SBY Marah, Romahurmuziy: AHY Diajukan Jadi Cawapres Jokowi Itu Valid

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima kedatangan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di rumah SBY, Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (25/7 - 2018). (Antara / Aprillio Akbar)
26 Juli 2018 15:45 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pernyataan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy yang menyebut Partai Demokrat batal bergabung dengan koalisi Joko Widodo (Jokowi) karena penawarannya ditolak, dibantah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketua Umum Partai Demokrat itu memberikan perigatan keras kepada Rommy atas pernyataannya.

Rommy mengklaim, Demokrat menawarkan putra sulung SBY, yakni Agus Harimurti Yudhoyono menjadi calon wakil presiden untuk Jokowi. Tawaran itulah yang ditolak partai-partai koalisi Jokowi.

“Kalau Anda cermati pernyataan Bung Rommy, bahwa Demokrat dan SBY batal berkoalisi karena tawaran agar AHY [Agus Harimurti Yudhoyono] sebagai cawapres Jokowi ditolak, itu salah!” tegas SBY di kediamannya di Jalan Mega Kuningan Timur VII, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/7/2018), dilansir Suara.com.

SBY berharap agar Rommy hati-hati dalam berbicara, karena sebagai pemimpin partai tak elok memberikan pernyataan tanpa dasar kuat. “Saya harap Bung Romi berhati-hati dalam berbicara, karena tidak baik bagi pemimpin ataupun politikus mengeluarkan pernyataan tanpa dasar yang kuat,” jelasnya.

Namun, Romahurmuziy memastikan informasi tentang SBY yang mengajukan AHY sebagai calon wakil presiden kepada Joko Widodo merupakan informasi A1 atau terpercaya. "Saya tidak menyampaikan info sembarangan tentang diajukannya AHY sebagai cawapres kepada Pak Jokowi. Informasi tersebut berkategori A1," kata Rommy, sapaan akrab Romahurmuziy, di Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Menurut dia, pengajuan AHY sebagai cawapres adalah hal yang wajar dan tidak merupakan keinginan yang berlebihan. Rommmy mengatakan hal itu juga bukan hal yang rahasia, sebagaimana partai lain dalam koalisi Jokowi yang juga mengajukan nama-nama yang diinginkan.

"Ketika PPP ditanya soal cawapres, kami juga menyampaikan nama. Hanya bedanya, yang disampaikan PPP ada sejumlah nama dan statusnya untuk dibahas atau didiskusikan, bukan merupakan target tunggal," kata Rommy.

"Nah, apakah itu yang dimaksud SBY sebagai 'hambatan dan rintangan', ketika diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta, saya menjawab 'mungkin saja'," tambah Rommy.

Menurut Rommy, cara mengajukan nama cawapres yang berbeda-beda antara satu partai dengan lainnya itu hanya soal cara berkomunikasi.

"Ada yang terang-terangan menyebut cawapres, ada yang setiap bertemu mengingatkan hasil survei yang tinggi, ada yang menggunakan 'interest group' untuk menyampaikan, atau ada cara lain lagi. Silakan saja, ini kan kontestasi," ujarnya.

Rommy mengaku menerima informasi ada sejumlah pertemuan Jokowi dan SBY tahun ini. Pertemuan terakhir SBY terjadi pada Ramadan lalu. "Juga sudah menyepakati pos kabinet untuk AHY sebagai bagian dari rencana koalisi. Namun, jika hari-hari ini SBY berubah, itu juga tidak diharamkan dalam politik karena politik itu dinamis," katanya.

Sumber : Suara.com, Antara