Tambah Pengalaman Internasional Saat Liburan di PSP Universitas Petra

Peserta PSP dalam ICA Universitas Petra saat membuat dessert (Istimewa)
24 Juli 2018 08:33 WIB Septina Arifiani Nasional Share :

Solopos.com, SURABAYA – Berlibur tetapi tetap produktif? Tentu bisa. Hal ini yang dilakukan oleh Universitas Kristen Petra (UK Petra) dengan menggelar Petra Summer Program (PSP). Yopi Yusuf Tanoto selaku Ketua Panitia PSP 2018 menjelaskan PSP adalah program untuk meningkatkan kemampuan dalam dunia kerja.

“PSP merupakan sebuah international summer program selama tiga minggu penuh untuk mengisi liburan dalam rangka meningkatkan kemampuan global agar siap terjun dalam dunia kerja yang sesungguhnya dengan cara yang menyenangkan,” urai Yopi.

Tokopedia

PSP digelar mulai 9-27 Juli 2018 di berbagai lokasi mulai di kampus UK Petra, industri-industri di Surabaya hingga mengunjungi beberapa daerah di Indonesia seperti Bali.

Menggunakan pengantar bahasa Inggris, peserta PSP 2018 yang berjumlah 46 peserta terdiri dari 41 mahasiswa UK Petra, 1 mahasiswa Hong Kong Baptist University-Hong Kong dan 4 mahasiswa International Christian University-Jepang. Para mahasiswa nantinya akan memperluas dan menambah pengetahuan mengenai Indonesia baik industri pariwisata, komunikasi budaya, hingga industri kulinernya.

Tiga program yang ditawarkan PSP 2018 kali ini yaitu Indonesian Culinary Art (ICA) oleh Program Studi Manajemen Perhotelan UK Petra, Indonesian Tourism Campaign (ITC) oleh Program Studi Ilmu Komunikasi dan Manajemen Kepariwisataan UK Petra dan program Special Program for Industrial Challenge and Exposure (SPICE) oleh Program Studi Teknik Industri UK Petra. Pembelajaran para peserta hingga ke Bali karena telah menjadi destinasi pariwisata termasyur dunia termasuk dunia kulinernya.

Pada Senin (23/7/2018), para peserta program ICA mulai pukul 09.00 WIB di Lab F&B UK Petra diajak mengenal sekaligus memasak makanan peranakan di antaranya lontong Cap Gomeh, cantik manis, apem hingga kolak. Sebelumnya mereka telah mengenal dan mencoba membuat bumbu dasar merah, putih hingga kuning.

“Karena mereka berada di Surabaya yang multi etnis, maka mereka akan belajar seni masakan peranakan. Sangat menarik ketika belajar kuliner Indonesia ini ternyata bumbu dan rempah-rempahnya sangat bervariasi bahkan teknik memasaknya pun berbeda dibanding di Barat,” urai Hanjaya Siaputra, selaku koordinator ICA.

Lain halnya yang dilakukan para mahasiswa yang mengikuti program ITC. Peserta yang berjumlah 13 mahasiswa ini diajak mengunjungi desa wisata di Indonesia lalu proyek akhirnya membuat video kampanye wisata berdurasi kurang lebih lima menit. Selama tiga hari mulai 18-20 Juli 2018, peserta berada di desa Pinge-Bali untuk mengumpulkan data. Kemudian selama tiga hari mulai 23-25 Juli 2018 pukul 09.00 WIB para peserta membuat proyek video di lab TV Gedung Kuntjara Sasmita lantai 2 kampus UK Petra.

“Kami memilih desa yang menerapkan Sustainability Tourism (Desa Wisata). Dibagi menjadi tiga kelompok dengan angle yang berbeda yaitu overview Desa Pinge, Kegiatan sehari-hari masyarakat dan kepercayaan masyarakat disana”, ungkap Daniel Budiana dan Yudianto Oentario, selaku koordinator ITC.

Sedangkan peserta SPICE yang 12 orang mahasiswa ini telah melakukan pengamatan ke perusahaan-perusahaan. Mereka diminta memberikan usulan perbaikan ke perusahaan. Jadi mereka belajar langsung dari industri secara langsung sehingga siap dalam dunia kerja.

Kegiatan ini mendukung strategi internasionalisasi di perguruan tinggi. Para mahasiswa dapat menambah pengalaman internasionalisasi meski dilakukan di dalam negeri dengan atau tanpa mahasiswa asing karena menggunakan standar internasional. Kegiatan ini melibatkan tak hanya dosen UK Petra saja akan tetapi juga dosen asing di UK Petra hingga narasumber asing dari industri yang ada di Surabaya dan Bali.