Sayuran Jadi Barang Langka di Jepang

Petani sayur di Jepang (Channelnewsasia.com)
26 Juli 2018 19:05 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, TOKYOHarga sayuran di Jepang naik hingga 65 persen akibat gelombang panas. Suhu udara yang naik hingga 41 derajat Celsius membawa petaka bagi masyarakat setempat. Cuaca panas dan minimnya curah hujan membuat para petani gagal panen.

Harga sayuran di Jepang diperkirakan bakal terus naik sampai Agustus 2018. Hal ini pun dikhawatirkan bakal berdampak buruk pada daya beli masyarakat. Dilansir Japan Times, Rabu (25/7/2018), harga kol naik hingga Rp16.000. Selain kol, harga sayuran lain seperti lobak, wortel, dan bayam juga naik sekitar 50 persen.

Kementerian Pertanian Jepang mengatakan, beberapa wilayah penghasil sayuran telah dihantam cuaca esktrem sejak pertengahan Juli 2018. Akibatnya, banyak tanaman yang rusak dan menyebabkan petani gagal panen.

Cuaca ekstrem di Jepang dengan suhu mencapai 41 derajat Celsius itu telah menewaskan 80 orang dan ribuan lainnya harus dirawat di rumah sakit. Pemerintah setempat meminta warga tetap berada di dalam ruangan untuk menghindari cuaca panas.

Pemerintah Jepang juga berencana menyubsidi sejumlah sekolah negeri untuk memasang pendingin ruangan. Mereka juga berencana memperpanjang liburan musim panas.

"Suhu tinggi terus terjadi di berbagai wilyah di Jepang. Sejumlah kebijakan darurat untuk melindungi siswa dan kesehatan masyarakat telah kami bahas," kata Kepala Sekretaris Kabinet, Yashihide Suga.

Warga Jepang juga diimbau lebih banyak mengonsumsi air putih guna menghindari dehidrasi. Pemerintah juga menyarankan warganya untuk tinggal di dalam rumah guna menghindari dampak buruk cuaca panas.