SBY Sambat Hubungannya dengan Megawati, PDIP: Itu Keluhan Musiman

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima kedatangan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di rumah SBY, Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (25/7 - 2018). (Antara / Aprillio Akbar)
26 Juli 2018 14:59 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui hubungannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri belum pulih selama 10 tahun terakhir. Pernyataan itu menegaskan ucapannya sebelumnya bahwa ada rintangan untuk bergabung dengan koalisi Joko Widodo (Jokowi).

Pernyataan itu pun memancing reaksi dari kubu PDIP. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, angkat bicara atas pernyataan SBY soal hubungannya dengan Megawati itu. Menurutnya SBY selalu menyampaikan keluh kesahnya setiap menjelang pemilu.

"Monggo silakan lihat dalam jejak digital maupun media cetak, bahwa menjelang pemilu pasti Pak SBY selalu menyampaikan keluhannya tentang Ibu Megawati. Padahal Ibu Megawati baik-baik saja. Selama ini beliau diam, karena beliau percaya terhadap nilai-nilai satyam eva jayate, bahwa pada akhirnya kebenaranlah yang akan menang," kata Hasto melalui keterangan tertulisnya, Kamis (26/7/2018), dilansir Suara.com.

Hasto menyebut "keluhan musiman" SBY terjadi lantaran arah politiknya hanya untuk anak sulungnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sedangkan arah politik Megawati lebih luas ketimbang SBY.

"Keluhan musiman Pak SBY tersebut terjadi karena sebagai seorang bapak tentu mengharapkan yang terbaik bagi anaknya mas AHY. Seluruh pergerakan politik Pak SBY adalah untuk anaknya, sementara Ibu Megawati jauh lebih luas dari itu. Ibu Mega selalu bicara untuk PDI Perjuangan, untuk Pak Jokowi, untuk rakyat, bangsa dan negara. Sementara Pak SBY selalu saja mengeluhkan hubungan itu," jelasnya.

Hasto mengingatkan apa yang terjadi menjelang pilpres tahun 2004. Dirinya menyebut saat itu SBY menyatakan diri sebagai orang yang dizolimi. "Secara psikologis, seharusnya yang menzalimi itu kan yang merasa bersalah, tetapi kenapa ya Pak SBY justru nampak sebagai pihak yang merasa bersalah dan selalu menuduhkan hal yang kurang pas tentang Ibu Mega," tutur Hasto.

Hasto pun menceritakan sebuah momen menjelang Pilpres 2014. Ketika itu, ada salah satu ketua umum partai yang mendesak Megawati agar bertemu SBY guna memastikan kemenangan Pak Jokowi.

"Ibu Megawati menegaskan bahwa Pak Jokowi akan menang karena dukungan rakyat. Sekiranya pertemuan saya dengan Pak SBY dianggap sebagai faktor utama kemenangan Pak Jokowi, maka kasihan rakyat yang telah berjuang. Banyak rakyat kecil yang iuran Rp20.000-Rp50.000-an untuk Pak Jokowi. Masak dukungan rakyat yang begitu besar untuk kemenangan Pak Jokowi kemudian dinihilkan hanya karena pertemuan saya," tutur Hasto lagi.

Hasto menambahkan, gagal tidaknya koalisi Demokrat lebih karena kalkulasi yang rumit yang dilakukan SBY yang hanya fokus dengan masa depan anaknya, AHY.

"Jadi sebaiknya pemimpin itu bijak, kalau tidak bisa berkoalisi dengan Pak Jokowi karena sikapnya yang selalu ragu-ragu ya, sebaiknya introspeksi dan jangan bawa nama Ibu Mega seolah sebagai penghalang koalisi tersebut. Sekiranya Pak SBY mendorong kepemimpinan mas AHY secara alamiah terlebih dahulu, mungkin sejarah bicara lain," tandas Hasto Kristiyanto.

Sebelum pernyataan terakhir tersebut, SBY juga menyebut ada hambatan untuk menuju koalisi Jokowi. Padahal, kata SBY, Jokowi sendiri menginginkan Demokrat bergabung ke koalisi pemerintah.

"Saya berkomunikasi dengan Pak Jokowi sudah satu tahun, untuk menjajaki kemungkinan koalisi. Pak Jokowi berharap kami ada di dalam," kata SBY dalam konferensi pers bersama Prabowo Subianto seusai pertemuan di rumahnya, Selasa (24/7/2018) malam.

Namun, kata SBY, dirinya dan Demokrat menemui rintangan untuk masuk ke koalisi itu. Namun, SBY enggan menyebutkan rintangan yang dia maksudkan itu. "Kami menyadari ada rintangan dan hambatan menuju koalisi itu, tidak perlu saya sampaikan secara detail," ungkap SBY.