KPK Selidiki Peran Inneke Koesherawati Soal Mobil untuk Kepala LP Sukamiskin

Inneke Koesherawati seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (21/7 - 2018). (Antara / Rivan Awal Lingga)
23 Juli 2018 17:44 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami peran artis Inneke Koesherawati dalam pembelian mobil kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin Bandung Wahid Husein.

Inneke merupakan istri narapidana kasus korupsi Fahmi Darmawansyah yang kembali ditetapkan sebagai tersangka suap bersama Wahid Husein dan dua orang lainnya. Suap itu dilakukan untuk mendapatkan fasilitas, pemberian perizinan, ataupun pemberian lainnya di LP Klas 1 Sukamiskin Bandung.

"Untuk Inneke, masih menjadi saksi sampai saat ini sejauh mana perannya dalam pemesanan mobil nanti akan didalami," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Senin.

Selain Fahmi dan Wahid, KPK juga telah menetapkan Hendry Saputra yang merupakan staf Wahid Husein, dan Andri Rahmat sebagai tersangka dalam kasus itu. Keduanya merupakan narapidana kasus pidana umum/tahanan pendamping (tamping) dari Fahmi Darmawansyah.

KPK pun merencanakan pemanggilan terhadap saksi-saksi dalam penyidikan kasus tersebut. "Saksi-saksi yang relevan tentu kami panggil nanti baik dari unsur pejabat atau pegawai Lapas, narapidana atau pihak lain yang terkait," ucap Febri.

Dalam kasus suap di LP Sukamiskin, pihak penerima adalah Wahid Husein dan Hendry Saputra. Sedangkan diduga sebagai pemberi yakni Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat.

KPK menduga Wahid Husein menerima pemberian berupa uang dan dua mobil terkait jabatannya sebagai Kepala LP Sukamiskin sejak Maret 2018. Suap itu terkait pemberian fasilitas, izin, luar biasa, dan lainnya yang tidak seharusnya kepada narapidana tertentu.

"Diduga pemberian dari FD tersebut terkait fasilitas sel atau kamar yang dinikmati oleh FD dan kemudahan baginya untuk dapat keluar masuk tahanan," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif saat konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (21/7/2018) malam.

Penerimaan-penerimaan tersebut, kata Syarif, diduga dibantu dan diperantarai oleh orang dekat keduanya, yakni Hendry Saputra dan Andri Rahmat. Dalam operasi tangkap tangan (OTT) itu, KPK menyita sejumlah barang bukti yang diduga terkait tindak pidana, yaitu dua unit mobil masing-masing satu unit Mitsubishi Triton Exceed warna hitam dan satu unit Mitsubishi Pajero Sport Dakkar warna hitam.

Kemudian, kata dia, uang total Rp279.920.000 dan 1.410 dolar AS, catatan penerimaan uang, dan dokumen terkait pembelian dan pengiriman mobil. Dalam konferensi pers itu, KPK juga menampilkan video yang menunjukkan salah satu sel atau kamar di LP Sukamiskin yang dihuni Fahmi Darmawansyah.

Dalam kamar Fahmi terlihat berbagai fasilitas laiknya di apartemen seperti pendingin udara (AC), televisi, rak buku, lemari, wastafel, kamar mandi lengkap dengan toilet duduk dan water heater, kulkas, dan spring bed.

Sebelumnya, Fahmi yang merupakan Direktur PT Merial Esa telah dieksekusi ke Lapas Sukamiskin pada 31 Mei 2017 lalu. Berdasarkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Fahmi divonis dua tahun delapan bulan penjara ditambah denda Rp150 juta subsider tiga bulan kurungan. Fahmi terbukti menyuap empat orang pejabat Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI senilai 309.500 dolar Singapura, 88.500 dolar AS, 10 ribu euro, dan Rp120 juta.

Sumber : Antara