Area CFD di Solo Baru

Amrih Rahayu (Istimewa)
24 Juli 2018 02:00 WIB Amrih Rahayu (penulis) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/7/2018). Esai ini karya Amrih Rahayu, warga Kabupaten Sukoharjo. Alamat e-mail penulis adalah amrihrahayu@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Banyak pemerintah daerah saat menyediakan ruang publik  untuk masyarakat, di antaranya membangun sejumlah taman kota yang menjadi jujugan masyarakat untuk melepaskan penat.

Hampir di semua kabupaten/kota ada area car free day (CFD)atau area khusus hari bebas dari kendaraan bermotor. Jamaknyasetiap Minggu pagi, pukul 05.00 WIB-09.00 WIB. Di wilayah Soloraya ada area CFD Jl. Slamet Riyadi, Solo, yang paling populer.

Di Klaten area CFD berada di Jl. Pemuda. Di Karanganyar area CFD berada di Jl. Lawu. Di Sukoharjo area CFD berada di Jl. Veteran. Area khusus hari bebas dari kendaraan bermotor ini merupakan salah satu alternatif pariwisata murah untuk semua lapisan masyarakat.

Area CFD juga menjadi ruang berekspresi masyarakat. Di wilayah Soloraya denyut dinamika kegiatan masyarakat yang paling kentara adalah di area CFD Jl. Slamet Riyadi, Kota Solo. Beragam kegiatan dilakukan di sepanjang jalan utama Kota Solo tersebut.

Ada kegiatan olahraga yang dilakukan oleh komunitas maupun pribadi. Ada pula kegiatan yang dilakukan oleh aktivis lingkungan, sukarelawan aneka sektor, lembaga, atau institusi.

Untuk mendapatkan massa  yang cukup besar, area CFD menjadi salah satu jujugan para penyelenggara aneka kegiatan. Tak perlu mengundang. Masyarakat biasanya sangat antusias mengikuti aneka kegiatan apalagi jika gratis. Sebut saja kegiatan membaca, pemeriksaan darah, olahraga, dan lainnya.

Beragamnya kegiatan tersebut menjadi jujugan masyarakat untuk menghabiskan Minggu pagi di area CFD. Pilihan kuliner juga cukup beragam di sana. Harga yang terjangkau serta kemudahan akses mendapatkan makanan dan minuman menjadi magnet tersendiri.

Menurut Paguyuban Gawe Rejo tercatat ada 1.053 lebih pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di area CFD Jl. Slamet Riyadi, Solo. Selain itu, masih banyak PKL yang belum terdaftar di paguyuban tersebut. (solopos.com, 9 April 2018).

Dari kalangan PKL saja ada 1.053 orang di area CFD setiap Minggu. Belum lagi jika mereka saat berjualan dibantu saudara atau asisten.  Ditambah para pengunjung area CFD yang rutin berolahraga, betapa banyakanya manusia yang berkumpul di sana.

Are CFD di Kota Solo cenderung sangat padat, bahkan untuk sekadar mengayuh sepeda saja sulit saking banyaknya pengunjung dan beragam aktivitas yang digelar di sana. Hal itu berbeda dengan area CFD di ibu kota Kabupaten Sukoharjo.

Di sana kegiatan yang dilakukan masyarakat masih sedikit. Anak-anak bisa bermain sepeda atau sekadar menggerakkan kaki di sepatu roda. Area CFD di sana lebih layak disebuti pasar Minggu pagi.

Aneka lapak kuliner maupun barang kebutuhan rumah tangga ada di sana. Saya berharap alangkah menyenangkan apabila Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga membuat area CFD di kawasan Solo Baru, yakni di Jl. Soekarno-Hatta.

Area CFD tersebut nantinya bisa menjadi alternatif masyarakat di perbatasan ”Solo coret” dan Sukoharjo bagian utara. Mereka tak perlu jauh-jauh ke Solo atau harus menguras energi ke ibu kota Kabupaten Sukoharjo.

Lokasi Strategis

Seandainya dipilih menjadi lokasi area CFD, saya pikir setidaknya Solo Baru cukup layak. Sepanjang Jl. Soekarno-Hatta dari Patung Sukarno di Tanjung Anom hingga bundaran Pandawa merupakan lokasi strategis. Di simpang empat The Park sudah terbentu embrio-nya.

Pasar Minggu Solo Baru juga sudah dipindah di seputaran kawasan tersebut. Setiap Minggu di depan Hartono Trade Center ada komunitas senam pagi yang kebanyakan diikuti oleh kaum Hawa. Di The Park ada senam pagi yang diselenggarakan oleh Lotte Mart.

