Golkar Pernah Bujuk Demokrat Gabung Jokowi, Tapi Tak Sepakat Soal Penawaran

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, berdialog dengan petani di Klaten, Sabtu (7/4 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
25 Juli 2018 17:01 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Keputusan Partai Demokrat merapat ke kubu koalisi pendukung Prabowo Subianto akhirnya terungkap pasca pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo. Sebelumnya, Demokrat juga sudah pernah berkomunikasi dengan parpol anggota koalisi pendukung Joko Widodo (Jokowi).

Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, mengatakan partainya pernah mencoba beberapa kali berkomunikasi dengan Partai Demokrat agar bersama-sama berkoalisi di dalam pemerintahan, namun tidak berhasil. Menurutnya, ada tawaran Demokrat yang membuat rencana koalisi itu tak terlaksana.

"Karena Demokrat memiliki tawaran, tentu kami hormati. Buat kami, Gerindra dan Demokrat berkoalisi tentu harus kita hormati pilihan dan langkah politik tersebut," kata Ace di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Ace tidak merinci tawaran apa yang disampaikan Partai Demokrat kepada koalisi Jokowi yang pada akhirnya membuat parpol pimpinan SBY itu tidak jadi bergabung dalam koalisi Jokowi. Dia mengatakan semakin cepat partai lain mendeklarasikan dukungan pasangan di Pilpres 2019, maka semakin bagus.

"Karena teka-teki soal konfigurasi Pilpres 2019 semakin terlihat, sehingga langkah-langkah politik kami pun ke depan akan semakin kuat menghadapi pilpres 2019," ujarnya.

Dia menegaskan enam parpol koalisi pendukung Jokowi sangat solid karena itu mereka tinggal melihat manuver apa yang akan dilakukan partai lain di luar koalisi. Ace menilai tidak mudah bagi Demokrat dan Gerindra menentukan pasangan yang tepat, karena masing-masing di antara parpol tersebut menawarkan kadernya.

"Misalnya, Gerindra mengusung Prabowo dan Demokrat mengusung AHY sebagai cawapres. Tentu pertanyaannya bagaimana dengan PKS, karena selama ini PKS selalu konsisten ingin mendorong kadernya untuk menjadi cawapres Prabowo," katanya.

Sebelumnya, SBY dan Prabowo Subianto mengadakan pertemuan di rumah SBY, di Kuningan, Jakarta, Selasa (24/7/2018) malam. SBY mengatakan jalan koalisi antara partainya dengan Gerindra terbuka lebar terutama setelah dirinya dan Prabowo sepakat atas apa yang menjadi persoalan bangsa lima tahun ke depan.

SBY mengatakan masalah koalisi akan dibahas secara lebih mendalam melalui pertemuan berikutnya. "Saya dan Pak Prabowo juga punya pandangan sama bahwa syarat koalisi sebetulnya tersedia. Koalisi efektif dan kokoh harus berangkat dari niat baik, good will," katanya.

SBY mengatakan syarat koalisi juga harus saling menghormati, saling percaya, dan harus memiliki chemistry yang baik. "Kalau syarat ini terpenuhi, di samping ada kesamaan visi-misi dan pemahaman tentang persoalan rakyat, saya yakin jalan terbuka dengan baik," katanya.

SBY juga menyiratkan partainya menutup pintu koalisi dengan Presiden Joko Widodo karena banyak rintangan menuju kesepahaman. Meskipun dia juga mengakui Jokowi juga berharap Demokrat bergabung ke koalisi pendukung pemerintah.

"Saya menjalin komunikasi dengan Pak Jokowi hampir setahun untuk juga menjajaki kemungkinan kebersamaan dalam pemerintahan. Pak Jokowi juga berharap Demokrat bisa di dalam pemerintahan, tetapi saya sadari banyak sekali rintangan dan hambatan menuju koalisi itu," kata SBY.

SBY merasa tidak perlu menyampaikan secara detail soal rintangan dan hambatan itu. Namun, secara garis besar dia menyampaikan bahwa koalisi dapat terbangun jika ada iklim yang baik, kepercayaan bersama dan saling menghormati.

Sumber : Antara