Calhaj DIY Bawa Rp300 Juta di Koper

Petugas melambaikan tangan sebagai simbol perpisahan ke arah pesawat yang ditumpangi jemaah calon haji. (Solopos/M. Ferri Setiawan)
26 Juli 2018 11:15 WIB Muhammad Ismail Nasional Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Seorang calon haji (calhaj) kelompok terbang (kloter) 29 Embarkasi Solo asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diketahui membawa uang senilai Rp300 juta dalam koper.

Calhaj tersebut langsung diminta untuk mengeluarkan uang tersebut dan menyimpannya di tempat yang aman karena calhaj tak boleh membawa uang dalam jumlah besar ke Tanah Suci.

Hal itu diketahui saat petugas dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo, Gumsoni Yasin, memberikan sosialisasi kepada jemaah calhaj asal Sleman dan Gunungkidul, DIY, yang baru tiba di Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, Selasa (24/7/2018).

Setelah para calhaj beristirahat sejenak, Gumsoni mengambil pengeras suara untuk memulai sosialisasi berkaitan dengan barang bawaan. Calhaj  meskipun tampak lelah setelah menempuh perjalanan dari Yogyakarta ke Boyolali tetap mendengarkan apa yang dikatakan Gumsoni.

Dalam sosialisasi itu, Gumsoni menegaskan calhaj dilarang membawa rokok lebih dari 10 bungkus. Selain itu, dilarang membawa uang tunai dalam jumlah besar. Sesuai aturan Kementerian Agama (Kemenag), uang tunai yang boleh dibawa maksimal Rp100 juta.

Selain itu, dilarang membawa benda tajam dan alat-alat memasak. Petugas PPIH akan menggeledah koper milik calhaj satu per satu. Tak terasa waktu sosialisasi selama 30 menit yang diberikan panitia cepat berlalu.

Ia kaget setelah sosialisasi didatangi calhaj asal Sleman yang memberi tahu dirinya membawa uang tunai banyak. Gumsoni tidak percaya perkataan calhaj asal Sleman itu begitu saja.

Ia pun kembali menanyakan berapa uang tunai yang dibawa. Calhaj asal Sleman berusia sekitar 66 tahun itu akhirnya berkata jujur mengaku membawa uang tunai senilai Rp300 juta.

Ia membawa calhaj itu ke kantor Sekretariat PPIH Embarkasi Solo di lantai I. Di dalam kantor sekretariat itu, ada Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) Yogyakarta dan Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) Sleman untuk menjadi saksi pembongkaran uang di koper calhaj. Atas kesepakatan bersama uang di dalam koper itu dibongkar.

“Saya kurang hafal nama calhaj asal Sleman yang membawa uang tunai Rp300 juta itu. Semua uang dalam bentuk nominal rupiah. Semua proses penanganan uang selanjutnya ditangani PPIH Embarkasi Solo,” ujar Gumsoni saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (25/7/2018)

Kasubbag Humas PPIH Asrama Haji Donohudan Boyolali, Afief Mundzir, mengungkapkan PPIH mengimbau calhaj mematuhi semua larangan dari Kemenag. Hal ini sangat penting karena PPIH Embarkasi Solo pada Selasa malam menerima laporan dari calhaj membawa uang tunai senilai Rp300 juta di dalam koper.

“Untung saja uang itu bisa terdeteksi di Embarkasi Solo sehingga bisa diamankan tidak sampai hilang. Kami langsung menyarankan agar uang itu disimpan di tempat lebih aman seperti bank,” ujar Afief saat ditemui Solopos.com di Asrama Haji Donohudan.

Afief mengatakan menurut penjelasan calhaj  itu, uang tunai senilai Rp300 juta yang dibawa merupakan titipan dari badal haji atau haji amanat. Makna haji amanat adalah ibadah haji yang dilaksanakan seseorang atas nama orang lain yang telah memiliki kewajiban untuk menunaikan ibadah haji, namun karena alasan tertentu, orang yang bersangkutan uzur (berhalangan) atau meninggal dunia, sehingga tidak dapat melaksanakannya sendiri, maka pelaksanaan ibadah tersebut diwakilkan kepada orang lain.

“Kalau memang tujuan uang itu untuk haji amanat pembayarannya di Arab Saudi. Istilahnya kuli butuh upah ternyata diberikan dalam bentuk cash. Kami akhirnya mentransfer uang ini dari Indonesia ke Arab Saudi ke calhaj itu,” kata dia.

PPIH Embarkasi Solo, lanjut dia, akan memperketat lagi pengawasan barang bawaan milik calhaj saat masuk ke asrama. Hal ini sangat penting agar tidak ada lagi calhaj yang membawa barang terlarang sesuai ketentuan Kemenag. Ditanya mengenai nama calhaj yang bawa uang itu, Afief mengaku tidak tahu.

Ia menjelaskan sampai 25 Juli sudah ada dua calhaj meninggal dunia. Kedua calhaj itu yakni Sunarto Sueb Sahad, 57, dari kloter 15 Brebes dan Siti Aminah Rasyip, 57, dari kloter 5 Batang. Keduanya meninggal karena sakit jantung saat berada di pemondokan di Madinah.