prabowo bukan muslim yang taat, bukan muslim santri. Dia adalah muslim abangan, saya katakan," ujar Sohibul Iman.

Sumber : Suara.com