Batal ke Jokowi, SBY Bawa Demokrat Gabung Koalisi Prabowo

Pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto. (Bisnis / Jaffry Prabu Prakoso)
24 Juli 2018 22:17 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Partai Demokrat akhirnya dipastikan merapat ke koalisi pendukung Prabowo Subianto bersama Partai Gerindra dan PKS. Isyarat itu ditegaskan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pertemuan dengan Prabowo di Kuningan, Jakarta, Selasa (24/7/2018) malam.

Dalam pernyataannya setelah pertemuan yang berlangsung selama 1,5 jam tersebut, SBY menyebutkan apa yang dibahas oleh keduanya. SBY menyebutkan ada 3 hal yang dibahas, di antaranya komitmen bersama agar Pemilu 2019 berlangsung damai, jujur, dan adil.

"Yang kedua, kami juga mendiskusikan perkembangan situasi nasional terutama yang dihadapi dan dialami rakyat kita rakyat Indonesia. Ketiga, atas dasar 1 dan 2, kami membahas kemungkinan membangun koalisi Gerindra dan Demokrat dan partai lain dalam Pilpres 2019 mendatang," kata SBY dalam konferensi pers bersama Prabowo seusai pertemuan yang ditayangkan live oleh Kompas TV.

SBY membeberkan panjang lebar latar belakang keputusannya soal koalisi Partai Demokrat dengan Gerindra. Dia membeberkan 5 masalah nasional yang menurutnya terjadi saat ini.

Masalah pertama adalah kesejahteraan rakyat, mulai petumbuhan ekonomi, lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, keseimbangan pembangunan manusia dan infrastruktur, pelemahan rupiah, kondisi fiskal, beban APBN, dan kebijakan pajak.

"Kedua, hukum dan keadilan. Harapan rakyat adalah penegakan hukum dan korupsi tidak tebang pilih, dan tidak ada intervensi. Ketiga, politik dan demokrasi: kita berharap implementasi konsititusi, pentingnya check and balances, termasuk independensi masing-masing lembaga negara, kebebasan berbicara, termasuk kebebasan pers, netralitas negara dan aparat dalam pemilu," kata SBY.

Yang keempat, kata SBY, dia dan Prabowo sepakat pentingnya menjaga persatuan kerukuran nasional dan sikap anti radikalisme. SBY dan Prabowo sependapat negara tidak boleh membiarkan ekstrimisme menguasai negera ini.

"Namun Gerindra dan Demokrat menolak Islamophobia dan sikap mencap kelompok radikal," ujarnya.

Kelima, kata SBY, mereka meminta komitmen mereka terhadap Pancasila dan UUD 1945 tidak diragukan. Dia menyatakan menolak ideologi lain seperti komunisme dan upaya mendirikan negara agama karena bertentangan dengan Pancasila.

"Dengan memahami 5 isu itu, kami sepakat bahwa kelima isu strategis tadi harus jadi bagian utama dari visi misi pemerintah 5 tahun mendatang. Ke depan kami memiliki
pemikiran bahwa puncak pimpinan negara harus cakap, pemerintah harus efektif untuk menjawab kebutuhan rakyat," kata SBY.

Menurutnya, masalah ekonomi saat ini harus ditangani oleh pemimpin yang cakap dan efektif karena masalah internasional makin berkembang. "Seperti perang dagang, menguatnya dolar AS, dan menguatnya emerging market. Itu penting."

"Dengan itu semua, bagian ketiga kami bahas secara mendalam kemungkinan terbangunnya koalisi Gerindra, Demokrat, dan partai-partai lain untuk Pilpres 2019."