Masyarakat juga banyak yang memanfaatkan kompleks mal yang luas dan rindang ini untuk berolahraga lainnya. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo tinggal menata, tetapi untuk mewujudkannya tentu tidak semudah membalik telapak tangan.

Banyak hal yang harus dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. Tentu harus didukung masyarakat, terutama warga di seputaran  Solo Baru. Pertama, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo harus melakukan mengalihkan lalu lintas di sepanjang tersebut.

Namanya juga hari bebas dari kendaraan bermotor maka Jl. Soekarno–Hatta harus steril dari kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor dialihkan ke jalur alternatif. Dari arah Wonogiri kendaraan bisa mulai belok setelah Jembatan Bacem, tepatnya ke selatan arah Jl. Langenharjo.

Selanjutnya, kendaraan bisa ke arah Gentan, Baki, atau ke arah Bundaran Patung Sukarno, Tanjung Anom. Dari Solo kendaraan yang akan melintas ke arah Jl Soekarno-Hatta bisa dibelokkan  ke arah timur ke Jl. Wahid Hasyim, Joyotakan, Pasar Kliwon, Solo, kemudian kendaraan diarahkan ke jalan raya Solo-Wonogiri, Grogol.

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo sebaiknya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo karena urusan lalu lintas di kawasan itu mencakup dua daerah. Selain persiapan jalur, tentu yang tidak kalah penting adalah persiapan sumber daya manusia, terutama personel urusan perhubungan yang akan bertugas.

Pada hari yang sama mereka juga yang bertugas di area CFD Sukoharjo. Apabila semua dilakukan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, bisa dipastikan personel akan sangat kurang. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo bisa memberdayakan masyarakat atau para sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas).

Apabila benar-benar dibuka area CFD di Solo Baru, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga harus mempertimbangkan tamu yang menginap di Fave Hotel Solo Baru, apalagi lokasinya tepat berada di perempatan The Park.

Solusinya perempatan tersebut tidak ditutup secara penuh. Masih bisa untuk lalu lalang kendaraan bermotor. Di area CFD Jl Slamet Riyadi, Solo, tepatnya di perempatan Gendengan, masih berlaku buka tutup.

Kedua, kantong-kantong parkir juga perlu dipertimbangkan. Di antaranya di seputaran bundaran Patung Pandawa, Patung Soekarno di Tanjung Anom, dan kawasan The Park.

Kantong parkir di landmark Solo Baru, bundaran Patung Pandawa  dan Patung Soekarno, pemerintah bisa memberdayakan masyarakat sekitar seperti karang taruna. Aturlah sedemikian rupa agar tidak terjadi gesekan-gesekan. Kantong parkir tersebut selain menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar juga tentu saja bisa menambah pendapatan asli daerah.

Ketiga, mengatur PKL. Ini harus dilakukan agar masyarakat tetap bisa memanfaatkan ruang publik tanpa tergusur oleh para PKL. Perlu pengaturan yang jelas, tertulis, serta ada sanksi yang jelas.

Misalnya, di sepanjang jalan dan trotoar harus bebas dari para PKL. Mereka bisa berjualan di tempat parkir rumah toko yang ada  di kawasan Solo Baru atau berada di depan teras rumah warga.

Keempat, yang tidak kalah penting adalah mengatur dinamika area CFD itu sendiri. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo bisa menggandeng kelompok seni  untuk unjuk kebolehan di depan masyarakat. Dalam hal ini instasi urusan pariwisata dan pemerintah kecamatan harus aktif menggerakkan kelompok seni di wilayahnya.

Sesekali Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga bisa mengadakan pameran potensi daerah, tetapi harus sesuaikan dengan kelompoknya agar berkesinambungan. Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil  Menengah (UKM) punya andil besar untuk kegiatan ini.

Misalnya, pada pekan pertama adalah  usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) gitar dari Desa Ngrembo dan Mancasan, Kecamatan Baki. Pekan kedua UMKM rotan dari Trangsang. Lalu pekan ketiga aneka mainan anak, produk kuliner khas Sukoharjo, garmen, dan lain sebagainya.

Saya membayangkan, apabila area CFD di Solo Baru ini terealisasi akan menjadi salah satu ruang publik yang sangat dinanti masyarakat.  Gagasan ini tinggal mimpi apabila tidak bisa direalisasikan. Sebuah mimpi indah yang menunggu tangan-tangan kuasa di Pemerintah Kabupaten Sukoharjo untuk mewujudkannya.